Annerta : Part of Aquira

Ann Aizawa
Chapter #25

Misi 1

Lampu meja di kamar Annerta adalah satu-satunya sumber cahaya yang tersisa. Tara sudah tampak tenang di balik selimutnya, mencoba untuk tidur. Namun, Annerta masih duduk tegak. Matanya tidak lepas dari sobekan kertas kusam bertuliskan David Trudarmana.

Ia menyapukan jarinya pada noda lembap yang menutupi foto di kertas itu. Pikirannya berputar cepat. "David Trudarmana. Lulus 2010. Punya anak perempuan. Dipecat karena stres" Data itu tidak cocok dengan sosok Datruna yang ia kenal sebagai siswa yang terlihat sangat tenang dan dingin, tapi instingnya mengatakan ada benang merah yang sengaja dikaburkan.

"Tara" bisik Annerta. Suaranya rendah, membelah kesunyian.

Tara menyembul dari balik selimut, matanya mengerjap. 

"Apa lagi, Annerta? Ini sudah jam sepuluh lewat. Kalau Shani balik lagi dan kita belum merem, bisa gawat." ucap Tara.

"Kita ke kamar 309L. Sekarang." tegas Annerta.

"Kamar Datruna?. Kamu gila? Itu asrama putra, Annerta! Kita benar-benar nggak akan ikut perayaan Holy kalau sampai ketawan" balas Tara.

"Fatah bilang Datruna sering pergi saat jam malam dan baru kembali saat fajar" balas Annerta sambil mengenakan jaket abu-abunya. 

"Ini waktu terbaik. Saya harus memastikan apakah David adalah Datruna, atau Datruna adalah anak David yang hilang."

Tara menghela napas panjang, namun ia tidak bisa membiarkan sahabatnya pergi sendiri. Dengan gerutuan pelan, ia meraih cardigan-nya. 

"Oke, oke. Tapi kalau kita tertangkap, aku akan bilang kamu yang menghipnotis aku." ujar Tara.

***

Koridor asrama putra terasa jauh lebih mencekam saat malam hari. Bau kayu tua dan aroma pembersih lantai yang tajam menyambut mereka. Annerta melangkah tanpa suara, sementara Tara berjinjit di belakangnya, memegang ujung jaket Annerta erat-erat.

Mereka berhenti di depan pintu kayu bernomor 309L. Annerta menempelkan telinganya ke pintu. Tidak terdengar adanya tanda-tanda orang didalam. Ia mencoba memutar kenop pintu perlahan. Keberuntungan kembali berpihak, pintu itu tidak dikunci. Tampaknya Fatah juga sedang tidak ada di kamarnya.

Ruangan itu pengap. Ada dua ranjang yang berseberangan. Ranjang di sisi kiri tampak berantakan dengan buku-buku dan spanduk Vras, itu milik Fatah. Sementara ranjang di sisi kanan, milik Datruna, tertata sangat rapi. Annerta segera bergerak menuju lemari kecil di samping tempat tidur Datruna. Ia membukanya perlahan, suara engsel yang berderit membuat Tara hampir melompat karena kaget.

"Annerta, cepat sedikit. Kalau ada penjaga asrama yang lewat, kita tamat" bisik Tara sambil berjaga di ambang pintu, matanya melirik gelisah ke koridor.

Annerta tidak menjawab. Jemarinya yang ramping menyisir isi lemari. Tangannya terhenti saat ia menemukan  sebuah smartwatch dengan layar yang retak di sudutnya. Annerta mengambil jam itu. Ia merasa ini bukan milik Datruna. Karena Datruna tidak pernah terlihat mengenakan jam tangan apapun.

"Apakah ini jam yang di bicarakan Jovi?" desis Annerta.

Tara, yang mulai tidak tenang melihat Annerta terpaku di depan lemari, kembali memanggil dengan suara tertahan. 

"Annerta! Kamu ngapain? Ayo cepat!"

Tanpa membuang waktu, Annerta memasukkan smartwatch itu ke saku jaket abu-abunya. Ia mencoba mencari lagi di bagian bawah lemari, namun nihil. Saat ia bergegas hendak pergi, kakinya tersangkut pojokan ranjang.

Bugh!

Annerta jatuh tersungkur. Namun, saat ia hendak bangkit, matanya menangkap sesuatu di kegelapan bawah ranjang. Sebuah kotak kayu tua terselip di sana. Annerta segera merangkak dan meraihnya. Tara yang melihat Annerta terjatuh langsung menghampiri dengan wajah cemas. 

"Kamu nggak apa-apa, Annerta?" tanya Tara.

Lihat selengkapnya