Pagi datang lebih cepat dari biasanya di Vidyalaya Santara. Karena hari itu hari Minggu, tidak ada pelajaran. Seluruh siswa akan pergi ke Balai Kota Nusa, seperti kebiasaan setiap pekan.
Annerta sudah siap dengan kaus sederhana, jaket abu-abu dan rambut yang diikat rapi. Ia keluar dari gedung asrama dan langsung melihat lapangan tengah mulai dipenuhi siswa. Ada yang sudah berdiri berbaris, ada pula yang baru keluar dari asrama seperti dirinya.
Ia melangkah pelan menuju lapangan, menyatu dengan arus siswa Santara lainnya. Di barisan depan, Tara sudah lebih dulu berdiri. Begitu melihat Annerta, wajahnya langsung berbinar. Tangannya melambai-lambai tinggi.
"Sini... sini!" teriak Tara.
Annerta hanya melirik sekilas lalu berjalan ke arahnya.
"Sini di depanku. Aku udah jagain tempat kamu" ujar Tara dengan senyum paginya yang terlalu cerah.
"Terima kasih, Tara" jawab Annerta ringan.
Tak lama kemudian, seluruh siswa telah berkumpul. Bu Wudya muncul dari sisi gedung dengan pakaian yang selalu tampak mencolok, warna cerah, motif ramai dan kacamata besar yang hampir menutupi separuh wajahnya. Ia mengambil toa dari tangan Pak Lium dan mengangkatnya tinggi.
"Tes... tes... Selamat pagi, anak-anak Santara kebanggaan ibu!"
Beberapa siswa terkekeh kecil.
"Ini minggu pertama di semester kedua. Sama seperti sebelumnya kita akan ke Balai Kota setiap akhir pekan. Ingat bertingkahlah senormal mungkin, jangan mencolok, jangan gunakan kekuatan apa pun dan jangan membuat onar. Paham?"
"Paham!" jawab para siswa serempak.
"Jam tiga sore kalian sudah harus masuk ke dalam bus. Tidak ada yang terlambat. Paham?"
"Paham!"
"Oke. Sekarang berbaris dengan tertib, masuk bus."
Barisan mulai bergerak. Satu per satu siswa naik ke dalam bus sekolah berwarna biru gelap milik Santara. Tiga bus keluar dari gerbang besar sekolah, meninggalkan halaman luas dan bangunan-bangunan sunyi di belakang. Bus melaju melewati hutan pinus yang mengelilingi Santara. Deretan pohon tinggi berdiri rapat, seperti tembok alami yang memisahkan sekolah itu dari dunia luar.
Annerta menatap keluar jendela. Di balik pepohonan, dunia yang disebut "normal" menunggu mereka. Namun untuk pertama kalinya, ia merasa dirinya tidak sepenuhnya bagian dari dunia itu lagi.
***
Begitu bus berhenti di Balai Kota Nusa, suasana langsung berubah. Para siswa Santara turun dengan wajah cerah, seperti dilepas dari kandang.
Lapangan depan balai kota dipenuhi bangunan rendah dengan cat warna-warni. Ada kios makanan, toko pakaian dan deretan tenda kecil yang menjual berbagai barang. Di tengahnya, sebuah taman kecil dengan bangku-bangku kayu dan air mancur sederhana menjadi pusat keramaian. Tempat itu selalu ramai setiap akhir pekan, apalagi saat rombongan Santara datang.
Siswa-siswi segera menyebar. Sebagian langsung menyerbu deretan penjual makanan. Ada yang berlari ke toko pakaian, tertawa sambil menunjuk etalase. Ada yang duduk bergerombol di pinggir taman, ada juga yang sekedar membeli minuman dingin. Suara mereka bercampur dengan musik dari salah satu toko dan teriakan pedagang yang menawarkan dagangannya.
Annerta turun dari bus paling terakhir. Tara sudah tidak terlihat. Gadis itu pasti sudah lebih dulu masuk ke toko pakaian begitu kakinya menginjak tanah. Annerta berdiri sejenak, mengamati sekitar. Di dekat taman, ia melihat sebuah food truck kecil dengan gambar es krim di sisinya. Ia melangkah ke sana, berdiri di depan papan menu yang tertempel di kaca.
Belum sempat ia memilih, sebuah suara laki-laki terdengar di sampingnya.
"Rasa vanila stroberi enak, tuh."
Annerta menoleh. Seorang anak laki-laki berdiri di sebelahnya. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya tenang. Itu Jovi.
"Cokelat mint satu" ujar Annerta kepada penjual tanpa menanggapi ucapan tadi.
Sementara pesanan dibuat, Jovi mencoba berbicara lagi.
"Aku Jovi, dari kaum Kaka" katanya sambil mengulurkan tangan.
Annerta tidak menjawab. Tatapannya tetap ke arah food truck. Tak lama kemudian es krimnya jadi. Annerta mengeluarkan uang, membayar, lalu pergi tanpa menoleh lagi. Jovi hanya tersenyum tipis.Lalu ia mencoba memesan rasa yang sama. Tak lama kemudian, ia mencicipinya.
"Selera dia bagus juga" gumamnya sambil melanjutkan makan es krimnya sendiri.