Annerta : Part of Aquira

Ann Aizawa
Chapter #20

The Nanda Brothers

Darma mengayunkan tangannya ke bawah dan dalam sekejap, pasir di gelanggang beterbangan. Dio melesat seperti peluru. Pukulan pembukanya adalah sebuah jab cepat yang hanya mampu dihindari Jovi dengan selisih beberapa milimeter. Tak memberi napas, Dio menyambungnya dengan kombinasi hook kiri dan kanan yang brutal.

Jovi dipaksa mundur hingga ke tepian lingkaran gelanggang. Ia berusaha menangkis, melindungi wajahnya dengan kedua lengan, namun kekuatan fisik Dio yang terbiasa dengan kerasnya aspal jalanan terasa seperti hantaman palu godam. 

Bugh!

Satu pukulan Dio mendarat di rusuk Jovi, membuatnya tidak seimbang.

"Mana ramalanmu, Jov?!. Apa kau tidak melihat kepalan tanganku akan datang?" raung Dio sambil melayangkan tendangan memutar yang mengenai bahu Jovi.

Jovi mencoba membalas. Ia memanfaatkan kelincahannya sebagai pemanah untuk masuk ke celah pertahanan Dio. Sebuah pukulan lurus dari Jovi sempat mengenai rahang Dio, namun Dio hanya meludah ke samping, seolah pukulan itu tidak lebih dari gigitan nyamuk.

Mereka terlibat dalam baku hantam jarak dekat yang sengit. Suara kepalan tangan yang bertemu daging terdengar tumpul di antara sorak-sorai penonton. Namun, stamina dan pengalaman tarung jalanan Dio perlahan mendominasi. Dio menangkap pergelangan tangan Jovi, menariknya kasar dan mendaratkan serangan lutut tepat ke arah perut.

Jovi terbatuk, oksigen seolah direnggut paksa dari paru-parunya. Tumpuan kakinya goyah, pandangannya sedikit berbayang. Di saat itulah, Dio mengambil ancang-ancang terakhirnya. Ia memutar pinggulnya, menyalurkan seluruh beban tubuhnya pada kepalan tangan kanan. Sebuah pukulan cross mendarat telak di pipi Jovi, disusul tendangan rendah yang membuat tumpuan kaki sang pemanah goyah.

Satu pukulan terakhir, sebuah hantaman lurus menghujam tepat di dada Jovi. 

Brak! 

Tubuh Jovi terlempar ke belakang, menghantam pasir hingga debu mengepul. Jovi terbatuk hebat, cairan merah kental merembes keluar dari sudut mulutnya. Ia terkapar, napasnya tersengal-sengal di bawah sorotan lampu Sanggraha yang menyilaukan.

Dio tidak berhenti. Ia melangkah maju dengan angkuh, lalu mengangkat kakinya tinggi-tinggi, bersiap menginjak kepala adiknya untuk mengakhiri segalanya. Namun, dengan sisa tenaga yang ada, kedua tangan Jovi bergerak cepat menangkap pergelangan kaki Dio.

Jovi menahan sekuat tenaga. Tubuhnya bergetar hebat menahan beban kaki kakaknya yang terus menekan ke bawah. Dio terus memberikan tekanan, matanya yang gelap menatap rendah ke bawah. Namun, saat tatapan mereka bertemu, gerakan Dio mendadak terkunci. Di balik debu dan darah, ia melihat mata Jovi berkaca-kaca. Air mata jatuh membasahi pipi sang adik yang lebam. Tidak ada kebencian di sana, hanya ada kerinduan yang amat dalam.

Hati Dio yang semula membatu tiba-tiba retak. Rasa iba yang telah ia kubur dalam-dalam menyeruak naik, membunuh segala amarahnya. Secara mendadak, Dio melemaskan otot kakinya. Ia sengaja kehilangan keseimbangan dan menjatuhkan dirinya ke pasir dengan bunyi tumpul, seolah-olah Jovi baru saja berhasil membantingnya.

Jovi, yang tidak menyadari sandiwara itu, segera bangkit dengan sisa tenaganya. Ia naik ke atas tubuh Dio, menduduki perut kakaknya dan mulai melayangkan pukulan bertubi-tubi ke wajah Dio.

Bugh! Bugh! Bugh!

Pukulan itu mendarat di wajah Dio, namun bagi Dio, rasanya masih sama seperti belasan tahun lalu. Lemah, tidak bertenaga. Dio berpura-pura meronta, kedua tangannya memegang bahu Jovi seolah mencoba mendorongnya menjauh, namun ia sengaja membiarkan dirinya tetap tertindih. Darah mulai mengucur dari hidung Dio, menghiasi wajahnya yang kini hanya bisa menatap langit-langit gedung.

Darma melihat kondisi Dio yang mulai lemas dan bersimbah darah. Ia segera masuk dan menarik Jovi menjauh. 

Lihat selengkapnya