Annerta : Part of Aquira

Ann Aizawa
Chapter #10

Es Batu

Tara kini berada di ruang UKS. Lututnya dibalut perban tipis, masih tampak sedikit noda merah yang merembes di kapas. Bu Dini baru saja selesai mengobatinya.

"Jangan banyak lari dulu hari ini, ya. Kalau nyeri, langsung ke sini lagi" pesan Bu Dini sambil merapikan kotak P3K.

"Iya, Bu. Makasih" jawab Tara singkat.

Tak lama setelah Bu Dini keluar, pintu UKS kembali terbuka. Anin masuk dan menutup pintu perlahan di belakangnya.

"Selalu terlalu keras sama diri sendiri, ya. Kamu nggak berubah, Ra," ujar Anin sambil menyilangkan tangan di dada.

"Ngapain kamu ke sini?" Tara mendengus kecil.

"Kamu masih marah sama aku?" tanya Anin. 

"Segitu bencinya sampai selalu nolak kehadiranku?"

"Aku rasa kamu mulai lupa sama kejadian itu," balas Tara, suaranya datar.

"Aku nggak lupa, Ra" ucap Anin serius. 

"Sebagai Vras, aku berutang maaf seumur hidup sama kamu."

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan "Tapi roommate-mu itu juga melakukan hal yang sama, kan?"

Tara tertawa kecil, tapi tawanya terdengar kering.

"Hahaha, beda, Nin. Beda!."

Wajahnya berubah lebih serius.

"Dan ingat, kamu sudah janji buat keep kejadian di balai kota waktu itu."

Belum sempat Anin menjawab, suara lain terdengar dari arah pintu.

"Memang ada apa di balai kota waktu itu?"

Annerta berdiri di ambang pintu UKS. Tatapannya tenang, tapi tajam.

"Eeeh... hai, Roomie" ucap Tara cepat. 

"Dari kapan kamu di situ?"

"Baru saja di bagian 'balai kota waktu itu'" jawab Annerta tanpa mengubah ekspresinya.

Tara menelan ludah.

"Nggak kok, ini Anin waktu belanja di balai kota bulan lalu. Dia nanya sepatu yang aku beli di toko yang mana" katanya cepat sambil melirik ke arah Anin, memberi isyarat agar mengiyakan.

Annerta sebenarnya bukan orang yang mudah percaya. Namun melihat keadaan Tara saat ini, ia memilih untuk tidak menyangkal. Ia melangkah masuk dan mendekat ke ranjang UKS.

"Baiklah. Bagaimana keadaanmu?" tanya Annerta.

"Ah, luka kecil ini. Udah diobatin Bu Dini. Paling tiga hari juga hilang bekasnya" jawab Tara santai.

Annerta mengangguk, lalu melirik ke arah Anin.

"Kenapa?" tanya Anin agak ketus ketika menyadari tatapan itu.

"Tidak apa-apa" kata Annerta.

"Saya kira kalian tidak saling mengenal. Selama saya di sini, baru kali ini saya melihat kalian saling berbincang."

"Iya, dulu kami..." Anin hendak menjawab, tapi Tara cepat memotong.

Lihat selengkapnya