Annerta : Part of Aquira

Ann Aizawa
Chapter #24

Topeng

Suasana di dalam kantor stasiun terasa begitu menekan. Annerta dan Tara kini duduk berdampingan di kursi sofa, sementara Satpam yang tadi menghadang mereka dan Satrio berdiri di hadapan mereka dengan wajah serius. Staf wanita yang menangkap basah mereka tadi tampak sedang mencatat sesuatu di meja seberang, mungkin sebuah laporan pelanggaran.

Annerta tetap tenang, tangannya diam-diam meraba sobekan kertas yang ia sembunyikan dengan rapat di saku roknya. Sementara itu, Tara tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya, kakinya bergetar pelan dan ia terus menunduk, menghindari kontak mata dengan para petugas.

"Kalian tahu, menyusup ke ruang arsip itu tindakan kriminal?" cetus satpam yang galak tadi sambil menggelengkan kepala.

Satrio hanya mengawasi mereka dalam diam.

"Apa yang kalian cari disana?" tanya Satrio.

Tiba-tiba, pintu kantor terbuka lebar. Seorang pria dengan setelan jas rapi dan langkah yang sangat berwibawa masuk ke dalam ruangan. Kehadirannya seketika mengubah atmosfer. Pria itu tidak langsung menghampiri kedua gadis tersebut, melainkan berbicara pelan dengan satpam yang galak di sudut ruangan.

Satrio tetap berada di posisinya, mengawasi Annerta dan Tara dengan tatapan waspada. Annerta memperhatikan interaksi di sudut ruangan itu. Pria berjas tersebut tampak memberikan instruksi singkat yang langsung dipatuhi tanpa bantahan oleh para petugas. Setelah pembicaraan selesai, pria berwibawa itu berjalan menuju arah Annerta dan Tara. Suara langkah sepatunya yang mengkilap bergema di lantai kantor yang sunyi.

Pria itu berhenti tepat di depan mereka, lalu menatap Tara.

"Tara, kamu dan temanmu sudah bisa kembali ke sekolah sekarang dengan mobil didepan. Masalahnya sudah selesai" ucap pria itu dengan suara berat namun tenang.

Tara mendongak, wajahnya yang tadi pucat kini menunjukkan raut lega yang luar biasa. Ia berdiri dengan cepat, seolah beban berat baru saja diangkat dari bahunya.

"Terima kasih, Rafi." ucap Tara dengan suara tulus.

***

Begitu keluar dari area stasiun, Annerta langsung menoleh ke arah Tara. 

"Siapa itu?" tanya Annerta.

"Dia Rafi, pengacara keluarga aku. Dia baik banget. Aku tadi sempat kirim pesan SOS ke dia dan langsung share location pas kita dibawa ke kantor" ucap Tara dengan nada bangga.

"Cerdas kan, aku?" lanjutnya.

Annerta hanya meliriknya sekilas sebelum kembali berjalan. 

"Cukup berguna" jawabnya dingin.

Di depan gerbang stasiun, sebuah mobil Mercedes-Benz hitam yang berkilau sudah menunggu mereka. Itu adalah mobil keluarga Tara yang dibawa oleh Rafi. Tara segera membuka pintu dan masuk, diikuti oleh Annerta yang duduk di sampingnya.

"Ke sekolah, Pak" ujar Tara pada sang sopir.

"Baik, Non" jawab sopir itu.

Suasana di dalam kabin mobil itu sangat kontras dengan hiruk-pikuk stasiun yang baru saja mereka tinggalkan. AC yang sejuk dan jok kulit yang empuk membuat ketegangan sedikit mencair. Namun, Annerta tidak berniat untuk beristirahat. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan lipatan kertas yang sempat ia sobek dengan nekat dari ruang arsip tadi.

"Kamu sempat ambil?" tanya Tara.

"Iya, supaya saya bisa selidiki lebih lanjut tanpa terburu-buru" ujar Annerta sambil membuka lipatan kertas itu dengan sangat hati-hati di atas pangkuannya.

Tara ikut mencondongkan tubuhnya, berusaha mengintip isi kertas tersebut. 

"Kok fotonya nggak jelas sih?. Wajahnya tertutup noda"ucap Tara.

Annerta menyentuh permukaan kertas yang kasar itu. 

"Berkas lama. Kertasnya sudah menguning dan lembap, makanya kondisinya seperti ini."

Mata mereka berdua tertuju pada baris nama yang masih terbaca jelas di bagian atas formulir tersebut.

"David Trudarmana?. Singkatan nama Datruna nih pasti" gumam Tara.

"Eh, tapi kayak pernah denger" lanjutnya.

"Kamu tahu?" tanya Annerta.

Tara sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menyengir lebar. 

"Mungkin nama artis, hehehe!" tawanya pecah, mencoba mencairkan suasana serius yang dibangun Annerta.

Lihat selengkapnya