"Tunjukkan di mana tempatnya" tuntut Annerta.
Jovi langsung bergerak. Ia melepaskan sandaran punggungnya dari rak buku, lalu melangkah ke arah papan tulis di sudut perpustakaan. Sambil menaiki sebuah kursi untuk menjangkau bagian atas papan, ia melirik Annerta sekilas.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kabarmu dengan Tara? Kalian sudah berbaikan?" tanya Jovi santai.
Annerta memalingkan wajah, rahangnya mengeras.
"Saya tidak punya urusan lagi dengannya. Dia sudah memilih pindah kamar, itu sudah cukup menjadi jawaban bagi saya."
"Dingin sekali," gumam Jovi sambil tangannya menyusuri area tersembunyi di belakang papan tersebut.
"Aku tahu dia menyebalkan, tapi dia tidak pantas mendapatkan perlakuan cukup kasar dari orang yang dia anggap sahabat. Kamu nggak berniat meminta maaf?" tanya Jovi.
"Saya tidak melakukan kesalahan. Itu risiko untuknya, agar dia tahu saya bukan orang yang mudah dipermainkan" balas Annerta datar.
"Iya, dia juga salah. Tapi bukankah itu satu-satunya cara agar kamu tertarik?," sahut Jovi teguh.
"Tapi ya sudahlah, jika kau memang memilih untuk tetap menjadi asing." sambungnya.
Klik.
Jemari Jovi menemukan tuas kecil yang dingin dan menariknya. Papan tulis itu bergeser, terbelah menjadi dua, menyajikan sebuah pintu menuju lorong gelap dengan tangga yang menukik ke bawah. Begitu mereka turun melewati lorong tersebut, papan tulis di atas menutup kembali secara otomatis, mengunci mereka dalam kesunyian yang pengap.
"Selamat datang di Gupta Kaksha" ujar Jovi pelan.
Annerta terpana melihat sekelilingnya. Rak-rak di bawah sana dipenuhi buku dengan sampul kulit yang memiliki ukiran khas zaman dulu. Aromanya dipenuhi debu dan rahasia yang seolah sengaja dikubur.
"Kenapa saat kita membahas Lamdara waktu itu, kau tidak membawa saya ke sini?" tanya Annerta sambil menyisir rak buku kuno itu dengan matanya.
"Sebenarnya, aku mau ngasih tahu pas kita di lapangan panah. Tapi, kamu malah marah-marah dan menganggapku pembual,"
"Jadi, mengurungkan niat untuk memberitahu mu." jawab Jovi tenang.
"Lagi pula, tempat ini hanya untuk mereka yang sudah siap menghadapi kenyataan pahit. Dan sepertinya... kamu sudah tahu siapa dirimu sekarang."
Gerakan tangan Annerta yang sedang menyentuh salah satu buku bersampul kulit hitam terhenti seketika. Ia menoleh perlahan, tatapannya menajam.
"Apa maksudmu?"
"Kau sudah merasakannya, kan? Api yang mencoba membakar air di nadimu?" tanya Jovi dengan raut wajah yang tak lagi jenaka.
"Apakah kau benar-benar meramal saat di Triwalaka?" desis Annerta.
Jovi mengangguk pelan. "Aku melihatmu berdiri di tengah badai, Annerta. Kau melayang dan di kedua tanganmu, dua kekuatan yang saling menghancurkan meledak bersamaan,"
"Itu sebabnya aku melindungimu saat hujan di lapangan itu. Aku tidak ingin, ramalanku menjadi kenyataan." sambung Jovi.
Annerta terdiam. Kata-kata Jovi barusan seperti petir yang menghantam dadanya. Rahasia paling mengerikan yang baru saja ia terima dari ibunya ternyata sudah diketahui oleh orang lain melalui sebuah ramalan. Dunianya mendadak berputar.
Kalimat Vanda tentang nasib tragis pemilik dua darah, kaum yang dianggap kutukan, diburu, dan dimusnahkan mulai berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Ia menatap Jovi dengan tatapan yang bercampur antara amarah dan ketakutan yang murni.
"Annerta? Kamu tidak apa-apa?" tanya Jovi lembut sambil mencoba melangkah mendekat.
Annerta tersentak, ia segera mengangkat tangannya, memberikan gestur 'stop' yang tegas.
"Diam di tempatmu dan menjauhlah dari saya!" ujar Annerta.