Ruangan itu kembali sunyi setelah kilasan masa lalu Anin runtuh seperti bayangan yang dipaksa pergi. Bau darah seolah masih tertinggal di udara. Anin berdiri kaku. Napasnya belum sepenuhnya teratur.
"Bukankah aku sudah membayar mahal atas semua yang terjadi?" suaranya rendah.
Tara menatapnya tanpa berkedip.
"Bukan kamu yang membayar mahal, Anin," katanya pelan, tapi tajam.
"Santara yang membayar mahal untukmu. Hanya karena kau putri Serigala Barat. Sekolah melindungimu."
Anin terdiam.
"Malang sekali wanita itu," lanjut Tara, selangkah maju.
"Dari kalangan biasa. Tidak tahu apa-apa. Lalu kau jadikan bahan percobaanmu."
"Cukup, Tara." Suara Anin meninggi.
"Itu kali pertamaku bertransformasi. Aku tidak tahu apa yang terjadi!. Tidak perlu terus menyalahkanku. Semua orang sudah menerima kejadian itu. Semua sudah move on. Tapi kenapa kamu selalu terjebak di sana!" sambungnya.
Tara makin mendekat. Wajahnya yang biasa tenang kini berubah dingin, seperti Annerta.
"Lalu kenapa saat Annerta pertama kali bertransformasi, kau membuatnya seolah itu bukan hal normal? Kau bahkan ingin menyebarkannya pada Bu Wudya." ucap Anin.
"Karena itu memang bukan hal normal bagi Parinasta"
"Apalagi kaum Aquira." jawab Tara cepat.
"Tapi setidaknya dia tidak merenggut nyawa seseorang!"
"Oh iya,"
"Maaf. Maksudku, tidak merenggut nyawa hampir dua orang." katanya pelan.
Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada tamparan, membuat Anin membeku. Tara tak lagi ingin berlama-lama bersama Anin, ia mulai melangkah pergi tanpa menunggu jawaban berikutnya dari Anin. Langkahnya menggema di tangga, meninggalkan Anin berdiri sendirian bersama masa lalu yang kembali hidup.
***
Sementara itu di kelas, Annerta duduk sendirian di bangkunya, buku terbuka di hadapannya, matanya bergerak pelan mengikuti baris demi baris tulisan. Di luar, langit Santara tampak pucat, seolah menahan hujan. Pintu kelas terbuka, Tara masuk tanpa suara berlebihan. Di balik punggungnya, satu tangannya tersembunyi, menggenggam sesuatu yang terus bergerak pelan. Lalu ia berjalan mendekati Annerta.
"Aku punya sesuatu buat kamu" ujar Tara tiba-tiba.
Annerta mengangkat wajahnya sedikit. Tatapannya datar.
"Apa?"
"Tangannya mana?" tanya Tara sambil mengulurkan tangannya sendiri ke depan, seperti memberi contoh kepada Annerta.
Entah kenapa, Annerta menurut. Ia mengulurkan tangannya pelan, kedua telapak tangannya terbuka. Saat itu juga Tara mengangkat tangan yang ia sembunyikan dan seekor anak kucing oranye muncul di antara mereka. Annerta refleks menarik tangannya mundur. Gerakannya terlalu cepat. Anak kucing itu hampir terjatuh dari genggaman Tara.
Udara di sekitar mereka bergetar sesaat. Vanda, yang duduk di bangku belakang, mengangkat tangannya tanpa berdiri. Lantai di bawah tubuh kucing itu terangkat tipis, angin itu menyelamatkannya. Lalu Tara dengan sigap mengambil anak kucing itu yang berada di hadapannya. Anak kucing itu mengeong pelan.
"Kenapa, Annerta?" kata Tara.
"Kamu hampir mencelakai Duren."
"Duren?"
"Iya. Kucing oranye ini. Namanya Duren. Aku nemu dia di lorong. Dia ngikutin aku terus, jadi aku bawa."
Annerta menatap kucing itu dari jarak aman.
"Saya alergi kucing, Tara."
"Tapi kamu punya miniatur kucing di mejamu."
"Iya. Saya suka, tapi saya alergi." balas Annerta dingin.
Tara terdiam sebentar. Tangannya mengelus kepala kucing oranye itu pelan.