Es krim di tangan mereka mulai habis perlahan. Tara berjalan lebih dulu, menggigit ujung sendok plastiknya sambil memutar kepala ke kanan dan kiri, mencari bangku kosong di antara keramaian bazar.
"Duduk di mana ya" gumamnya.
Annerta berjalan di sampingnya tanpa banyak bicara. Pandangannya lebih sering menyapu sekitar, memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang. Mereka akhirnya menemukan bangku panjang dari kayu di tepi jalur utama bazar. Tara baru saja hendak duduk ketika matanya menangkap sosok yang tidak asing.
"Itu, Dio." Tara menunjuk tanpa sadar.
Di bangku tidak jauh dari mereka, Dio duduk santai dengan satu kaki disilangkan diatas pahanya. Seragam Santara tanpa jas yang ia kenakan, dengan dua atas yang dibiarkan terbuka, serta dasi yang di ikatkan pada lengan kirinya dan ditangannya ada minuman kaleng. Sebelum Annerta sempat berkata apa pun, Tara berjalan dengan cepat kearah Dio. Begitu melihat mereka mendekat, Dio mengangkat wajahnya dan tersenyum lebar.
"Hai Tara" katanya ringan.
"Hai Dio. Kamu sendirian?" balas Tara dengan senyuman.
"Kayaknya iya. Kecuali kalau kamu mau nemenin."
Tara duduk di ujung bangku, tepat di sebelah Dio. Annerta berdiri beberapa langkah disebelah Taradan ia hanya memperhatikan teman sekamarnya itu. Tara mengangkat es krimnya.
"Kamu mau es krim gak? Aku beliin."
Dio melirik es krim itu, lalu menatap Tara.
"Nggak, aku maunya kamu" katanya pelan.
Pipi Tara langsung memerah. Annerta mengerutkan alis tipis. Ekspresinya tidak berubah banyak, tapi sorot matanya mengeras. Ia menatap Dio seolah sedang menilai sesuatu yang tidak layak dipercaya.
"Pria Kaka ini terlalu banyak membual" kata Annerta tiba-tiba.
"Annerta, kamu serius banget sih." balas Tara.
"Tara, ayo pergi. Tidak ada alasan untuk berlama-lama di sini."
Tara mulai berdiri, karena ia tidak ingin Annerta berbedebat lebih jauh dengan Dio.
"Yaudah, Dio. Aku pergi dulu ya."
Namun saat ia melangkah menjauh, tangannya tertahan.
"Tunggu dulu, kasih aku 5 detik. Aku mau ngerekam wajah kamu dulu" katanya.
Jari Dio masih melingkar di pergelangan tangan Tara. Gadis itu berhenti melangkah. Tubuhnya kaku, seolah waktu tiba-tiba melambat hanya untuk mereka berdua. Tara menoleh perlahan. Tatapan Dio jatuh tepat ke matanya Tara. Sorot matanya hangat, tenang, seakan dunia hanya ada mereka. Suara bazar, langkah orang-orang, tawa anak-anak menghilang begitu saja.
Tara menelan ludah. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ada harap kecil yang tanpa sadar tumbuh di dadanya, hanya karena cara Dio menatapnya seolah ia adalah satu-satunya yang ada di sana. Tara tidak menarik tangannya. Ia justru diam, menatap balik. Waktu terasa panjang. Terlalu panjang. Seolah lima detik berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih lama.
Namun sebelum perasaan itu sempat berkembang lebih jauh, suara datar Annerta memotong suasana.
"Sudah lima detik kan?. Boleh saya membawa Tara keluar dari gombalan murahanmu?"
Tatapan Tara terpecah. Dio mengalihkan pandangannya ke Annerta. Senyum kecil muncul di sudut bibirnya. Tangannya perlahan melepaskan pergelangan tangan Tara. Lalu ia menoleh kembali ke Tara.
"Perkataan temanmu itu melukai hati kecilku" ucapnya, namun sorot matanya melirik Annerta sejenak.