Annerta : Part of Aquira

Ann Aizawa
Chapter #28

Hujan

Hening yang mematikan mendadak menyergap Jovi. Saat telapak tangannya yang robek menghantam bahu Annerta dan darah mereka yang hangat bersatu dalam, dunia seolah berhenti berputar. Kesadaran Jovi tersentak keluar dari raga, tersedot ke dalam sebuah lorong waktu yang gelap dan menyesakkan.

Ini bukan lagi halaman belakang kantor guru. Mereka berada di lapangan SMA Triwalaka. Dalam penglihatan itu, langit Triwalaka pecah oleh hujan deras. Jovi melihat Annerta berdiri di tengah lapangan basket. Tubuh gadis itu gemetar hebat, air hujan yang menyentuh kulitnya seolah mendidih, menguap menjadi kabut panas yang menyakitkan. Annerta mencengkeram kepalanya, menjerit tanpa suara dalam kekacauan identitas yang meledak dari dalam darahnya.

Lalu, kengerian itu dimulai. Tangan kiri Annerta mendadak berkobar. Api yang liar menjilat udara, tidak terkendali. Dalam satu sentakan impulsif, api itu menyambar ring basket di ujung lapangan, melelehkan besi itu dalam sekejap hingga menjadi cairan merah yang membara.

Namun, hal itu tidak berhenti di sana. Tangan kanan Annerta mengangkat ke udara, memanipulasi butiran hujan, dalam hitungan detik, air itu mengeras, mengristal menjadi bongkahan es yang ujungnya setajam belati.

"Tidak... Annerta, berhenti!" Jovi berteriak dalam penglihatannya, namun ia hanya bayangan yang tak terlihat.

Es tajam itu melesat secepat peluru, tak sengaja mengarah tepat ke dada seorang siswa Triwalaka yang sedang berlari mencari perlindungan. Tanpa sempat menghindar, kristal es itu menembus jantungnya. Siswa itu jatuh tersungkur, nyawanya terenggut dalam satu kedipan mata tanpa sempat mengeluarkan suara.

Kematian itu seolah menjadi kunci terakhir yang membuka gerbang kegilaan. Tubuh Annerta mulai bertransformasi sepenuhnya. Ikatan rambutnya terputus, membiarkan rambut hitamnya terurai liar, melayang-layang. Kedua matanya yang jernih kini hilang, tenggelam dalam warna hitam pekat yang tak menyisakan ruang bagi kemanusiaan.

Bola api di tangan kirinya membesar, meluap-luap hingga menyambar atap gedung sekolah. Di tengah kobaran api yang mulai melalap bangunan Triwalaka, Annerta mendongak ke langit yang kelam. Sebuah tawa yang dingin dan mengerikan pecah dari bibirnya. Tawa yang bukan miliknya.

Jovi tersentak kembali ke realitas. Napasnya memburu, keringat dingin bercucuran di wajahnya. Ia masih berada di atas tubuh Annerta di tanah becek, namun tangannya bergetar hebat.

Annerta perlahan mendorong tubuh Jovi dengan sisa tenaganya, napasnya masih memburu akibat guncangan jatuh tadi. Ia menatap Jovi dengan sorot mata yang kesal.

"Kau selalu saja mencari kesempatan terhadap saya, Jovi" ujar Annerta ketus.

Ia berdiri dengan susah payah, meraih busur dan tas panah Jovi yang tergeletak di tanah becek, lalu melemparkannya ke arah pemuda itu. Tanpa menunggu balasan atau penjelasan, Annerta berbalik, melangkah pergi meninggalkan Jovi sendirian.

Jovi terduduk di tanah, menatap langit yang kian menggelap. Penglihatan tentang hal buruk tadi masih membekas jelas di benaknya, membuat jantungnya berdegup kencang oleh ketakutan. Ia memahami sesuatu yang mengerikan akan segera terjadi pada Annerta.

"Annerta, jangan pergi! Tunggu!" teriak Jovi sambil berusaha bangkit.

Namun, nasib buruk seolah sedang mempermainkannya. Saat ia mencoba berlari mengejar, otot kakinya mendadak menegang hebat. Rasa kram yang luar biasa menusuk betisnya hingga ia tersungkur kembali. 

"Ah, kaki sialan!" umpat Jovi.

Memegangi kakinya yang kaku sementara sosok Annerta semakin menjauh dan menghilang di balik lorong bangunan.

***

Annerta menyusuri koridor SMA Triwalaka dengan langkah cepat, matanya liar mencari jalan keluar agar bisa segera meninggalkan sekolah ini. Hingga akhirnya, ia sampai di area lapangan basket terbuka. Lapangan itu tampak sepi dan di ujung sana, ia bisa melihat gerbang keluar.

Lihat selengkapnya