Monisya melangkah maju, tangannya gemetar berusaha menggapai bahu putrinya. Namun, Annerta bergerak lebih cepat. Ia mundur selangkah, menciptakan jarak yang terasa seperti jurang tak kasat mata. Dadanya mendidih. Ada kemarahan yang meluap-luap, sebuah penolakan hebat terhadap fakta bahwa ia kini menjadi tokoh utama dalam sebuah tragedi yang tak berumur panjang. Satu Santara, bahkan seluruh Parinasta akan memburunya jika rahasia ini bocor.
Annerta berdiri tegak, membiarkan jemari ibunya menggantung di udara. Ia berjalan pelan menuju jendela, menatap matahari yang mulai hampir condong ke Barat.
"Ibu ingin saya tetap menjadi Aquira?" suara Annerta terdengar hampa, namun tajam.
Ia berbalik, menatap Monisya. "Ibu meminta seekor serigala untuk terus menggonggong seperti anjing, hanya karena Ibu takut pada taringnya?."
"Ibu sendiri tahu, darah ini sudah bercampur dan tak akan bisa dipisahkan lagi."
"Saya yakin, suatu hari nanti keterlambatan Ibu untuk jujur adalah hal yang harus Ibu pertanggung jawabkan sendiri," sambung Annerta lagi. Ia menarik napas pendek, mencoba menahan getaran di suaranya.
"Terima kasih untuk fakta enam belas tahun yang Ibu sembunyikan dengan rapi. Tapi Ibu harus tahu satu hal... Lamdara di dalam diri saya tidak akan pernah tinggal diam."
Tanpa menunggu jawaban dari Monisya, Annerta melangkah keluar kamar. Ia menutup pintu cukup keras, meninggalkan Monisya sendirian yang akhirnya runtuh dalam tangis di tengah kesunyian kamar 076P.
***
Sementara itu, suasana di lapangan utama Santara mendadak riuh. Semua mata tertuju pada sosok pria yang baru saja turun dari mobil Rolls-Royce hitam yang terparkir megah di depan pintu masuk gedung utama. Penampilannya sangat berwibawa dengan jas rapi yang memancarkan aura dermawan. Hampir semua orang mengenal siapa beliau, Doni Alatas.
Di belakangnya, seorang asisten mengikuti dengan sigap, membawa dua koper besar menuju area sekolah. Kedatangan Doni tidak hanya disambut oleh Tara, tetapi juga oleh Bu Wudya dan jajaran guru. Bahkan Pak Bambang terlihat sibuk menggelar karpet merah sebagai bentuk penghormatan tertinggi.
"Selamat sore, Pak Alatas. Suatu kehormatan besar, Anda bersedia berkunjung langsung ke sekolah kecil kami" ucap Bu Wudya sambil membungkuk sopan.
"Sore, Bu...?" Doni menggantung kalimatnya, seolah lupa.
"Bu Wudya" sambung Bu Wudya cepat, mencoba mengingatkan.
"Oh, iya. Ini sedikit sumbangan dari saya. Saya harap Tara tidak melakukan hal gila lagi di sini."
"Dan terima kasih sudah menerimanya dengan baik, meskipun dia bukan bagian dari kaum Parinasta" ujar Doni datar.
Bu Wudya menerima dua koper itu. Matanya berbinar seketika, seolah warna merah uang telah memenuhi penglihatannya.
"Oh, tentu tidak, Pak. Tara berperilaku sangat baik di sini. Dia bahkan sudah mendapatkan teman sekamar baru yang sangat cocok dengannya. Benar kan, Tara?" Bu Wudya melirik ke arah Tara.
"Iya. Sangat... cocok." sahut Tara dengan nada bete yang tak bisa ia sembunyikan.
"Mari ke ruangan saya, Pak Alatas." tawar Bu Wudya penuh harap.
"Tidak perlu. Saya hanya berkunjung sebentar untuk putri saya" balas Doni dingin.
Meski sudah ditolak, Bu Wudya dan para guru masih berdiri mematung di sana. Doni terdiam sejenak, memberikan isyarat lewat tatapan matanya bahwa ia ingin waktu berdua dengan putrinya. Bu Wudya tersentak, segera mengajak guru-guru lain pergi untuk menyisakan ruang bagi Tara dan ayahnya.
Di kejauhan, suara-suara samar dari para orang tua kaum Parinasta mulai terdengar sinis.
"Tampaknya, kaum kita sudah berada di bawah level manusia." desis seorang wali murid dari kaum Vaya.
"Lihatlah itu. Bagaimana manusia diperlakukan dan dipuja hanya karena tumpukan kertas." sahut yang lain dengan nada getir.
"Padahal dulu kita yang memimpin dunia ini, manusia hanyalah alat bagi kita. Tapi lihat sekarang, karena kebijakan raja-raja yang sok mendamaikan umat, kita harus tunduk di bawah manusia yang punya uang."
Bu Wudya mempercepat langkahnya, berpura-pura tidak mendengar desas-desus itu sambil menenteng dua koper berisi dua miliar rupiah tersebut dengan erat.
***