Annerta : Part of Aquira

Ann Aizawa
Chapter #21

Aquira

Sungai Talas menyambut Annerta dengan gemericik air yang deras dan kabut tipis yang menyelimuti bebatuan besar di tepiannya. Suasana di sini terasa berbeda dari area sekolah, udaranya lebih berat, seolah setiap helai oksigen mengandung banyak energi yang tak kasat mata.

Di atas sebuah batu datar yang menjorok ke sungai, tampak sosok Datruna. Hoodie hitamnya menutupi kepala, menyembunyikan sebagian wajahnya dalam bayangan. Ia berdiri membelakangi Annerta, sesekali melempar batu kecil ke arah arus sungai dengan gerakan yang santai namun presisi. Setiap batu yang menyentuh air tidak menimbulkan cipratan besar, melainkan riak sempurna yang aneh. Mendengar langkah kaki yang menginjak ranting kering, Datruna menoleh pelan. Sudut bibirnya terangkat tipis melihat sosok berjaket abu-abu itu berdiri tegak di hadapannya.

"Kau datang juga" ujar Datruna.

"Saya tidak ingin banyak basa-basi. Bisakah kita mulai sesi latihannya?" jawab Annerta cepat.

Datruna membuang batu terakhir di tangannya ke dalam saku, lalu melangkah turun mendekati Annerta. 

"Kekuatan bukan soal otot, Annerta. Terutama bagi kita yang terhubung dengan elemen cair. Air tidak melawan, ia mengikuti. Jika kau mencoba memaksanya, ia akan hancur atau justru menghancurkanmu."

Datruna berdiri di depan Annerta, memberi jarak sekitar satu meter. 

"Tutup matamu."

Annerta mengerutkan kening sejenak namun akhirnya menurut.

"Atur napasmu. Jangan bernapas seolah kau sedang berlari. Bernapaslah seolah kau adalah bagian dari arus sungai ini."

"Tarik dari dalam dadamu, lepaskan perlahan melalui ujung jemarimu" instruksi Datruna dengan nada rendah yang menenangkan.

Annerta mulai mengikuti irama itu. Hening sejenak. Hanya ada suara air yang membentur batu.

"Sekarang, jangan bayangkan air itu ada di luar sana" lanjut Datruna, kini posisinya sudah berada di belakang Annerta, membimbing posisi tangan gadis itu agar terbuka ke arah sungai.

"Percayalah bahwa kekuatan itu sudah ada padamu. Darahmu, keringatmu, air matamu. Semuanya adalah air. Kau hanya perlu mengundang air di sungai itu untuk mengenali saudaranya di dalam tubuhmu."

Annerta merasakan hawa dingin yang menjalar dari telapak tangannya. Matanya masih terpejam, namun di dalam pikirannya, ia mulai merasakan denyut aliran sungai yang selaras dengan detak jantungnya.

"Panggil dia, Annerta. Perintah mereka, seolah kau adalah tuannya."

Perlahan, permukaan sungai di depan mereka mulai bergejolak. Sebuah gumpalan air perlahan terangkat, memutar dan terbang kecil menuju telapak tangan Annerta.

"Buka matamu, perlahan" bisik Datruna tepat di samping telinganya.

Annerta membuka kelopak matanya dengan hati-hati. Jantungnya berdesir hebat saat melihat sebuah bola air seukuran kepalan tangan melayang anggun hanya beberapa senti di atas telapak tangannya. Air itu jernih, berputar mengikuti irama napasnya yang kini mulai teratur. Ada rasa takjub yang sempat melintas di wajah dinginnya. Sebuah keajaiban yang selama ini hanya ia lihat dari jauh, kini berada di bawah kendalinya.

Namun, rasa takjub itu menjadi bumerang. Fokusnya goyah. Seketika itu juga, bola air itu kehilangan bentuknya dan jatuh membasahi sepatu bot Annerta.

"Jangan alihkan fokusmu pada hasil. Fokuslah pada alirannya" tegur Datruna, suaranya kembali dingin dan menuntut.

Annerta mencoba kembali. Ia memejamkan mata, berusaha memanggil kembali koneksi yang tadi sempat terjalin. Namun, kali ini ada yang berbeda. Sungai Talas bukan sekadar aliran air biasa, ini adalah titik energi kosong, tempat di mana sisa-sisa kekuatan lama dan kegelapan mengendap.

Tiba-tiba, suasana di sekitar Annerta terasa berubah. Suara gemericik air yang tadinya menenangkan kini berubah menjadi bisikan-bisikan samar yang saling tumpang tindih.

"Siapa kau?..." 

"Darah yang tercampur..." 

Lihat selengkapnya