Lorong kamar mandi Santara terlihat sunyi. Lampu-lampu putih di langit-langit memantul di lantai keramik yang basah oleh sisa pel. Annerta melangkah masuk dengan langkah biasa. Ia hanya melirik sekilas ke arah wastafel. Seseorang berdiri di sana. Rambut panjang tergerai menutupi sebagian wajah, tubuhnya sedikit membungkuk ke depan. Air mengalir deras dari keran, menimpa kedua tangannya yang terus digosok.
Annerta mengenal punggung itu, ternyata itu Tara. Ia tidak berhenti, tidak juga menoleh. Hanya menggosok tangannya, lagi dan lagi, seperti sedang mencoba menghapus sesuatu yang tidak terlihat. Annerta tidak mengatakan apa pun. Ia mengalihkan pandangan dan masuk ke salah satu bilik toilet.
Beberapa menit kemudian, ia keluar. Suara air masih sama, gerakannya juga masih sama. Tara masih berdiri di posisi yang sama, menunduk, menggosok tangannya dengan gerakan yang lebih cepat dan kasar. Annerta berhenti di depan wastafel. Ia memperhatikan lebih jelas.
Kulit tangan Tara memerah. Di beberapa bagian tampak lecet, bahkan sedikit terbuka, seolah lapisan atas kulitnya terkikis oleh gesekan yang terus diulang. Air di wastafel tercampur dengan warna kemerahan pucat.
"Tara?" panggil Annerta pelan.
Tidak ada jawaban.
"Tara, kamu sedang apa?" tanyanya, sedikit lebih keras.
Tara tetap tidak menoleh. Gosokannya justru semakin kuat, seakan tidak merasakan sakit. Annerta melangkah mendekat. Ia meraih pergelangan tangan Tara dan menariknya menjauh dari aliran air.
"Hentikan Tara, kau melukai dirimu!" ujar Annerta lebih keras.
Annerta yang masih berusaha menghentikan Tara pun di balas dengan dorongan keras. Hingga membuat Annerta kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di lantai yang licin. Punggungnya membentur dinding bilik dengan bunyi tumpul.
Air masih mengalir, Langkah kaki terdengar mendekat. Tara berdiri tegak sekarang, namun ada yang salah. Wajahnya masih wajah Tara. Rambutnya masih rambut Tara. Seragamnya masih sama. Tapi matanya, Hitam seluruhnya. Tanpa putih, tanpa cahaya. Bibirnya melengkung perlahan, membentuk senyum yang lebar.
"Kau Lamdara, Annerta," ucapnya dengan suara Tara, namun nadanya bukan milik Tara.
"Kau Lamdara!!!"
Ia melangkah makin mendekat. Satu langkah, dua langkah. Annerta mencoba bergerak, tapi tubuhnya tiba-tiba membeku. Seolah lantai mencengkeramnya dari bawah. Napasnya tercekat di tenggorokan. Bayangan sosok Tara itu langsung menghilang setelah terdengar langkah kaki dari luar. Pintu kamar mandi terbuka sedikit dan terlihatlah ada Anin disana.
"Annerta, Apa yang kau lakukan di situ?" tanya Anin.
Annerta tersentak. Matanya langsung beralih ke arah wastafel yang kini kosong.
"Tadi..." ucap Annerta, lalu terdiam.
Ia menelan kalimatnya sendiri.
"Tidak ada apa-apa, saya hanya terpeleset." ujar Annerta ringan.
Anin memandangnya beberapa detik, seolah ingin bertanya lebih jauh, tapi tidak berkata apa pun. Annerta bangkit cepat dan keluar dari kamar mandi. Begitu melewati ambang pintu, ia berhenti mendadak. Seseorang berdiri di lorong.
"Tara?"
Gadis itu menoleh.
"Annerta, Kamu kenapa?" tanya Tara, alisnya berkerut.
"Kusut banget." Sambungnya.
Annerta menatapnya lekat, mencari sesuatu di matanya.
"Kenapa?" tanya Tara lagi.
"Kamu sakit?"