Langkah kaki Annerta yang cepat dan teratur bergema di aspal sunyi pelataran Balai Kota Nusa. Di belakangnya, Tara berlari tersengal-sengal, nyaris terseret oleh kelelahan dan rasa bersalah yang memburu. Wajah Annerta tetap datar dan dingin, namun di balik itu ada kekecewaan yang berdenyut hebat. Jenis kekecewaan yang tidak meledak, melainkan membeku.
"Annerta! Tunggu!" teriak Tara.
Saat Tara baru saja mencapai jarak satu lengan dan hendak menyambar bahunya, Annerta berhenti mendadak. Tak sempat mengerem, tubuh Tara menabrak punggung tegak Annerta hingga ia kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di tanah yang kasar. Sambil meringis, Tara bangkit perlahan, membersihkan debu di lututnya dengan tangan gemetar.
"Aku minta maaf, Annerta."
"Kalau kamu ngerasa prank aku keterlaluan." ujar Tara, suaranya serak.
"Tapi, setidaknya kamu nggak perlu banting kue itu di depan teman-teman kita. Itu juga bagian dari usaha mereka." lanjut Tara.
Annerta berbalik perlahan. Matanya menatap Tara seolah gadis di depannya hanyalah noda yang mengganggu pemandangan.
"Peduli apa saya soal kue itu?" balas Annerta.
"Bagi saya, benda itu tak lebih dari segunduk gula yang dicampur dengan kepalsuan. Kamu ingin saya menghargai sampah yang kamu beri label 'perayaan'?"
"Oke, aku salah. Tapi ucapanmu nggak perlu semenyakitkan itu, Annerta!" ucap Tara yang matanya mulai berkaca-kaca.
Annerta melangkah maju, jaraknya cukup dekat dengan Tara.
"Lalu menurutmu tindakanmu tidak melukai ego saya?,"
"Kau tahu?. Hal itu mengonfirmasi bahwa mempercayaimu adalah kesalahan logika paling fatal yang pernah saya buat."
"Lagi pula," sambung Annerta datar.
"Merayakan pertambahan usia hanyalah cara menyedihkan untuk menghitung sisa waktu menuju kematian."
"Hanya orang-orang berpikiran sempit yang butuh validasi setahun sekali melalui sepotong kue dan nyanyian sumbang. Jangan samakan saya dengan mereka."
Annerta berbalik, hendak memutus percakapan itu secara permanen. Namun, suara Tara yang pecah menghentikan langkahnya.
"Aku tahu kamu terbiasa dalam kegelapan, Annerta. Tapi bukan berarti kamu tidak boleh merasakan sedikit cahaya"
Annerta menghentikan langkahnya sepenuhnya. Ia menoleh perlahan, menatap mata Tara yang sembab dengan tatapan yang sangat dingin.
"Dengar, Tara. Ada makhluk yang diciptakan hanya untuk hidup di kegelapan malam," balas Annerta.
"Bagi mereka, cahaya yang kamu anggap indah itu justru membutakan dan menyiksa."
"Jangan merasa jadi pahlawan dengan menyeret saya ke bawah matahari yang terik, karena bagi saya, kehangatan yang kamu tawarkan itu hanya akan membakar saya hidup-hidup."
Annerta pergi tanpa menoleh lagi. Langkah kakinya terdengar menjauh dari Balai Kota yang sunyi, meninggalkan Tara yang masih terpaku sendirian.
Langit di atas mereka sudah mulai berubah warna menjadi jingga. Cahaya senja itu menyinari wajah Tara yang sembab, seolah memperjelas jarak yang baru saja tercipta di antara mereka.