Annerta berjalan cepat menyusuri jalan setapak di belakang sekolah, mencoba mengatur napasnya agar kembali normal. Namun, langkahnya terhenti saat sosok Bu Sintia berdiri tegak di tengah jalan, seolah memang sengaja memotong jalur mereka.
"Dari mana kalian?" tanya Bu Sintia. Matanya menyipit, menatap silih berganti antara Annerta dan Datruna.
Belum sempat Annerta membuka mulut, Datruna sudah menyela dengan suara tenang yang terukur.
"Annerta tersesat di area belakang tadi, Bu. Saya kebetulan lewat dan membantunya menemukan jalan kembali."
"Benar begitu, Annerta?" tanya Bu Sintia.
Annerta tidak menatap balik. Ia justru menundukkan pandangannya yang tajam, menyembunyikan kilat kegelisahan di matanya.
"Iya, Bu. Saya permisi dulu, saya sudah hampir terlambat masuk kelas" ucap Annerta dingin.
Tanpa menunggu izin, Annerta melangkah lebar meninggalkan mereka. Datruna hendak menyusul, namun sebuah tangan mencengkeram pergelangan lengannya dengan kuat. Langkah Datruna terhenti.
"Kau membawanya ke Sungai Talas?" bisik Bu Sintia, suaranya kini terdengar rendah dan penuh penekanan.
Datruna hanya diam. Ia menatap tangan Bu Sintia sejenak, lalu melepaskannya dengan gerakan perlahan namun tegas. Tanpa sepatah kata pun, ia menyusul Annerta masuk ke dalam gedung Santara.
***
Suasana kelas tampak tenang. Di depan sana, Pak Lium sudah berdiri memegang buku pelajaran Bahasa Ingris dengan tangan yang tampak sedang menerangkan pelajaran. Namun suasana itu berubah saat Annerta muncul diambang pintu kelas.
"Kenapa kau terlambat, Annerta?" tanya Pak Lium tegas.
"Saya..." Kalimat Annerta terputus saat bayangan tinggi Datruna muncul tepat di belakangnya, ikut memasuki kelas.
Seluruh mata tertuju pada mereka. Suasana kelas yang tadinya sunyi berubah menjadi bisik-bisik yang riuh. Jovi menatap mereka dengan rahang yang mengeras.
"Kalian berdua dari mana?" tanya Pak Lium sekali lagi, kali ini dengan nada yang lebih curiga.
"Saya terkunci di kamar mandi cukup lama, Pak. Itu yang membuat saya terlambat" ujar Annerta. Suaranya datar, tapi matanya tidak fokus menatap Pak Lium.
"Lalu Datruna menjadi pahlawan dan menolongmu?" sahut Pak Lium sarkastik.
Sontak, seluruh kelas bersorak dan bersiul nakal, menggoda mereka berdua. Annerta tetap diam.
"Bukan, Pak. Saya ketiduran di bawah pohon oak di belakang sekolah" timpal Datruna santai, seolah tidak peduli dengan sorakan teman-temannya.
Wajah Pak Lium seketika berubah serius.
"Pohon oak? Itu dekat dengan Sungai Talas. Jangan sampai kalian berani ke sana."
Pak Lium melangkah maju, menegaskan suaranya.
"Kalian tahu sendiri, itu adalah titik energi kosong. Tanpa pagar perlindungan, kalian bisa bertemu monster atau mungkin saja kaum Lamdara di sana. Jangan pernah ke sana. Mengerti?"
"Mengerti, Pak," gumam mereka hampir bersamaan.
"Ya sudah, kembali ke tempat kalian."