Annerta : Part of Aquira

Ann Aizawa
Chapter #6

Tentang Santara

Jam istirahat tiba. Tara sempat mengajak Annerta keluar, namun Annerta memilih tetap di perpustakaan sambil membaca buku Parinasta itu. Lembar demi lembar ia buka, mulai membaca tentang sejarah Parinasta. Waktu terasa terus berjalan tanpa ia sadari.

Saat Annerta sedang fokus, tiba-tiba sebuah botol minuman dan sekotak bekal diletakkan di hadapannya. Ia mengangkat pandangannya dari kotak bekal dan botol itu, hingga melihat seseorang berdiri di depannya, itu Vanda. Gadis yang tadi pagi juga sempat mengagetkannya.

"Ayo kita makan bareng. Aku juga suka belajar sendirian di perpus. Tapi jangan sampai lupa makan" ujar Vanda.

Annerta hanya menoleh pelan ke arah Vanda lalu mengangguk kecil. Vanda duduk di samping Annerta sambil membuka kotak bekalnya yang berisi dua roti isi. Ia mulai memakannya sambil menaikkan kacamata yang terus melorot.

"Kalau ada yang mau kamu tanyain, kamu bisa tanya aku kok. Aku kan Vaya" ujar Vanda santai.

"Menurutmu, apa ada gen yang bisa punya banyak kekuatan seperti Rupantara, tapi murni? Maksud saya, kayak hasil pernikahan antar dua kaum?" tanya Annerta.

"Karena sejauh yang saya baca, tidak ada penjelasan tentang itu. Yang ada hanya pernikahan dengan manusia" lanjut Annerta.

Vanda yang sedang menggigit rotinya tiba-tiba tersedak. Annerta segera menggeser botol minum ke arahnya. Vanda mengambilnya dan minum beberapa teguk. Setelah napasnya kembali normal, Vanda menatap Annerta lebih dekat, membuat Annerta sedikit memundurkan tubuhnya.

"Kata ayahku, dulu pernah ada kejadian langka" ujar Vanda pelan.

"Kaum Kaka menikah dengan kaum Vras."

Annerta menatapnya tanpa menyela.

"Mereka punya anak, tapi bukan anak biasa. Kuat banget. Terlalu kuat malah," lanjut Vanda.

"Kekuatan itu bikin dua kubu ribut. Semua pengin punya dia. Akhirnya malah terjadi perang saudara."

Vanda berhenti sebentar sebelum melanjutkan.

"Waktu itu Raja Aquira dan Raja Lamdara, turun tangan buat ngehentikan kekacauan. Caranya, makhluk itu dibunuh."

Annerta mengerutkan dahi.

"Tubuhnya dipisah jadi tiga bagian" lanjut Vanda.

"Supaya nggak bisa dibangkitkan lagi sama kaum mana pun buat kepentingan mereka sendiri."

"Tidak ada yang tahu di mana potongan-potongan itu disembunyikan."

"Itu cerita lebih dari seratus tahun lalu, yang ayahku ceritakan." tutup Vanda.

"Dan dari situ seluruh kaum Parinasta sepakat untuk mengaramkan menikah beda kaum"

Awalnya Annerta masuk ke Santara tanpa tahu apa-apa tentang Parinasta.

Ia hanya mengikuti keputusan ibunya. Namun setelah mendengar cerita Vanda dan membaca isi buku itu lembar demi lembar, sesuatu mulai berubah. Parinasta tidak lagi terasa seperti sekolah aneh di tengah hutan. Ia mulai terlihat seperti dunia yang menyimpan terlalu banyak rahasia. Untuk pertama kalinya, Annerta ingin tahu lebih jauh.

***

Waktu terus berjalan hingga bel terakhir berbunyi. Malam pun turun dan kebetulan itu adalah malam Minggu. Di hutan Talas di belakang bangunan Vidyalaya Santara, berdiri sebuah gedung tua tak berpenghuni. Dindingnya kusam, jendelanya gelap dan pintunya tampak seperti tidak pernah dibuka selama bertahun-tahun.

Langkah kaki terdengar pelan di antara semak-semak. Seseorang berjubah hitam berjalan menyusuri sisi gedung, berhenti sesekali untuk mengamati sekitar. Tidak ada cahaya, tidak ada suara. Ia mendorong pintu tua itu perlahan.

Dari luar, gedung itu tampak kosong. Namun di dalam, suara sorak-sorai menggema. Puluhan siswa laki-laki Santara berdiri mengelilingi sebuah lingkaran besar yang dibentuk dari tali. Seorang siswa menuangkan bensin di sepanjang tali itu, lalu menyalakannya. Api menyala membentuk gelanggang bulat.

Sang sosok berjubah maju ke tengah lingkaran. Ia membuka jubahnya, memperlihatkan wajah santai sambil mengunyah permen karet. Laki-laki itu bernama Dio dari kaum Kaka.

Inilah Sanggraha, pertarungan rahasia antarkaum yang diwariskan turun-temurun. Tradisi ilegal para murid laki-laki Santara. Diselenggarakan setiap bulan purnama, selalu di malam Minggu.

Lihat selengkapnya