Perpustakaan masih tenggelam dalam kesunyian ketika suara langkah cepat memecah lorong di antara rak-rak tinggi. Namun sebuah suara memanggil nama Annerta menggema di perpustakaan.
"Annerta." Ia mengangkat wajah. Shani berdiri di depan pintu Perpustakaan, ekspresinya tampak bingung sekaligus ragu.
"Ada paket" sambung Shani.
"Petugasnya nunggu di depan. Katanya butuh tanda tangan penerima."
Annerta mengernyit tipis.
"Saya tidak pernah memesan paket apa pun" ujarnya.
"Paketnya atas nama Tara" sahut Shani cepat.
Annerta menutup bukunya perlahan.
"Lalu kenapa kau mencari saya?"
"Karena Tara tidak bisa ditemukan. Ponselnya juga tidak diangkat saat dihubungi kurir. Paketnya besar, katanya tidak bisa ditinggal sembarangan, jadi dia minta tanda terima dari penghuni kamar."
Annerta terdiam sesaat. Tatapannya kosong beberapa detik, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang tidak ingin ia lakukan.
"Baik" ucapnya akhirnya singkat.
Ia berdiri, meninggalkan Jovi sendirian dikursi itu, lalu berjalan keluar dari perpustakaan bersama Shani. Di luar, seorang petugas ekspedisi tampak menurunkan sebuah kardus besar dari troli kecil. Ukurannya hampir setinggi dada Annerta. Beberapa menit kemudian, paket itu sudah berada di kamar mereka. Annerta menatap kotak besar itu tanpa ekspresi.
Beberapa jam berlalu. Pintu kamar akhirnya terbuka. Tara muncul di ambang pintu masih mengenakan seragam Santara. Di pelukannya ada Duren, kucing oranye kesayangannya. Annerta berdiri di depan pintu dengan kedua tangan terlipat di dada. Posisi tubuhnya tegak dan diam, seolah memang sudah menunggu sejak lama.
"Jelaskan!" ucapnya dingin.
"Sebelum saya mematahkan benda itu menjadi beberapa bagian." Sambungnya.
"Itu rumah buat Duren" katanya cepat sambil tersenyum kaku.
"Kamu kan marah kalau dia berkeliaran. Apalagi kalau aku taruh di kamar mandi."
Ia melangkah masuk dan meletakkan Duren ke dalam kotak besar itu. Di dalamnya tampak kandang kecil dengan alas empuk dan beberapa mainan.
"Lihat? Ada tempat tidurnya, ada mainannya. Aman."
"Tara, bukankah saya sudah memperingatkanmu soal alergi saya." Balas Annerta.
"Aku janji, Duren tidak akan menyentuhmu." Sahut Tara.
"Kau benar-benar tidak bisa diberi tahu, ya."
Tara mengangkat bahu kecil.
"Annerta, santai. Aku kasih nyawaku sebagai jaminanya, oke?"
Tatapan Annerta tak berubah.
"Baik" katanya pelan.
"Jika sekali saja binatang itu menyentuh saya, hari itu juga kau berhenti menghirup udara."
Tara tertawa kecil, meski jelas tidak sepenuhnya santai. Tak lama kemudian, ponsel Tara yang tergeletak di meja belajar berbunyi. Notifikasi pesan masuk. Ia berjalan ke arah meja dan mengangkat ponselnya. Keningnya langsung berkerut.
"Tumben sekali pemanah ini ngechat" gumamnya.
Ia membuka pesan itu.
'Tara, bilang ke Annerta. Aku sudah di tempat.'
Mata Tara membelalak. Lalu ia menoleh ke arah Annerta dengan senyum lebar yang terasa terlalu berlebihan.
"Ohhh..." ucapnya pelan.
"Diam-diam kamu dekat dengan adik iparku."
"Apa maksud ucapanmu?" tanya Annerta dingin.
Tara mengangkat ponselnya.
"Ini Jovi Nanda. Katanya, 'aku sudah di tempat'. Cieee. Gitu dong, biar kelihatan seperti makhluk hidup."