Annerta : Part of Aquira

Ann Aizawa
Chapter #15

Sial

Hari itu berjalan seperti biasa. Bel berbunyi, menandakan kelas telah usai. Suara kursi bergeser dan langkah kaki memenuhi lorong-lorong Santara. Tidak ada yang tampak berbeda, tidak ada yang tampak salah. Annerta berjalan sendirian menyusuri koridor menuju tangga. Ketika melewati ruang musik, langkahnya melambat.

Dari dalam ruangan itu, terdengar alunan piano. Nadanya indah, jernih, presisi, membuat Annerta tertarik dan menuju kerah ruang musik. Melodinya berlari cepat, meliuk-liuk seperti tawa kecil yang disembunyikan di balik bayangan. Terlalu hidup untuk disebut sekadar lagu, terlalu gelap untuk disebut sekadar indah.

Annerta berhenti. Pintu ruang musik sedikit terbuka. Dari celah itu, ia melihat Bu Sintia duduk di tengah ruangan, dengan jari-jemari yang lihai memainkan nada. Mata perempuan itu terpejam, wajahnya tenang, seolah dunia di sekelilingnya tidak ada. Jemarinya bergerak cepat di setiap not. Menciptakan suara yang laras, naik turun seperti makhluk-makhluk kecil yang menari di lantai gelap.

Annerta melangkah masuk tanpa suara. Ia berdiri di dekat pintu, mendengarkan hingga nada terakhir jatuh perlahan dan menghilang di udara. Senyap kembali mengisi ruangan. Bu Sintia masih memejamkan mata beberapa detik setelah not terakhir.

Annerta yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.

"Dance With the Devil " katanya pelan.

Bu Sintia membuka matanya. Tatapan mereka bertemu di ruang musik yang sunyi, di antara gema nada yang belum sepenuhnya hilang.

"Kamu tahu?" tanya Bu Sintia.

Ia pun berjalan menuju Annerta.

"Iya. Ibu saya pandai bermain piano.Dia sering memainkan lagu itu" jawab Annerta.

"Kalau kamu? Bisa juga?" tanya Bu Sintia.

"Tidak. Saya tidak terlalu tertarik pada hal yang berisik" balas Annerta datar.

"Bukankah musikku barusan yang menarikmu?" ujar Bu Sintia.

Annerta terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tidak bisa menjawab. Padahal, sebenarnya ia sangat menyukai musik, hal yang tak pernah ia katakan pada siapa pun, bahkan pada ibunya sendiri. Ia memilih diam. Lalu,pergi tanpa pamit Annerta berbalik dan pergi meninggalkan ruang musik. Bu Sintia memandangi punggungnya yang menjauh. Sebuah senyum tipis tertinggal di wajahnya.

***

Sementara itu di Balai Kota Nusa, Jovi tengah membuang sampah bersama rombongan pelayanan masyarakat. Pandangannya tidak sepenuhnya tertuju pada pekerjaannya. Ia mulai memperhatikan sekeliling, lalu perlahan menepi dari kelompok. Langkahnya membawanya ke tempat kejadian perkelahian itu, lokasi permainan lempar kaleng.

Jovi berjongkok di rerumputan, menyibak daun dan plastik dengan teliti. Ia merayap ke bawah bangku tempat ia dulu berdiri. Tangannya berhenti pada sebuah benda yang tertutup plastik tipis. Sebuah smartwatch. Ia mengangkatnya, membersihkan permukaannya, lalu menyalakannya. Layar menyala menampilkan wallpaper dengan gambar Spiderman. Jovi hendak membuka lebih jauh, namun suara seseorang memanggil.

"Hei, apa yang kau lakukan di sana? Kembali ke sini!"

Ia segera memasukkan jam itu ke sakunya dan beranjak menuju sumber suara.

***

Di Santara, Tara masih menggendong kucing oranyenya. Tangannya mengelus-elus bulu lembut itu sambil berjalan pelan di lorong. Di depannya, Dio berdiri sambil terus mengunyah permen karet. Salah satu tangannya menempel ke tembok, membuat Tara seolah terkurung di antara tubuhnya dan dinding. Tatapan mereka bertemu.

"Kamu cantik banget Tara" ujar Dio.

Pipi Tara langsung memanas. Ia tersenyum kecil, matanya menghindar, bahunya terangkat sedikit. Reaksi khas seseorang yang tersipu tanpa ingin mengakuinya.

"Aku boleh minta tolong nggak, Tara?" lanjut Dio.

"Hm... Emang aku bisa nolong apa?" tanya Tara.

"Ada sepatu keluaran baru. Kamu kan tahu aku suka banget main bola, dan sepatu aku..."

"Oh, iya iya. Aku paham. Nanti hari Minggu kita ke kota, aku beliin. Kita belanja bareng" potong Tara dengan nada antusias.

"Eee... Aku udah janjian sama Dafa, katanya dia punya kenalan yang kerja ditoko sepatu itu, jadi aku beli sama dia. Dua belas juta aja kok." kata Dio cepat.

"Oh... Dafa ya? Aku transfer ke Dafa langsung?" tanya Tara.

Lihat selengkapnya