Sudah satu bulan Annerta bersekolah di Santara. Namanya tidak lagi asing di koridor. Beberapa siswa sudah terbiasa melihatnya berjalan bersama Tara, atau duduk sendiri di bangku dekat jendela. Ia masih tetap dingin, masih tetap menjaga jarak, tidak ada yang berubah sedikt pun dari hari pertama dia masuk sebagai murid baru.
Hari ini jadwal mereka adalah pelajaran olahraga. Pelajaran yang selalu ditunggu Tara, terutama karena kali ini Pak Dimas mengatakan mereka akan bermain estafet. Lapangan Santara tampak lebih ramai dari biasanya. Angin berhembus pelan, langit cukup cerah untuk pelajaran olahraga. Para siswa sudah mengenakan seragam olahraga, kaus putih dengan garis biru di sisi dan celana training biru tua.
Di tengah lapangan, sebuah kotak plastik bening diletakkan di atas meja kecil.
"Sekarang kita bagi tim dengan undian" ujar Pak Dimas sambil berdiri tegak di depan barisan siswa.
"Di dalam kotak ini ada kertas bernomor satu sampai empat. Setiap tim nanti berisi lima orang."
Para siswa mulai berbaris rapi.
"Satu per satu maju, ambil satu kertas. Jangan dibuka dulu, sampai aba-aba tiba" lanjut Pak Dimas.
Satu per satu siswa melangkah maju, memasukkan tangan ke dalam kotak, lalu kembali ke barisan dengan kertas terlipat di tangan mereka. Suasana dipenuhi bisikan dan tawa kecil, menebak-nebak siapa akan satu tim dengan siapa. Setelah semua mendapat undian, Pak Dimas mengangkat tangannya.
"Sekarang, buka kertas kalian bersamaan."
Suara kertas dibuka terdengar serempak.
Annerta membuka lipatan kecil di tangannya. Angka 1 tertulis jelas di sana. Ia melirik ke samping. Tara membuka kertasnya sendiri dan mengangkat alis.
"Nomor tiga" gumam Tara.
Mereka saling menatap sebentar.
"Yah... Kita nggak satu tim" kata Tara pelan, sambil merengut.
Annerta hanya mengangguk kecil. Pak Dimas mulai memanggil.
"Nomor satu, kumpul di sini dulu."
Annerta melangkah maju. Beberapa siswa lain ikut bergabung. Di sana sudah ada Anin, Fatah dan Vanda. Begitu melihat Annerta berada di tim yang sama dengannya, Anin langsung menunjukkan wajah tidak senang. Alisnya mengerut, bibirnya terkatup rapat. Namun Annerta tidak memperdulikannya. Ia berdiri sedikit terpisah, matanya justru tertuju pada sosok Datruna.
Saat Datruna berjalan mendekat ke kelompok mereka, langkahnya tenang. Hari ini ia tidak mengenakan hoodie hitam seperti biasanya. Rambutnya disisir ke belakang dengan rapi, membuat wajahnya terlihat lebih jelas. Auranya berbeda, lebih terbuka, namun tetap sulit ditebak. Ada kesan kuno dalam caranya berdiri, seperti potret lama yang hidup kembali. Annerta menatapnya agak lama.
"Eh" bisik Vanda.
"Kok lama banget natap Datruna?"
"Tidak ada apa-apa, tampak tidak asing" jawab Annerta singkat.
Vanda mendengus kecil.
"Kamu jangan suka sama dia, ya. Dia itu freak banget gayanya, kayak bapak aku."
Annerta tidak menanggapi. Datruna kini berdiri tepat di samping Annerta. Tubuhnya lebih tinggi, kira-kira tingginya 180 lebih. Ia tidak menoleh, hanya menatap lurus ke depan, seolah tidak menyadari tatapan Annerta sebelumnya.
Sementara itu, di sisi lain lapangan, tim-tim lain juga mulai terbentuk. Tim dua terlihat Jovi berdiri bersama beberapa siswa siswi lain lain. Di tim tiga, Tara berdiri satu kelompok dengan Dio. Dio membuka bungkus permen karetnya, memasukkan permen itu ke mulut, lalu mengunyah santai. Gerakannya sederhana, tapi entah kenapa membuat Tara terpaku. Tara melirik Dio dari samping, sambil senyum-senyum.
Tim empat pun sudah siap di ujung lapangan. Pak Dimas berdiri di tengah dengan peluit tergantung di lehernya.
"Kita akan bermain estafet lari. Aturannya sama seperti estafet pada umumnya. Tongkat harus diberikan ke teman satu tim, tidak boleh dilempar."