Mobil polisi berhenti di depan gerbang Santara. Bak belakangnya terbuka, dipenuhi bangku besi memanjang. Di dalamnya sudah duduk beberapa remaja dengan rompi oranye bertuliskan PELAYANAN MASYARAKAT KOTA NUSA.
Jovi naik sendirian dari sekolahnya. Ia satu-satunya siswa Santara di sana. Beberapa anak melirik sekilas ke arahnya, lalu kembali menunduk. Tidak ada yang menyapa. Tidak ada yang bicara. Mobil kembali melaju, meninggalkan sekolah, membawa mereka menuju Balai Kota Nusa. Sepanjang perjalanan, angin menerpa wajah Jovi. Pandangannya kosong menatap jalanan. Di antara suara mesin dan derit bangku besi, pikirannya dipenuhi perasaan kesal yang belum sepenuhnya padam.
Sesampainya di Balai Kota, mereka diturunkan satu per satu. Seorang polisi langsung menunjuk area halaman depan dan sisi gedung.
"Kalian bersih-bersih di sini. Jangan ada yang macam-macam."
Mereka diberi sapu, pengki dan karung sampah. Jovi segera mulai bekerja. Ia menyapu dedaunan kering di sepanjang trotoar dep an balai kota. Debu beterbangan, membuat tenggorokannya terasa kering. Matahari makin naik, panas mulai menusuk kulit.
Beberapa jam berlalu. Keringat mengalir di pelipisnya. Tangannya terasa pegal. Saat akhirnya diberi waktu istirahat, Jovi duduk di bawah sebuah pohon besar di halaman samping balai kota. Ia membuka botol air mineral yang dibagikan polisi dan meneguknya perlahan.
Di seberangnya, anak laki-laki yang pernah berkelahi dengannya ikut duduk, lalu berdiri lagi. Gerakannya gelisah. Ia menoleh ke kanan-kiri, seolah memastikan tidak ada yang memperhatikan. Pelan-pelan, anak itu menjauh dari area balai kota. Menuju sebuah gang sempit di antara bangunan.
Jovi memperhatikannya, ada sesuatu yang terasa tidak beres. Bukan karena sikap anak itu saja, tapi karena dadanya tiba-tiba terasa tidak nyaman. Lalu Jovi berdiri, ia melangkah mengikuti anak itu dari jarak aman, memastikan dirinya tidak terlihat. Dari ujung gang, ia melihat anak itu mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Sebungkus kecil, dibungkus plastik.
Jovi hendak maju dan menegurnya, namun langkahnya terhenti. Dadanya mendadak sesak. Udara di sekitarnya terasa berat, suhu gang seperti turun beberapa derajat. Bulu kuduknya mulai naik. Lalu ia melihat sebuah bayangan. Sesuatu yang gelap, pekat, seperti asap hitam yang menempel pada dinding gang. Bayangan itu bergerak perlahan, memanjang, lalu berdiri tepat di belakang anak laki-laki itu.
Jovi menahan napas. Bayangan itu mulai membentuk sebuah wujud. Tubuhnya kurus, siluetnya tidak jelas. Dari tubuh hitamnya tercium bau busuk yang samar, menusuk hidung. Anak laki-laki itu tidak menyadari apa pun. Ia sibuk menyiapkan barang terlarang di tangannya, lalu menghirupnya.
Saat itulah makhluk hitam itu bergerak. Ia berdiri tepat di belakang anak itu. Matanya besar, kosong, berkilat samar dalam kegelapan. Tangannya yang panjang dan tipis terulur, lalu mencengkeram kepala anak laki-laki itu.
Jovi membeku. Ia tidak bisa berkedip. Makhluk itu menempelkan wajahnya ke kepala anak tersebut. Dari tubuh anak itu muncul cahaya pucat, seperti kabut tipis yang ditarik keluar perlahan. Jovi menyadari makhluk itu menyedot jiwa anak laki-laki itu. Tubuh anak itu mulai mengering. Bahunya turun, kulitnya tampak kusam, napasnya melemah. Sementara cahaya pucat itu semakin tersedot ke dalam makhluk hitam tersebut.
Jovi menutup mulutnya dengan satu tangan, ia takut mengeluarkan suara. Takut jika sedikit saja ia bergerak, makhluk itu akan menyadarinya. Beberapa detik kemudian, makhluk itu mundur. Tubuhnya berubah menjadi cahaya gelap, lalu menghilang menembus dinding gang.
Anak laki-laki itu jatuh tersungkur ke tanah, diam dan tidak lagi bergerak. Gang sempit itu kembali sunyi. Hanya Jovi yang masih berdiri di sana, dengan jantung berdegup keras di dadanya, menyadari satu hal, ia baru saja melihat makhluk meyeramkan yang biasa ia kenal dengan sebutan kaum Lamdara.
***
Di lorong lantai dua Santara, Anin melangkah pelan sambil menoleh ke kanan dan kiri. Seragamnya masih rapi, tapi sikapnya mencurigakan, langkahnya ringan seperti takut terdengar. Ia menaiki tangga menuju ruang Bu Wudya. Tanpa ia sadari, dari arah toilet perempuan, Tara baru saja keluar. Rambutnya masih sedikit basah di pelipis. Langkahnya terhenti saat melihat Anin berjalan mengendap menuju ruang kepala sekolah.
Anin mengetuk pintu setengah terbuka.
"Permisi, Bu Wudya" ujarnya pelan.
"Iya, silakan masuk, Rianin Brahvatya" jawab Bu Wudya sambil tersenyum dari balik laptopnya.
"Ada hal penting apa sampai kamu datang ke ruangan saya secara personal?"
"Saya mau memberitahu tentang kejadian di Balai Kota sebulan lalu" kata Anin.
"Iya, silakan langsung saja. Ada hal apa?"
Anin menarik napas.
"Saat hujan itu, saya melihat Tara seperti sedang mencari seseorang. Saya mengikutinya... dan ternyata yang ia cari Annerta."
"Lalu?"
"Saya melihat Annerta merunduk, tampak seperti melindungi dirinya dari hujan, lalu Tara mendatanginya..."