Di area parkir depan gerbang utama, mobil hitam milik Bu Sintia terparkir. Jovi dengan jaket kulitnya sedang bersembunyi di balik pilar beton dekat mobil itu.
Jovi melangkah perlahan menuju bagian belakang mobil. Ia tidak menggunakan kunci, melainkan mengeluarkan sebatang anak panah dari tabungnya. Dengan presisi seorang pemanah, ia menyelipkan ujung logam tajamnya ke celah pengait bagasi, menekannya dengan sudut tertentu hingga terdengar bunyi klik yang sangat halus. Pintu bagasi terbuka sedikit.
"Kau punya bakat menjadi pencuri" ujar Annerta.
Jovi menyeringai tipis sambil menyeka keringat di dahinya.
"Side job" balas jovi.
Suara langkah sepatu tinggi Bu Sintia mulai terdengar mendekat dari arah gerbang. Di belakangnya, Tara masih mengekor dengan wajah cemas, terus mengoceh tentang formulir musik untuk mengulur waktu. Annerta dan Jovi segera bergerak cepat, meringkuk masuk ke dalam ruang sempit di balik kursi penumpang belakang.
"Tara, sudah! Ibu benar-benar harus pergi sekarang. Sampai bertemu nanti sore di kelas musik, ya!" suara Bu Sintia terdengar tegas.
Tak lama kemudian, Anin dan Vanda muncul dari balik gerbang dengan napas tersengal-sengal. Mereka langsung masuk ke kursi penumpang, menggerutu soal insiden seragam dan perdebatan di lorong tadi.
Bu Sintia sudah memegang gagang pintu pengemudi, namun ia tiba-tiba mematung. Ia teringat peringatan tajam Bu Wudya "Periksa sekitar sebelum berangkat. Waspadai Annerta dan Jovi"
Matanya yang tajam menyisir area sekitar, lalu ia melangkah menuju bagian belakang mobil. Ia ingin memastikan tidak ada gangguan di bagasinya. Tangan Bu Sintia sudah menyentuh bibir bagasi, siap untuk menyentaknya terbuka. Di dalam kegelapan, jantung Annerta berdegup kencang, tangannya sudah mengepal siap menghadapi kemungkinan terburuk.
"Bu! Saya... saya boleh ikut ke Triwalaka?" seru Tara tiba-tiba.
Bu Sintia menoleh, tangannya terlepas dari bagasi.
"Tidak, Tara! Ini hanya untuk perwakilan resmi"
"Tampaknya kita harus cepat, Bu. Sudah jam sembilan lewat" sahut Anin dari dalam mobil.
Bu Sintia menghela napas panjang, mengurungkan niatnya untuk mengecek bagasi dan segera masuk ke kursi kemudi.
Brumm!
Mesin mobil menderu pelan. Di dalam bagasi yang pengap, Annerta dan Jovi saling bertatapan dalam kegelapan yang mencekam. Mereka bisa merasakan mobil mulai bergerak, meninggalkan gerbang Vidyalaya Santara.
***
Di dalam bagasi mobil yang sempit, ruang gerak hampir tidak ada. Annerta dan Jovi terpaksa meringkuk dengan posisi yang sangat tidak nyaman. Lutut mereka saling bersentuhan, dan setiap kali mobil melewati guncangan, tubuh mereka berbenturan.
Bau pengharum mobil yang menyengat bercampur dengan aroma keringat tipis dan hawa pengap di ruang tertutup itu. Jovi mencoba menggeser posisinya karena kakinya mulai kram, namun gerakannya justru membuat wajahnya berada hanya beberapa sentimeter dari Annerta.
"Bisa diam tidak? Kau bergerak seperti cacing" bisik Annerta.
"Kakiku mati rasa, Annerta. Setidaknya beri aku sedikit ruang" balas Jovi pelan.
Annerta tidak menjawab. Ia tetap kaku, matanya menatap lurus ke kegelapan bagasi. Ia sama sekali tidak menunjukkan rasa canggung meski posisi mereka sangat intim secara fisik. Baginya, Jovi hanyalah objek yang kebetulan berada di ruang yang sama.
Tak berselang lama kemudian, guncangan mobil mereda. Bunyi derit ban di atas kerikil menandakan mereka telah sampai di SMA Triwalaka.
Suasananya sangat berbeda dengan Santara. Jika Santara terasa megah dan klasik, Triwalaka tampak lebih modern seperti sekolah pada umumnya. Terlihat kerumunan siswa berlalu-lalang mengenakan seragam yang sangat kontras. Perpaduan warna biru dan abu-abu. Mobil bergerak perlahan menuju area parkir yang agak menjauh dari gedung utama. Begitu mesin mati, suara pintu mobil terbuka terdengar bergantian.