Suara dentum musik di lapangan Santara kian menggila, getarannya terasa hingga ke dinding-dinding lorong lantai satu. Udara di luar sana sudah jenuh oleh kabut bubuk warna-warni, membuat pandangan menjadi samar oleh pelangi buatan. Di tengah keriuhan itu, Tara baru saja turun dari lantai dua setelah memastikan Duren aman di dalam kamar.
Ia melangkah cepat menyusuri koridor bangunan utama yang sedikit lebih tenang. Namun, langkahnya melambat saat matanya menangkap dua sosok di ujung lorong yang menuju ke arah gerbang. Itu Vanda. Gadis itu tampak tertawa kecil, pakaian putihnya sudah penuh bercak warna-warni tanda ia baru saja berpesta. Di sampingnya, terlihat sosok Fatah.
Tara mengernyitkan dahi. Ada yang janggal, baju putih yang dikenakan Fatah masih tampak sangat bersih, kaku, dan tanpa setitik pun noda warna. Kontras yang sangat aneh di tengah perayaan Holy. Tara mencoba menajamkan pendengarannya, namun suara bas dari pengeras suara di lapangan menelan habis percakapan mereka. Keduanya terus melangkah menjauh, menuju gerbang luar.
Awalnya, Tara hanya mengangkat bahu tak acuh. Namun, saat ia kembali ke tengah lapangan yang penuh sesak, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Di dekat panggung, ia melihat Fatah. Fatah yang ini sedang berdiri santai bersama Jovi dan Naka, memegang segelas susu soda dengan baju yang sudah acak-acakan terkena bubuk biru dan kuning. Mereka bertiga tampak asyik mengobrol, sesekali tertawa keras mengikuti irama musik. Darah Tara mendesir hebat. Ingatannya melesat pada kejadian di Balai Kota. Saat ia tertipu oleh sosok Dio yang ternyata adalah penyamaran Datruna. Polanya terulang kembali.
Tanpa membuang waktu, Tara menerobos kerumunan, menyikut beberapa siswa hingga ia menemukan Annerta yang sedang berdiri berbincang dengan Shani. Tanpa basa-basi, Tara menyambar lengan Annerta dan menariknya dengan paksa menjauh dari pusat suara.
"Vanda dalam bahaya!" seru Tara begitu mereka sampai di area yang sedikit lebih sunyi.
"Maksudmu?" tanya Annerta.
"Aku melihat dia sama Fatah di koridor bangunan utama, mereka menuju gerbang."
"Tapi Fatah yang bersamanya bukan Fatah yang asli, Fatah yang asli ada di sana!" ujar Tara dengan napas memburu, telunjuknya mengarah lurus ke arah kerumunan di mana Fatah asli masih asyik mengobrol dengan Jovi.
"Jadi maksudmu... itu Datruna?"
"Bisa jadi iya. Kita harus tolong Vanda sebelum Datruna melakukan hal aneh lagi, kayak yang dia lakuin sama aku" ucap Tara penuh kecemasan.
Tanpa pikir panjang, Annerta dan Tara berlari menembus sisa-sisa kabut warna di gerbang depan, namun sejauh mata memandang, jalanan aspal di depan mereka kosong. Sosok Vanda dan Datruna itu lenyap seolah ditelan bumi.
"Mereka sudah pergi, kita tidak tahu ke mana Datruna membawa Vanda" desis Annerta.
Tara terdiam, memijat pelipisnya kuat-kuat. Bayangan samar saat ia pingsan di Balai Kota kembali berputar.
"Tunggu... aku ingat sesuatu."
"Waktu aku setengah sadar di gendongan Datruna, maksudku, Dio palsu itu, ia sempat bicara dengan seseorang,"
"Laki-laki itu bilang , 'kabari semua hal dan terus temui aku di titik buta Jantung Nusa' " sambung Tara
Annerta sempat berpikir sejenak, lalu mulai menyadari tentang kalimat 'titik buta' dan 'jantung nusa'.
"Hutan Nusa" potong Annerta cepat.
"Kita harus ke Balai Kota Nusa sekarang juga. Itu akses terdekat menuju Hutan Nusa." sambungnya.
Masalahnya, Santara bukan tempat di tengah kota dan tidak ada kendaraan yang berlalu lalang. Ponsel Tara juga tertinggal di atas kasur saat ia menaruh Duren tadi. Namun di tengah kebingungan itu, sebuah motor matic milik Pak Danu, sang tukang kebun, terparkir tidak jauh dari mereka. Lengkap dengan kunci yang masih menggantung di kontaknya.
"Ada motor!" seru Tara sambil menunjuk kendaraan itu.
"Gunakan itu. Kita tidak punya waktu untuk menunggu keajaiban," ucap Annerta tegas.
Mereka bergegas mendekat. Tara langsung melompat ke jok depan, sementara Annerta naik di belakangnya dengan anggun. Namun, satu detik, dua detik, motor itu tidak kunjung menderu. Tara justru sibuk memandangi stang motor dengan wajah pucat.