Kembali ke kamar asrama Santara, Monisya tersenyum tipis, sorot matanya menerawang jauh, seolah ia bisa melihat kembali bayangan pemuda jenaka di bawah pohon rindang bertahun-tahun silam.
Annerta meraih selembar tisu dari meja belajarnya, lalu mengulurkannya pada sang ibu dengan gerakan kaku namun perhatian.
"Lalu, setelah kejadian di Balai Kota itu... apakah Harno tidak pernah mendatangi Ibu lagi?" tanya Annerta. Ia mulai terhanyut ke dalam labirin kisah masa lalu orang tuanya.
"Setelah hari itu, dia menghilang tanpa jejak," jelas Monisya dengan suara rendah.
"Ibu terus menunggunya didekat pohon dekat sekolah setiap sore, berharap ia datang untuk sekadar mengucap kata maaf. Namun, dia tidak pernah muncul."
Monisya menghela napas panjang.
"Setahun berlalu. Saat Ibu hampir menyelesaikan pendidikan di sekolah kerajaan dan mulai meyakinkan diri bahwa dia telah melupakan Ibu... takdir berkata lain,"
"Sepertinya, takdir memang enggan membiarkan kami saling melepas."
"Malam itu..."
~ Flashback ~
Langit di atas asrama kerajaan tampak pekat, hanya diterangi cahaya bulan yang redup. Monisya baru saja menyelesaikan ujian, langkahnya terasa berat saat ia berjalan menyusuri lorong menuju kamarnya. Namun, tiba-tiba sebuah bisikan halus menyapa indranya.
Suara itu , ia sangat mengenalnya. Suara Harno yang merambat langsung ke dalam benaknya, memintanya untuk menuju ke Hutan dekat sekolah. Rasa penasaran yang bercampur dengan kerinduan yang selama ini ia tekan membuat Monisya melupakan segala aturan keamanan. Ia berjalan sendirian menembus kegelapan hutan.
Bisikan itu mendadak berhenti tepat saat langkahnya menginjak tepian sungai. Awalnya, area itu tampak gelap gulita dan mencekam. Namun, dalam hitungan detik, ribuan titik cahaya kecil mulai bermunculan. Sekelompok besar kunang-kunang datang mengepung Monisya, menciptakan pemandangan cahaya alami yang memukau. Di balik tirai cahaya kunang-kunang itu, muncullah seorang pria.
"Harno?" bisik Monisya tak percaya.
"Hai, Tuan Putri. Apakah kau merindukanku?" ujar Harno dengan suara yang masih sama.
Monisya tidak sanggup lagi menyembunyikan badai kerinduan di dadanya. Ia berlari sekuat tenaga dan menghambur ke pelukan Harno. Di tepi sungai yang berkilauan oleh kunang-kunang, mereka berpelukan erat, seolah ingin meleburkan jarak setahun yang menyiksa.
"Kau ke mana saja?. Kau tidak tahu betapa menderitanya aku menantimu setiap hari?" ucap Monisya di sela isakannya.
"Maafkan aku. Aku merasa sangat malu karena telah melukaimu dengan tanganku sendiri." ungkap Harno, ia membenamkan wajahnya di rambut Monisya.
"Lalu kenapa tidak datang dan minta maaf. Kau tahu aku pasti akan memaafkanmu"
"Aku sudah sering datang, Monisya. Namun, setiap kali aku melihatmu dari kejauhan, aku selalu mundur karena rasa bersalah."
"Aku menghukum diriku sendiri dan mencoba membiarkanmu bahagia tanpa pengacau sepertiku. Tapi ternyata, aku sangat mencintaimu."
Harno melepaskan pelukannya perlahan, lalu menatap Monisya dengan sorot mata yang mendadak sangat serius. Ia perlahan turun ke satu lutut, menggenggam jemari Monisya.
"Menikahlah denganku, Monisya."
Monisya tersentak, dadanya berdegup kencang. "Tapi... aku bahkan belum lulus. Dan aku juga belum tahu dari kaum apa kau berasal."
"Aku seorang..." Harno terhenti sejenak, menelan ludah.
"Kau kaum apa?" desak Monisya.
"Bumi" ungkap Harno lirih.