Malam itu belum benar-benar berakhir. Di kamar asrama putra, Jovi duduk di tepi ranjangnya, menunduk, membersihkan busur panahnya yang patah. Kain kecil di tangannya mengusap permukaan kayu yang retak, seolah berharap retakan itu bisa hilang hanya dengan digosok. Di sampingnya, beberapa anak panah tersisa tergeletak rapi, sebagian ujungnya tumpul dan bernoda.
Pikirannya melayang jauh dari kamar sempit itu. Bayangan perkelahiannya dengan anak sekolah itu muncul kembali. Luka di tubuhnya saat itu belum sepenuhnya sembuh, tapi yang lebih perih adalah ingatan tentang apa yang sebenarnya telah ia lihat sebelum semua itu terjadi.
Sebenarnya, Jovi sempat tidak sengaja meramal kematian anak itu. Ia sudah melihat tanda-tandanya. Namun ia memilih diam. Ia tidak memperingatkan, tidak juga mencegah. Ia membiarkan takdir berjalan seperti yang sudah ditentukan. Ketika anak itu menepi ke arah lorong, kecurigaan Jovi berubah menjadi kepastian, anak itu sedang berjalan menuju kematiannya sendiri dan cara ia mati terlalu tragis untuk sekadar disebut kecelakaan.
Lamunan itu buyar ketika pintu kamar mandi terbuka. Darma keluar sambil mengibaskan rambutnya yang masih basah.
"Jov? Ngelamun aja. Kesambet nanti" ujarnya santai.
Jovi tersentak, seolah baru kembali ke tubuhnya sendiri.
"Dar, kau pernah melihat hantu?" tanya Jovi tiba-tiba.
Darma hanya tertawa kecil.
"Atau iblis, gitu atau..." suara Jovi merendah sesaat sebelum melanjutkan,
"Kaum Lamdara?"
Darma berhenti mengeringkan rambutnya. Wajahnya berubah sedikit lebih serius.
"Pernah. Waktu aku kecil," katanya pelan.
"Ada bayangan hitam ke arah rumah tetanggaku yang manusia. Tetanggaku itu sering KDRT, pemabuk. Pokoknya ayah yang buruk."
"Terus?" tanya Jovi.
"Waktu aku ikuti bayangan itu, aku ngintip dari luar jendelanya.
"Aku lihat bayangan itu seperti menghisap sesuatu dari tubuh orang itu. Tubuhnya jadi kering. Setelah itu, aku nggak sadar apa-apa. Tiba-tiba aku sudah ada di kamar."
Darma menghela napas kecil.
"Kata ayahku, aku pingsan tepat di bawah jendela. Terus aku ceritakan ke ayahku soal kejadian ini... Namun. Ayah juga tertawa seperti ekspresiku barusan"
"Kenapa beliau tertawa?" tanya Jovi.
"Katanya tetanggaku itu janda. Suaminya sudah lama meninggal. Makanya ayahku tertawa" sambung Darma.
"Jadi menurutmu itu cuma ilusi?" ucap Jovi.
"Aku sebenarnya percaya sama apa yang aku lihat. Tapi karena ayahku bilang begitu, aku jadi merasa mungkin itu cuma mimpi waktu aku pingsan. Lagian, siapa juga yang mau percaya omongan anak umur 5 tahun, Jov." ujar Darma.
Ia meraih handuknya dan melemparkannya ke kursi.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Besok hari terakhir kau dihukum. Berbahagialah" katanya ringan.
Jovi menoleh cepat.
"Eh, tunggu. Sepengetahuanmu, aku dihukum karena apa?" tanyanya.
Darma menatapnya heran.
"Kau ini... sudah melakukan kesalahan, malah lupa," jawabnya.
"Kau ingat saat kita main lempar bola kaleng?" kata Darma melanjutkan.
"Kau kesal karena tidak pernah kena sasaran. Lalu kau pakai panahmu. Lalu tukang pemilik permainan itu marah dan menghajarmu lalu kalian berkelahi"
"Itu sebabnya panahmu dipatahkan."
Darma berhenti sejenak, lalu menyambung
"Setelah itu, aku yang memanggil Bu Wudya. Kau dihentikan paksa olehnya. Setelah itu Bu Wudya pergi ke Kepolisian Kota Nusa untuk bernegosiasi dan akhirnya kau dihukum seminggu menjalani pelayanan masyarakat."
Jovi terdiam. Cerita itu terdengar asing di telinganya. Ia yakin, kejadiannya tidak seperti itu.
"Tunggu," ucap Jovi perlahan.