Annerta : Part of Aquira

Ann Aizawa
Chapter #22

Rahasia

Beberapa hari telah berlalu sejak insiden mencekam di Sungai Talas. Keadaan mulai kembali normal, meski kecurigaan Tara pada Datruna belum sepenuhnya padam. Malam itu, suasana asrama Santara begitu tenang hingga suara ketukan pelan di pintu kamar Annerta terdengar sangat jelas. Annerta beranjak membuka pintu. Di sana berdiri Vanda, yang menyodorkan sebuah buku bersampul kulit dengan warna coklat tua.

"Ini buku yang kamu cari, Annerta. Aku sudah pinjamkan 3 hari dari Museum Vaya, setelah 3 hari kembalikan padaku ya" ujar Vanda.

"Terima kasih, Vanda. Saya akan mengembalikannya sebelum hari ke 3" jawab Annerta pelan sebelum menutup pintu kembali.

Tara yang sedari tadi melihat di balik selimutnya langsung duduk tegak. Rasa penasarannya bangkit seketika. 

"Buku apa itu, Annerta?"

Annerta tidak menjawab, ia membawa buku itu ke meja belajarnya. Cahaya lampu meja yang remang menerangi jemarinya saat ia mengusap sampulnya yang bertuliskan 

Hierarki Spiritual Parinasta.

Melihat Annerta begitu serius, Tara menyeret kursinya, duduk di samping sahabatnya itu. 

"Aku mau baca juga. Jangan pelit-pelit ilmu."

"Asal kamu tidak berisik, saya izinkan" balas Annerta.

"Iya.. iya, galak banget" ujar Tara.

Lalu Annerta mulai membuka buku itu dengan perlahan.

I. Spiritual Dasar (Pernapasan Awal) Warisan Leluhur. Kekuatan ini bukan dipelajari, melainkan diturunkan sejak lahir. Setiap anak Parinasta memiliki benih elemen yang sudah mengalir di dalam darah mereka sebagai identitas dasar.

II. Spiritual Lanjutan (Pernapasan Lanjutan) Tahap untuk mereka yang kekuatannya belum sempurna atau terlambat bangkit. Fokusnya adalah mengatur ulang napas dan kontrol diri agar darah elemen tidak menjadi racun bagi tubuh sendiri.

III. Spiritual Akhir (Pernapasan Akhir) Disini, Parinasta tidak lagi mengandalkan gerak fisik. Pikiran sudah menjadi kemudi utama. Hanya dengan pernafasan yang teratur dan fokus, elemen akan bergerak mengikuti kehendak sang pemilik.

IV. Spiritual Inti (Kemandirian) Tahap di mana mereka tidak lagi memerlukan elemen tambahan dari alam (misal, Aquira membutuhkan media air atau Bumi membutuhkan media tanah). Kekuatan sepenuhnya diproduksi dari dalam jiwa dan darah mereka sendiri.

V. Spiritual Manifestasi (Tunggal) Seseorang telah dianggap "khatam". Segala teknik dasar hingga rumit sudah dikuasai dengan sangat baik. Di titik ini, Parinasta adalah senjata hidup yang sudah stabil.

VI. Spiritual Guru (Sang Penuntun) Memerlukan dedikasi dan ketukan batin selama 25 tahun untuk sampai tahap ini. Mereka tidak hanya ahli, tapi mampu melihat aliran darah elemen orang lain. Hanya mereka yang sampai di sini yang layak mewariskan ilmu. Biasanya, seorang guru sudah di tahap Spirutual ini.

VII. Spiritual Agung (Persembahan) Tingkat tertinggi sekaligus yang paling gelap. Untuk mencapai gerbang ini, seorang Parinasta harus melakukan kontrak dengan Duktra, dewa spiritual yang haus akan pengabdian. Syaratnya mengerikan, yaitu Persembahan Jiwa. Sang pengguna harus menumbalkan jiwa orang yang paling berharga dalam hidupnya, kekasih, orang tua atau anak. Demi mendapatkan kekuatan tingkat akhir. Mereka yang berada di tahap ini adalah penguasa ego yang telah membunuh nuraninya sendiri.

Malam semakin larut, namun suasana di meja belajar itu justru semakin memanas. Terlihat Tara merasa sedikit merinding setelah membaca part terakhir tentang Spiritual VII.

"Masa ada sih yang mau numbalin orang paling disayang demi kekuatan tingkat akhir ini? Itu gila." seru Tara.

 Namun, ia menyadari Annerta hanya terdiam dengan tatapan kosong. 

"Annerta? Kok ngelamun? Kamu tahu sesuatu ya?" tanya Tara.

Annerta tersadar, ia menutup buku itu perlahan. 

"Saya mau tanya tentang Datruna. Informasi apa pun yang kamu tahu tentang dia, beritahu saya, Tara" ucap Annerta dingin.

Tara langsung menyipitkan mata, senyum jahil terukir di wajahnya. 

"Tuh kan!. Kamu beneran suka sama pria misterius vintage itu!"

"Kenapa kamu dan Vanda, sering bilang dia vintage?" tanya Annerta datar.

Lihat selengkapnya