Siang itu datang tanpa tanda istimewa. Jam istirahat membuat lorong-lorong Santara kembali hidup, namun perpustakaan tetap menjadi tempat yang menolak keramaian. Di balik pintu kaca, udara terasa lebih dingin, bau kertas tua bercampur debu halus menggantung di udara.
Annerta sudah lebih dulu berada di sana. Ia berjalan perlahan di antara rak-rak tinggi, matanya menyisir punggung buku satu per satu. Jemarinya berhenti pada judul-judul yang memuat simbol api, mitos, atau makhluk-makhluk yang pernah dianggap legenda. Ia menarik beberapa buku, membukanya sekilas, lalu mengembalikannya jika tak menemukan yang ia cari. Langkahnya sunyi, ekspresinya tetap dingin.
Tak lama kemudian, pintu perpustakaan kembali terbuka. Jovi masuk dengan langkah cepat. Ia mencatat namanya di daftar siswa yang berkunjung, lalu langsung menuju lorong buku sejarah Parinasta. Napasnya sedikit berat, gerakannya tergesa. Ia menarik satu buku, lalu yang lain. Beberapa kali, buku-buku itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai dengan bunyi tumpul yang memecah kesunyian. Ia memungutnya lagi, semakin cepat, semakin gugup.
Di rak yang sama, dari sisi berlawanan, Annerta berhenti di depan sebuah buku berkulit gelap dengan lambang kecil menyerupai nyala api di punggungnya. Tangannya bergerak hampir bersamaan dengan tangan Jovi yang meraih buku itu dari sisi lain.
Buku itu tertarik dua arah. Annerta menariknya ke arahnya. Jovi refleks melepaskan genggaman. Untuk sesaat, mereka saling menatap. Pandangan Annerta tajam dan dingin, sementara Jovi terlihat terkejut, seolah baru sadar ia tidak sendirian di lorong itu. Annerta mengambil buku tersebut tanpa berkata apa-apa. Jovi berdiri di depannya, ragu sejenak, lalu melangkah mendekat.
"Buku itu..." ucapnya pelan, suaranya tertahan
Annerta menoleh sedikit, menatapnya dari samping. Ia tidak menjawab. Jovi menarik napas, lalu memberanikan diri melanjutkan
"Aku... sedang mencari sesuatu tentang Lamdara."
Annerta yang awalnya berjalan seperti menjauhi Jovi, akhirnya berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Jovi.
"Apa yang membuat seorang Kaka tertarik pada cerita soal Lamdara?" tanya Annerta singkat.
Annerta sudah berhenti melangkah. Jovi mendekat, tatapannya bening namun gelisah, seperti menyimpan sesuatu yang terlalu penuh untuk dipendam sendiri.
"Boleh sambil duduk gak?" kata Jovi sambil menarik satu kursi dan menggesernya ke depan meja.
Annerta menatap kursi itu sebentar, lalu tanpa menanggapi, ia menarik kursi lain di sisi berlawanan dan duduk di sana. Gerakannya tenang, tapi jelas menolak isyarat Jovi. Jovi menatapnya sesaat, lalu duduk di kursi yang semula ia tarik.
"Sebelumnya, mari kita berkenalan secara..."
"Langsung saja, Jovi" potong Annerta dingin.
"Saya tidak suka membuang waktu untuk hal yang tidak perlu." sambungnya.
Jovi berkedip, lalu tersenyum kecil, kaku.
"Iya, Nona Annerta. Galak sekali."
Jovi menghela napas pelan.
"Kamu ingat kejadian di Balai Kota minggu lalu?"
"Kejadian apa?" jawab Annerta singkat.
"Kejadian, aku berantem"
"Saya tidak tahu"
"Menurutmu, aku dihukum karena apa?"
"Saya sudah bilang, saya tidak tahu. Saya tidak mau ikut campur urusanmu."
"Kamu benar-benar tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?" tanya Jovi pelan.
Tatapan Annerta terangkat. Dingin, lurus, tanpa emosi. Seolah ia tidak suka arah pembicaraan itu.
"Bicara langsung pada intinya" Annerta singkat.
"Jika kau ingin berputra-putar, silahkan bahas dengan orang lain."
Jovi terdiam sejenak, lalu mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
"Oke, oke. Waktu aku menjalani pelayanan masyarakat, aku satu kelompok dengan siswa dari SMA Triwalaka."
Annerta tidak menyela.
"Namanya Zafri."
Jari Jovi mengepal di atas meja.
"Dia terlibat dalam perkelahian denganku. Yang sebenarnya hanya pertengkaran biasa."