Taksi online yang membawa Annerta dan Jovi akhirnya berhenti tepat di depan gerbang Vidyalaya Santara. Di sana, Tara sudah berdiri dengan gelisah. Begitu mobil berhenti, Annerta turun lebih dulu.
Langkah Annerta tampak goyah. Tara yang menyadari kondisi teman sekamarnya itu segera maju. Ia tertegun melihat pakaian Annerta yang lembap, namun yang lebih mengejutkan adalah bau anyir besi yang menusuk hidung dan rembesan merah yang mulai membasahi jaket abu-abu di lengan kiri Annerta.
"Annerta? Kamu terluka?" seru Tara.
Annerta belum sempat menjawab. Perhatian Tara teralih ke sisi lain mobil saat Jovi baru saja keluar setelah menyelesaikan pembayaran. Baru saja satu kaki Jovi menapak di aspal, tangan Tara sudah menyambar kerah jaket kulit pemuda itu dengan kasar. Dengan satu sentakan emosional, Tara melempar Jovi hingga pemuda itu tersungkur ke tanah.
"Apa yang kau lakukan, Tara? Kau sudah gila?!" teriak Jovi sambil meringis kesakitan.
"Beberapa jam yang lalu teman sekamarku baik-baik saja. Sekarang, setelah pergi bersamamu, dia pulang dalam keadaan berdarah" bentak Tara.
"Apa yang sudah kau perbuat padanya disana?"
Jovi berusaha bangkit dan menepis debu di celananya, namun Tara kembali mendorong bahu Jovi dengan kuat. Kali ini, Jovi sudah bersiap. Pijakannya kokoh, ia tidak tergoyah lagi. Sebelum keributan semakin membesar, Annerta melangkah di antara mereka.
"Tara, sudah. Dia tidak bersalah" ucap Annerta dingin namun tegas.
Tara mendengus napas pendek, mencoba meredam amarahnya. Tara mengulurkan tangan hendak merangkul dan menuntun Annerta masuk, namun Annerta justru mundur selangkah, menghindari kontak fisik. Tara tertegun sejenak, lalu mengangguk paham. Ia tahu batas itu telah kembali. Annerta sudah mulai menutup diri dan tidak ingin disentuh lagi.
***
Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di ruang UKS yang hening. Bu Dini baru saja selesai membalut luka di lengan Annerta dengan perban bersih. Kini, ia beralih menuju Jovi yang duduk di brankar sebelah.
"Kenapa kalian berdua bisa terluka begini?" tanya Bu Dini sambil menyiapkan cairan antiseptik.
"Itu... karena tadi saat pelajaran Biologi, Pak Lium meminta Annerta dan Jovi mencari mawar hitam" sahut Tara cepat, mencoba menutupi jejak mereka.
Bu Dini menghentikan gerakannya sejenak.
"Mawar hitam? Di Hutan Talas?" tanyanya.
"Iya, Bu. Tapi tenang saja, kami tidak sampai masuk ke area sungai kok" timpal Jovi, berusaha menambahkan detail agar terlihat meyakinkan.
"Lalu bagaimana bisa sampai luka begini?" tanya Bu Dini lagi, matanya menyelidik.
"Saat kami mencoba mengambil mawar itu, Annerta terpeleset dan lengannya terkena duri yang cukup panjang,"
"Saya refleks mencoba menangkapnya, tapi malah ikut tergores duri mawar itu juga" jelas Jovi dengan nada yang sangat tenang, seolah-olah kejadian itu memang benar-benar terjadi.
Bu Dini menghela napas panjang, tampak menerima alasan tersebut.
"Baiklah, luka kamu juga sudah bersih, Jovi. Kalian bisa kembali ke kelas setelah ini."
Sambil merapikan kotak P3K, Bu Dini melirik jam dinding.
"Ibu mau ke ruangan Bu Wudya dulu."
Begitu pintu UKS tertutup rapat dan langkah Bu Dini menghilang, suasana berubah menjadi interogasi pribadi. Tara menyilangkan tangan di depan dada, menatap Jovi dengan tajam.
"Sekarang ceritakan padaku, Adik Ipar. Apa saja yang kalian lakukan di sana?" tuntut Tara.
Jovi menghela napas panjang. Ia menceritakan bagaimana mereka berhasil menyelinap ke SMA Triwalaka lewat bagasi mobil Bu Sintia dan keberhasilan mereka membobol kantor administrasi untuk menemukan data Datruna serta Zafri. Lalu mereka hampir ketawan dan memutuskan untuk kabur melalui kamar mandi dan kejadian mereka berdarah juga Jovi ceritakan. Namun, Jovi sengaja menyimpan rapat bagian tentang penglihatan mengerikan yang ia alami, tentang Annerta yang kehilangan kendali atas kekuatannya.
"Oke, kalau begitu sebaiknya kita langsung ke kelas. Sebentar lagi jam pelajaran Pak Lium dimulai " ajak Tara.
***