Annerta : Part of Aquira

Ann Aizawa
Chapter #26

Misi 2

Langkah kaki Annerta terdengar berat saat ia menuruni tangga gedung utama, meninggalkan ruangan Bu Wudya dengan gumpalan kemarahan yang tertahan di dadanya. Jovi masih berdiri di ambang pintu, menatap punggung gadis itu yang tampak kaku.

"Apapun yang terjadi, saya harus ke SMA Triwalaka besok" gumam Annerta. 

Ia terus berjalan, membiarkan Jovi sendirian dalam kebingungan tentang rencana nekat apa yang akan diambil rekan sementaranya itu.

***

Sementara itu, di kamar 076L, suasana jauh lebih santai. Setidaknya sampai beberapa menit. Tara sedang duduk bersila di depan kandang, mencoba membujuk Duren untuk menghabiskan makanannya.

Tok... tok...

Pintu kamar yang hanya terbuka sedikit itu diketuk pelan. Tara menoleh dan mendapati sosok Dio berdiri di sana dengan senyum miring andalannya.

"Dio? Sedang cari siapa kamu di sini? Ini area asrama putri, loh." tanya Tara sambil bangkit berdiri.

"Tentu saja, mencari Tuan Putriku. Siapa lagi?" jawab Dio ringan.

Wajah Tara merona merah seketika. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa tersipunya, lalu mempersilakan Dio masuk ke dalam kamar. Tara mengajaknya mendekati kandang Duren. Berniat pamer, Tara membuka pintu kandang kecil itu agar Duren bisa menyapa tamu mereka.

Namun, bukannya mengeong manja, Duren justru melompat keluar dengan bulu yang berdiri tegak. Tanpa peringatan, kucing itu menyerang Dio secepat kilat. Cakar-cakar tajamnya mendarat telak di dahi dan punggung tangan Dio.

"Aduh. Sialan!" seru Dio.

"Duren! Astaga, kamu nggak boleh nakal gitu ya!" ucap Tara panik, segera mengangkat Duren dan memasukkannya kembali ke kandang.

Duren tidak menyerah. Di dalam kandang, ia terus menggertakkan gigi dan mencakar-cakar jeruji besi sambil menatap Dio dengan pandangan sangat benci.

"Kamu nggak apa-apa, Dio? Bentar, aku obatin ya" ucap Tara cemas. 

Ia langsung membongkar lacinya, mencari kotak P3K, lalu mulai membersihkan darah bekas cakaran di wajah dan tangan Dio dengan hati-hati. 

"Maafin Duren ya, dia biasanya nggak begini kok. Dia kucing baik."

"Nggak apa-apa," ringis Dio menahan perih saat kapas beralkohol menyentuh lukanya.

"Mungkin dia melihatku sebagai seekor gagak. Dia pikir aku mangsa lezat yang harus diterkam."

Tara tertawa mendengar bualan itu, dan Dio pun ikut terkekeh, menciptakan momen hangat di antara mereka. Namun, tawa itu seketika terputus saat pintu kamar terbuka lebar. Annerta melangkah masuk, wajahnya masih mendung karena urusan dengan Bu Wudya tadi. Ia terpaku melihat pemandangan di depannya.

"Tara, kenapa ada pria asing di kamar kita?" tanya Annerta dingin.

"Hmm... Annerta, jangan marah dulu. Tadi itu..." Tara mencoba menjelaskan dengan gugup.

"Annerta, damai. Aku hanya ingin mengunjungi Tara karena seharian kami nggak ketemu. Aku cukup rindu dengannya" potong Dio dengan gaya santainya yang biasa.

"Simpan bualanmu itu untuk dirimu sendiri. Cepat pergi dari kamar saya. Saya ada urusan penting dengan Tara" usir Annerta.

"Annerta, sebentar. Aku mau bersihin luka Dio dulu," bela Tara.

"Iya nih, peliharaan kalian menyerangku tanpa alasan" keluh Dio.

"Duren?" tanya Annerta.

"Iya Annerta, tumben banget dia nakal gitu" sahut Tara heran.

Annerta menatap Duren yang masih menggeram di dalam kandang, lalu beralih menatap Dio dengan pandangan sinisnya.

Lihat selengkapnya