Annerta : Part of Aquira

Ann Aizawa
Chapter #8

Sisi Lain

Sudah sehari berlalu dari kejadian kemarin. Annerta tidak sadarkan diri di ruang UKS Santara. Tubuhnya terbaring di ranjang putih dengan selimut tipis. Bau obat dan kain bersih memenuhi ruangan. Di luar jendela, cahaya sore jatuh pelan ke lantai. Tidak ada yang tahu apa yang ia lihat dalam tidurnya.

Namun di dalam mimpinya, Annerta berdiri di tempat yang asing. Langit berwarna kelabu kemerahan. Tanah di bawah kakinya seperti batu yang retak-retak, seolah pernah terbakar dan dibanjiri hujan sekaligus. Di kejauhan, sebuah singgasana hitam berdiri di atas undakan tinggi. Dari sana, sosok seseorang melangkah turun.

Ia mengenakan jubah merah gelap. Ujung kainnya bergerak seolah hidup dan di sekelilingnya ada kilau seperti percikan darah yang melayang di udara. Sosok itu melayang turun, tubuhnya tegak, tangannya terbuka di samping tubuhnya, seperti tidak menyentuh tanah sama sekali.

Ia berhenti tepat di depan Annerta. Wajahnya sama, rambutnya terurai, serta senyumnya berbeda. 

"Hai, Ratu Lamdara." ujarnya.

Annerta mengernyit.Ia masih menggunakan pakaian yang sama saat ia berada di Balai Kota Nusa. Jaket abu-abunya masih basah dalam ingatannya.

"Kau siapa?" tanyanya dingin.

Sosok berjubah merah itu tersenyum lebih lebar.

"Aku?" Ia memiringkan kepala.

"Aku adalah kamu."

Annerta menatapnya tanpa berkedip.

"Saya tidak pernah menyebut diri saya 'aku'."

Nada suaranya tetap datar.

"Dan saya tidak pernah memakai pakaian seperti itu."

Ia melangkah setengah langkah ke depan.

"Jika kau kaum Rupantara yang mencoba meniru wujud saya, caramu terlalu bodoh."

Sosok itu tertawa kecil. Suaranya jernih, tapi membuat udara di sekeliling terasa berat.

"Hahaha... bahkan sekarang pun kamu masih menyangkal dirimu sendiri."

Ia berputar pelan di udara, jubah merahnya bergerak mengikuti.

"Kamu dingin, kamu rapi. Kamu menutup semuanya dengan logika." Lalu ia menatap Annerta tepat di mata.

"Padahal di dalam dirimu, ada sesuatu yang jauh lebih liar."

Annerta mengepalkan jarinya.

"Satu pertanyaan terakhir. Kau siapa?"

Senyum itu berubah tipis, nyaris kejam.

"Sudah ku katakan, aku adalah kamu, Annerta Syafa"

Ia mendekat, jarak mereka tinggal beberapa langkah. Annerta mengangkat tangannya perlahan. Jari-jarinya hampir menyentuh ujung jubah merah itu. Udara di sekitarnya terasa berat, seolah dunia mimpi itu menahan napas. Tepat sebelum kulit mereka bersentuhan, sebuah suara memanggil namanya.

"Annerta..." 

Pelan, jauh, seperti datang dari balik kabut.

"Annerta!"

Kening Annerta berkerut. Tangannya berhenti di udara.

Suara itu terdengar lagi, lebih jelas.

"Annerta! Bangun!"

Ia menoleh ke samping. Sosok berjubah merah masih berdiri di hadapannya, tersenyum tipis.

"Diam disini dan kamu akan tau siapa aku" katanya ringan.

Suara itu semakin keras.

"Annerta!"

Dunia di sekelilingnya mulai bergetar. Langit kelabu kemerahan itu seperti retak. Tanah di bawah kakinya memudar. Annerta menghela napas pendek dan semuanya gelap. Kelopak matanya terbuka tiba-tiba. Langit-langit putih menyambut pandangannya. Bau obat dan kain bersih memenuhi hidungnya. Cahaya sore masuk dari jendela UKS Santara, jatuh miring ke lantai.

***

Wajah pertama yang ia lihat adalah Tara. Gadis itu mengenakan kemeja putih. Jas sekolahnya terlipat rapi di kursi dekat ranjang. Begitu melihat Annerta membuka mata, senyum Tara langsung merekah.

"ANNERTA!" Ia maju cepat dan langsung memeluknya.

Annerta terdiam beberapa detik. Tubuhnya kaku, saat sadar ia mendorong Tara pelan dengan kedua tangannya. Wajahnya tetap datar. Tara tersadar.

"Oh, maaf, aku lupa." ia mundur sedikit. 

Lalu ia menarik napas panjang.

"Aku kira kamu mati."

Annerta menoleh ke langit-langit.

"Terakhir ingatan saya, kita berada di Balai Kota Nusa," katanya. 

"Apa yang terjadi?"

"Kamu pingsan waktu hujan" jawab Tara cepat. 

"Untung ada Jovi yang bantu gendong kamu. Kalau aku doang, mungkin kamu udah aku seret."

Lihat selengkapnya