Annerta : Part of Aquira

Ann Aizawa
Chapter #32

Ancaman

Matahari sudah mulai condong ke arah Barat. Di sana, Bu Wudya sudah berdiri tegak, raut wajahnya kaku seolah ia memang sengaja menunggu kepulangan mereka dengan segudang kecurigaan.

Suasana menjadi riuh saat Dio datang dengan terburu-buru sambil menggendong Tara yang masih pingsan, diikuti Jovi dan Anin yang tampak pucat. Beberapa siswa yang melihat itu mulai panik, namun mata tajam Bu Wudya terkunci hanya pada satu orang, Annerta.

Saat Dio dan yang lain bergegas membawa Tara masuk, Bu Wudya mencegat langkah Annerta.

"Apa yang kau lakukan, Annerta?,"

"Kenapa kau memancing kaum yang sudah susah payah leluhur kita kubur?" tanya Bu Wudya.

Annerta menatap gurunya itu tanpa kedip. 

"Itu bukan ulah Lamdara. Itu ulah Datruna," jawabnya dingin.

"Datruna?. Untuk apa dia melakukannya?" Bu Wudya mengernyitkan dahi.

"Apakah Ibu tidak merasa janggal?" Annerta balik bertanya 

"Bukankah dia jarang sekali berada di sekolah?"

"Sekolah memberinya keringanan, karena dia sebatang kara dan harus sambil bekerja paruh waktu,"

"Dan jangan asal menuduhnya tanpa bukti, Annerta!" tegur Bu Wudya keras.

"Percuma saya bicara dengan Ibu, jika menurut Ibu perkataan Ibu adalah yang paling benar."

Tanpa menunggu balasan, Annerta melangkah pergi meninggalkan Bu Wudya yang mematung, lalu masuk ke dalam bus dengan kemarahan yang mulai mendidih di balik dadanya.

***

Malam telah larut. Ruang UKS terasa hening, hanya menyisakan suara detak jam dinding dan napas teratur Tara yang masih terlelap di atas brankar. Bu Dini baru saja selesai memeriksa kondisi Tara, sementara Annerta duduk berjaga di sampingnya. Di atas sofa, seragam Santara milik Tara diletakkan begitu saja.

"Annerta, Ibu ke kamar sebentar ya, mau ambil charger HP. Kamu Ibu tinggal sendiri tidak apa-apa?" pamit Bu Dini.

"Baik, Bu." jawab Annerta singkat.

Begitu pintu tertutup, Annerta melepaskan blazer dan vest-nya yang terasa menyesakkan, hanya menyisakan kemeja putih dan dasi yang sudah ia longgarkan sedikit. Saat ia hendak meletakkan blazer dan vest-nya di samping seragam Tara, pandangannya tertuju pada sesuatu yang mengganjal di saku blazer temannya itu.

Ia merogohnya. Sebuah kertas yang kondisinya sudah mengeras, bekas basah yang kemudian mengering. Annerta membukanya.

"Peringatan pertama, Annerta. Jangan campuri urusanku."

Rahang Annerta mengeras. Tatapannya memuncak, tanpa pikir panjang, ia menyambar kembali blazernya dan melesat keluar dari UKS. Di lorong, ia hampir menabrak Bu Dini yang baru kembali.

"Annerta, kau mau ke mana?" seru Bu Dini, namun Annerta tidak menjawab. 

Langkahnya tertuju lurus ke arah yang tak seharusnya ia datangi, Asrama Laki-laki.

***

Kehadiran Annerta di koridor asrama putra sontak membuat suasana gaduh. Siswa-siswa yang sedang lalu-lalang berhenti bergerak, mata mereka mengikuti langkah tegas Annerta yang penuh emosi. Ia berhenti tepat di depan kamar 309L, kamar milik Datruna dan Fatah.

Brak!

Annerta mendobrak pintu itu dengan satu sentakan kaki hingga terbuka lebar. Di dalam, Fatah yang baru saja selesai mandi dan hanya mengenakan handuk langsung melonjak kaget. Ia buru-buru menyambar kaos untuk menutupi dadanya yang polos.

"Apa yang kau lakukan, Annerta?!" teriak Fatah panik.

Annerta tidak peduli. Ia masuk dengan langkah predator, pandangannya menyusuri setiap ruangan mencari keberadaan Datruna. Di koridor, Jovi yang mendengar keributan segera berlari membelah kerumunan siswa.

"Mana Datruna?!. Cepat jawab!" tuntut Annerta pada Fatah.

Lihat selengkapnya