Beberapa hari telah berlalu sejak ujian dari Pak Lium. Hari ini, suasana sedikit lebih santai saat bus sekolah Vidyalaya Santara membawa para siswa menuju Balai Kota Nusa untuk kunjungan luar sekolah.
Begitu pintu bus terbuka, udara segar Kota Nusa menyambut mereka. Tara, seperti biasa, langsung dilanda antusiasme tinggi. Tanpa menunggu Annerta, ia sudah melesat lebih dulu menuju deretan pertokoan, sibuk merencanakan rute belanja singkatnya. Sementara itu, Annerta memilih memisahkan diri. Langkahnya membawanya menuju sebuah food truck es krim yang terparkir di sudut alun-alun.
"Cokelat mint satu" ucap Annerta datar.
Sambil menunggu pesanan disiapkan, seorang pria berdiri di sebelahnya. Pria itu mengenakan hoodie hitam dan celana senada, wajahnya tersembunyi di balik tudung yang rendah. Annerta sempat melirik sekilas, merasakan aura yang tidak biasa.
"Stroberi satu" suara pria itu terdengar asing.
Mereka berdiri berdampingan dalam keheningan selama beberapa menit. Begitu pesanan masing-masing selesai, pria itu tidak langsung pergi. Ia sedikit membungkuk, mendekatkan wajahnya ke arah Annerta dan berbisik dengan nada yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Salah satu dari kalian akan kumakan jiwanya hari ini."
Tanpa menunggu reaksi, pria itu langsung berlari kencang. Mata Annerta membelalak. Ia mulai menyadari bahwa itu Kaum Lamdara.
Annerta langsung mengejar, masih dengan es krim cokelat mint di tangannya. Si pria misterius itu berlari dengan kelincahan yang luar biasa, melompati beberapa ranting polon sebelum melesat masuk ke area Hutan Nusa yang rimbun. Tepat sebelum memasuki lebatnya pepohonan, Annerta melemparkan es krimnya ke tanah dan menambah kecepatannya.
Dengan satu lonjakan tenaga, Annerta berhasil meraih bagian belakang hoodie pria itu dan menyentaknya keras.
"Hahaha, kau cukup kencang juga ya" pria itu terkekeh pelan sambil mengangkat kedua tangannya.
"Kau Lamdara?" desis Annerta.
Pria itu memutar tubuhnya. Annerta terpaku menatap wajah asing yang dihiasi dua bekas luka gores di area matanya. Tatapannya penuh dengan kebencian yang mendarah daging. Pria itu adalah Kama.
"Bukankah kau juga?" tanya Kama balik, suaranya mengandung ejekan.
"Apa maksudmu?. Siapa kau?. Siapa yang kau incar di antara teman-teman saya?!" tuntut Annerta.
Kama tertawa sinis. "Teman-teman? Oh, jadi kau sudah mulai menganggap mereka itu teman?"
"Bukan urusanmu. Saya tidak akan membiarkan kau menyentuh satu pun siswa Santara!"
"Kau bisa apa, Annerta?" tantang Kama.
Annerta tertegun. "Kau tahu nama saya?"
"Aku mendengar namamu sejak aku lahir hingga hari ini. Aku sampai muak mendengarnya" jawab Kama dengan nada penuh kebencian yang dalam.
"Mari kita bermain, sejauh mana kau mampu menguasai Aquira-mu." sambungnya.
Tanpa peringatan, Kama melayangkan bola api dari telapak tangannya. Annerta memiliki refleks yang luar biasa, ia mengehindar ke samping, menghindari lidah api yang menyambar tempatnya berdiri tadi. Mengingat ajaran Datruna dan Pak Lium tentang konsep spiritual, Annerta memusatkan fokusnya pada sebuah botol air yang tergeletak di dekat mereka. Air itu bergerak, membentuk bola air yang langsung dilemparkan ke arah Kama. Namun, Kama hanya menepisnya dengan remeh.
"Kau hanya memperlambat cerita, Annerta, jika kemampuanmu cuma sebatas itu."
Kama menyerang lagi dengan api di kedua tangannya. Dalam kepanikan, Annerta secara insting mengangkat telapak tangannya dan membayangkan sebuah perisai. Detik itu juga, air di sekitarnya memadat, membentuk tameng transparan yang kokoh. Annerta membuka mata, ia menyadari sesuatu. Pikirannya memengaruhi kekuatannya.
"Kau cepat belajar" puji Kama, meski matanya tetap tajam.
"Kau pria yang cukup cerewet" balas Annerta dingin.
Annerta mulai membalas. Ia mengirimkan serangan air bertubi-tubi yang memaksa Kama mundur beberapa langkah. Namun, dengan sekejap, Kama melakukan teleportasi ke belakang Annerta. Annerta tersentak, hampir saja api Kama membakar wajahnya jika ia tidak segera merunduk dan melompat mundur.
Keduanya kini bersiap dengan serangan puncak. Annerta menciptakan bola air raksasa, sementara Kama membalas dengan bola api yang membara hebat. Ledakan kekuatan itu membuat Annerta terpental hingga menghantam pohon besar di belakangnya.
"Hahaha! Berlatihlah lagi. Aku bahkan tidak berkeringat," ejek Kama sombong.
Annerta bangkit dengan susah payah. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda di matanya. Bukan lagi ketakutan, melainkan kemarahan yang membeku. Ia menggenggam tangan kanannya erat-erat. Secara ajaib, uap air di udara mengkristal, membentuk bongkahan es tajam yang berkilau.
Kama tertegun, namun belum sempat ia bereaksi, Annerta sudah melayangkan es itu.