Annerta : Part of Aquira

Ann Aizawa
Chapter #23

Berkas

Matahari baru saja mulai condong ke barat saat bel pergantian jam pelajaran terakhir berdering. Di koridor gedung utama Vidyalaya Santara, dua gadis tampak berjalan dengan langkah yang jauh lebih cepat daripada siswa lainnya.

Tara sesekali melirik layar ponselnya, jemarinya bergerak lincah di atas permukaan kaca. 

"Sudah kupesan" bisiknya pada Annerta sambil menunjukkan layar yang menampilkan posisi mobil yang sedang bergerak menuju gerbang sekolah. 

"Lima menit lagi mobilnya sampai. Surat izin dari Bu Wudya juga sudah aman" sambung Tara.

Annerta hanya mengangguk singkat. Wajahnya datar, namun sorot matanya menunjukkan fokus yang tajam. Bagi Annerta, setiap detik yang terbuang adalah celah bagi rahasia Datruna untuk terkubur lebih dalam.

Namun, langkah terburu-buru mereka mendadak terhenti. Di tengah persimpangan koridor, sosok Dio muncul dengan gaya yang luar biasa dramatis. Ia berdiri tegak, menghalangi jalan mereka dengan setangkai bunga mawar merah yang dijepit di mulutnya. Dari balik punggungnya, ia mengeluarkan sebuah kotak kado berhias pita cantik.

Dio melepaskan mawar itu dengan tangannya, lalu membungkuk hormat. 

"Hadiah untuk Tuan Putri" ujarnya dengan suara yang dibuat selembut mungkin.

Mata Tara berbinar seketika. 

"Aaaa, akhirnya!" seru Tara.

Lalu, Tara dengan buru-buru membuka kotak hadiah itu. Terlihat ada gantungan kunci dengan gambar burung gagak disana. Lalu ia mulai memasukannya kembali ke dalam kotak itu.

"Bagus banget. Tapi ini dua juta?" tanya Tara

"Eeee..." gumam Dio

"Cepat, Tara. Kita punya urusan yang jauh lebih mahal daripada ini" ucap Annerta dingin, suaranya memutus atmosfer merah jambu di antara mereka.

"Aku pergi dulu ya, Dio. Makasih kadonya" ucap Tara dengan wajah memerah, tersipu malu.

Tara menyusul langkah Annerta yang sudah mulai menjauh, namun sebuah tarikan lembut di tangannya membuat ia berbalik. Dio meraih jemari Tara, lalu dengan gerakan perlahan memberikan setangkai bunga mawar tadi langsung ke tangan gadis itu. Tara tersenyum hangat, rasa bahagia terpancar jelas dari wajahnya. Sambil memegang bunga dan kotak hadiah erat-erat, ia segera berlari kecil mengejar Annerta menuju gerbang sekolah.

Di sana, sebuah mobil taxi online sudah menunggu. Begitu pintu tertutup, mesin menderu pelan meninggalkan lingkungan sekolah yang tenang, membawa mereka menuju hiruk-pikuk Stasiun Nusa Arunika (SNA).

***

Deru mesin kereta dan pengumuman keberangkatan menyambut Annerta dan Tara saat mereka tiba di Stasiun Nusa Arunika (SNA). Masih dengan seragam kebanggaan Vidyalaya Santara yang mencolok, kehadiran mereka tentu saja mengundang perhatian. Belum sempat melangkah lebih jauh ke area peron, seorang petugas keamanan bertubuh tegap menghadang langkah mereka.

"Hei, kalian anak sekolah! Mau ke mana jam segini?" tegur satpam itu dengan nada tegas, matanya mengamati seragam mereka dari atas ke bawah.

"Permisi, Pak. Kami mau bertanya soal teman kami yang katanya kerja paruh waktu di sini." ucap Tara.

Satpam itu mengernyitkan dahi, seolah mendengar lelucon yang tidak lucu. 

"Teman kalian kerja di sini?. Kalian kira stasiun ini mempekerjakan anak di bawah umur? Tidak ada yang seperti itu."

"Eee... dia kerjanya malam" sambung Tara cepat.

"Sudah saya katakan, tidak ada!. Tidak mungkin ada anak yang belum tamat sekolah kerja di sini. Sudah sana, kalian kembali ke sekolah. Ini masih jam belajar" ujar satpam itu ketus.

"Malah bolos kalian ini" sambungnya.

Melihat Tara mulai terpojok, Annerta melangkah maju. Ia berdiri di depan satpam itu, memberikan tatapan tajam yang membuat suasana di sekitar mereka mendadak terasa lebih dingin.

Lihat selengkapnya