Annerta : Part of Aquira

Ann Aizawa
Chapter #33

Holy

Hari yang ditunggu pun tiba. Pagi di Vidyalaya Santara kali ini terasa sangat berbeda. Seolah seluruh sisa ketegangan semalam tersapu oleh semangat yang meluap-luap. Lapangan sekolah sudah dihiasi ribuan bendera kecil Santara yang berkibar ditiup angin pagi. Seluruh penghuni asrama telah mengenakan pakaian serba putih, menciptakan pemandangan yang bersih dan murni sebelum badai warna menerjang.

Bu Wudya, yang juga mengenakan setelan putih, tampak berdiri di pinggir lapangan sambil menghirup udara pagi yang segar dengan raut puas. 

***

Sementara itu, di kamar 076P. Tara berdiri di depan cermin, memastikan tidak ada warna lain di tubuhnya selain putih, bahkan sepatu ketsnya pun berkilau bersih. Di pelukannya, Duren, kucing kesayangannya, tampak pasrah mengenakan baju kecil berwarna senada.

Annerta keluar dari kamar mandi, sudah rapi dengan pakaian putihnya yang kaku. Matanya langsung tertuju pada hewan berbulu di tangan Tara.

"Jangan membawa peliharaanmu ke lapangan" ucap Annerta tegas.

"Annerta, Duren juga anggota Santara. Dia punya hak untuk ikut merayakan ini." balas Tara dengan nada membela diri yang lucu.

Annerta menghela napas panjang. Ia tahu berdebat dengan Tara soal kucing itu hanya akan membuang waktu. Ia memilih bungkam dan melangkah keluar kamar.

***

Mereka pun dari lantai dua asrama,di bawah suasana sudah riuh. Ratusan siswa dengan outfit putih berlalu-lalang seperti barisan awan yang bergerak. Namun, saat Tara hendak berlari menuju pusat keramaian, Annerta menahan bahunya.

"Kau harus tetap waspada, Tara," bisik Annerta, matanya menyapu sekeliling dengan waspada.

"Bahaya sering kali datang, saat kita sedang merayakan kebahagiaan." ucap Annerta.

"Santai, Annerta. Tidak akan ada yang berani macam-macam. Di sini kan isinya Parinasta semua."

Dengan energi yang meluap, Tara melesat menuju tengah lapangan bersama Duren. Annerta tertinggal di belakang, masih dengan tatapan menyelidik, hingga sebuah suara menghentikannya.

"Bajumu bagus" ucap Anin yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.

"Tara yang membelikannya," sahut Annerta datar. 

"Saya hanya menghargai pemberiannya."

"Tara memang sangat tulus dan polos. Aku harap, kau tidak lagi menempatkannya dalam bahaya, Annerta."

"Bahaya selalu menemukan jalannya sendiri untuk berada di dekat saya, Anin. Saya pun tidak pernah ingin dia terlibat" balas Annerta dingin. 

Anin tidak membantah, ia hanya memberikan anggukan tipis sebelum berlalu masuk ke kerumunan.

***

Tak lama kemudian, suara toa kesayangan Bu Wudya memecah keriuhan. "Anak-anak, berkumpul semua!"

Seluruh siswa dan guru segera membentuk lingkaran besar di tengah lapangan. Suasana mendadak hening saat Bu Wudya mulai berbicara.

"Hari ini adalah Perayaan Holy, tradisi tahunan yang paling kita cintai di Santara. Perayaan ini bertujuan untuk mengingatkan kita tentang persatuan di atas beragam perbedaan kaum, sehingga kita bisa berdiri tegak sebagai Parinasta" ucap Bu Wudya bangga.

"Tradisi ini terinspirasi dari budaya India, di mana masyarakat merayakan datangnya musim semi dan kemenangan kebajikan atas kejahatan."

"Kita menggunakan nama Holy, karena bagi Santara, ini adalah momen yang sakral. Sebuah pembersihan diri dari prasangka dan kebencian antar sesama. Jadi, sekarang mari kita mulai!"

Bu Wudya melemparkan segenggam bubuk warna-warni ke udara sebagai tanda dimulainya pesta.

Lihat selengkapnya