Annerta : Part of Aquira

Ann Aizawa
Chapter #31

Sungai Nusa

Matahari berada di atas kepala, sinarnya yang menyengat menandakan pukul dua belas siang tepat. Annerta berdiri tegak di depan bus sekolah, matanya memperhatikan setiap wajah siswa siswi Santara. Namun, sosok yang ia cari tak kunjung tampak. Tara, yang terakhir kali terlihat pergi bersama Dio, belum juga kembali.

Gelisah mulai merayap di balik dada Annerta. Tak lama kemudian, ia menangkap sosok Dio yang berjalan santai ke arah bus. Pemuda itu mengenakan kacamata hitam, mulutnya sibuk mengunyah permen karet dengan gaya tak acuh. Annerta langsung mencegat langkahnya.

"Mana Tara?" tanya Annerta tanpa basa-basi.

Dio menurunkan kacamatanya ke ujung hidung, lalu mengernyitkan dahi dengan wajah heran.

"Kenapa kau bertanya padaku? Aku bahkan tidak melihatnya seharian ini."

"Jangan bermain-main dengan saya," desis Annerta. 

"Saya bisa meledakkan jantungmu sekarang juga."

Dio tertegun, namun ia segera mengambil kacamatanya dan meletakkannya di kerah baju. 

"Aku sungguh-sungguh, Annerta. Aku tidak bersamanya."

"Satu jam yang lalu kau berdiri di hadapan saya. Saya jelas-jelas melihatmu bicara dengan Tara dan kau bilang hanya pinjam sepuluh menit" ucap Annerta dengan penekanan di setiap kata. 

"Sekarang sudah satu jam dan kau belum mengembalikan Tara pada saya."

"Annerta, aku tahu kau tidak menyukaiku, tapi jangan memfitnah," ujar Dio. 

"Kalau kau tidak percaya, tanya Pak Lium atau anak-anak lain. Kami baru saja selesai menonton bola di sana."

Annerta terdiam. Otaknya berputar cepat. Jika Dio yang ini berkata jujur, maka sosok yang membawanya tadi siapa?.

"Pertanyaan terakhir, Kapan terakhir kali kau melihat Datruna?" tanya Annerta serius.

"Tiga hari lalu. Saat aku latihan bola, aku melihat dia berjalan ke tempat favoritnya, kearah Sungai Talas" jawab Dio.

"Tara dalam bahaya!" ucap Annerta pendek.

Matanya membelalak menyadari polanya. Tanpa menunggu aba-aba, ia berlari kencang menuju Hutan Nusa. Dio yang tersentak mendengar kalimat terakhir Annerta langsung ikut mengejar. Namun, baru beberapa meter berlari, tubuh Dio menghantam seseorang dengan keras.

Bugh!

"Kau tidak punya mata?!" bentak Dio sambil berusaha bangkit.

"Kau yang berlari seperti dikejar ribuan anak panah" balas Jovi tak kalah sengit.

"Simpan kata-katamu! Panggil yang lain, Tara diculik dan Annerta sedang mengejar ke dalam hutan" teriak Dio sebelum kembali melesat meninggalkan Jovi yang terpaku.

Jovi tidak memanggil semua orang. Ia tahu situasi akan menjadi kacau jika seluruh siswa Santara ikut campur. Ia melihat Anin yang baru turun dari bus dan menemuinya.

***

Di tengah lebatnya pepohonan, langkah Annerta terhenti. Jalannya buntu, hanya ada semak berduri dan pepohonan raksasa yang mengurungnya. Napasnya memburu saat Dio muncul dari balik semak di belakangnya.

"Larimu... cepat juga" ujar Dio terengah-engah. 

"Ada tanda-tanda Tara?"

"Tidak. Saya buntu" jawab Annerta dingin, menutupi kecemasannya.

Beberapa menit mereka terjebak dalam keheningan yang mencekam, hingga Jovi dan Anin muncul dengan napas yang hampir habis.

"Tara sudah ketemu?" tanya Anin di sela deru napasnya yang berat.

"Tolong, jangan tanyakan pertanyaan bodoh sekarang" sahut Annerta tajam.

Lihat selengkapnya