Seminggu setelah kejadian itu. Hari ini, Santara tidak lagi sunyi. Area parkir di depan gedung utama penuh sesak oleh deretan kendaraan yang berkilau di bawah matahari pagi. Gerbang yang biasanya tertutup rapat kini terbuka lebar, menyambut para orang tua yang sudah berbulan-bulan menahan rindu akibat peraturan ketat sekolah.
Di tengah kerumunan itu, sosok Monisya melangkah masuk. Ia mengenakan gaun anggun yang membalut tubuhnya dengan sempurna, membuat setiap pasang mata, baik siswa maupun orang tua lainnya terpaku. Kecantikannya seolah tidak lekang oleh waktu, memancarkan aura bangsawan yang sulit disembunyikan.
Monisya menyisir lorong utama yang riuh, mencari wajah putrinya. Langkahnya terhenti saat melihat seorang gadis berambut pendek berdiri bersama seorang pria berwibawa.
"Halo. Kamu temannya Annerta, bukan?" tanya Monisya lembut.
Anin menoleh, matanya sedikit membelalak melihat kecantikan wanita di depannya. "Halo, Tante. Iya, saya Anin. Saya satu kelas dengan Annerta."
Saat Monisya hendak membalas, pria di samping Anin, Arun Brahvatya sang Raja Vras Barat tiba-tiba bergumam dengan suara tertahan.
"Monika?"
Monisya tersentak. Tubuhnya kaku seketika.
"Monika Laksyani, kan? Aku Arun. Arun Brahvatya. Kita satu sekolah dulu" ucap Arun dengan nada tidak percaya.
Raut wajah Monisya berubah pucat. Ia memaksakan senyum tipis yang terlihat sangat gugup.
"Aa...apa? Sepertinya Anda salah orang. Permisi," ujarnya cepat, lalu bergegas pergi meninggalkan mereka tanpa menoleh lagi.
Anin mengernyit, merasa ada yang janggal. "Ayah mengenal ibunya Annerta?"
Arun menatap punggung Monisya yang menjauh dengan tatapan rumit.
"Dia sangat mirip dengan Monika, putri dari Kerajaan Aquira. Tapi... mungkin hanya mirip saja."
"Ayah yakin?"
"Tampaknya hanya kebetulan. Soalnya, Monika dikabarkan sudah mati di tangan kaum Lamdara sebelum lulus dari sekolah. Dan mana mungkin orang mati punya anak kan?" ucap Arun pelan.
Anin terdiam, namun otaknya mulai bekerja cepat.
***
Di lantai dua, Monisya mengetuk pintu kamar asrama dengan jemari yang masih sedikit gemetar. Tak lama, pintu terbuka. Annerta berdiri di sana, tampak rapi dengan seragam Santaranya.
"Ibu?" ucap Annerta.
"Halo sayang, selamat ulang tahun, ya. Maaf ibu telat satu minggu buat ngucapin." Monisya langsung memeluk putrinya erat, menyalurkan kerinduan yang memuncak.
Annerta memberikan senyum tipis yang langka dan membawa ibunya masuk. Namun, Monisya segera menyadari ada yang berbeda di ruangan itu.
"Kok sunyi sekali?, mana Tara?." tanya Monisya sambil menatap ranjang kosong di sebelah.
"Dia pindah kamar" jawab Annerta datar.
"Kamu bertengkar dengannya?"
Annerta terdiam, tidak ingin membahas hal itu. Ia memilih mengalihkan pembicaraan.
"Saya sangat merindukan Ibu."
"Ibu juga, Nak. Ibu tidak pernah tenang sejak kamu tidak ada di rumah," Monisya mengelus pipi putrinya, lalu mencoba mencairkan suasana.
"Oh iya, kamu mau kado apa? Katakan saja, Ibu pasti memberikannya."
Annerta menatap ibunya dalam-dalam. "Apakah ibu pasti memberikannya?"
"Tentu, Nak."
"Walaupun hal itu tentang ayah?" ujar Annerta tenang.
Monisya tersentak seolah baru saja tersengat listrik. Ia langsung berdiri, menjauh dari jangkauan tatapan Annerta.
"Ibu sudah pernah memperingatkanmu, jangan pernah bertanya soal pria itu. Dia pria yang sangat buruk!"
"Seberapa buruk, hingga saya tidak pantas mengetahuinya?" balas Annerta.
"Minta yang lain dan jangan bahas itu lagi!" tekan Monisya, suaranya naik satu oktav.
"Ibu, saya sudah enam belas tahun. Saya rasa saya sudah cukup dewasa untuk menerima kenyataan pahit apa pun tentang beliau."