Annerta : Part of Aquira

Ann Aizawa
Chapter #40

Roomie

Anin masih mematung, tubuhnya gemetar hebat menatap kalung kupu-kupu itu. Namun, di tengah keterpurukannya, tiba-tiba terdengar suara tawa kecil yang serak dari bibirnya. Tawa itu perlahan mengeras, berubah menjadi tawa hambar yang terdengar gila di tengah kesunyian kamar yang mencekam.

​Anin melangkah maju, menghapus sisa air mata di sudut matanya dengan kasar. Ia menatap Annerta dengan sorot mata yang tak lagi ketakutan, melainkan penuh tantangan.

​"Annerta... Annerta. Kau pikir kau sedang memegang kartu as-ku?" ujar Anin sambil menggelengkan kepala pelan.

"Kau pikir, kau adalah orang paling hebat dan suci di sini?"

"Apakah seseorang yang memberitahumu soal mayat itu tidak mengatakan bahwa satu Santara sebenarnya sudah tahu?"

​Anin tertawa lagi, kali ini lebih sinis. "Itu bukan rahasia, Annerta. Itu hanya tumpukan sampah yang sudah terlupakan dan tertimbun debu. Hanya itu."

"Mungkin bagi Santara, nyawa Salsa hanyalah sampah," sahut Annerta dingin.

"Tapi jika berita tentang mayat siswi yang kau tikam ini tersebar hingga ke telinga kaum Vras lainnya, menurutmu apa yang akan terjadi?"

"Reputasi Kerajaan Vras Barat tidak akan sanggup menanggung bau bangkai ini, Anin. Kau akan menjadi aib selamanya." Sambung Annerta.

​Senyum Anin memudar. Tatapan khas kaum Vras-nya yang tajam mulai muncul, berkilat penuh amarah saat Annerta mengancam harga diri kaumnya.

​"Annerta, jangan pernah berpikir aku tidak punya kartu as-mu," desis Anin. Ia melangkah hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti.

"Bahkan kartu ini mampu membuatmu pergi dari dunia ini lebih cepat jika sampai tersebar."

​"Apa yang kau ketahui tentangku, Anin?" tanya Annerta, suaranya tetap datar namun waspada.

​"Kau bukan Aquira murni. Kau memiliki darah Lamdara yang menjijikkan di tubuhmu" ucap Anin telak.

​Annerta terdiam seketika. Rahangnya mengeras hingga otot lehernya menegang. Genggamannya pada kalung perak itu menguat. Ternyata bukan hanya Jovi, rivalnya pun sudah mencium bau api di nadinya.

​"Apa yang membuatmu beranggapan seperti itu?" tanya Annerta, suaranya tetap tenang meski badai mulai berkecamuk di dadanya.

​"Annerta, kau tidak perlu berlagak polos di depanku. Ingat hari di mana kau pingsan pertama kali saat pulang dari Balai Kota?" Anin tersenyum penuh kemenangan melihat perubahan raut wajah Annerta.

​"Hari itu, kau membabi buta sepertiku. Kau hampir membunuh Tara."

"Aku rasa hujan memang pemicu Lamdaramu. Karena, aku melihatnya dua kali. Saat di Balai Kota Nusa dan di Triwalaka. Namun, di Triwalaka kau terselamatkan oleh Jovi."

"Tapi, saat di Balai Kota, kau melayang di udara setelah terkena tetesan hujan. Saat itu Tara mencoba menolongmu. Sampai dua kali, Annerta!"

"Dua kali gadis itu terhempas oleh kekuatan iblismu dan aku yang menolongnya di sana. Tapi bedanya, Tara memilih memaklumimu, sedangkan aku?. Aku justru dihukum olehnya karena aku membunuh Salsa dihadapannya" ujar Anin dengan nada membara.

​Annerta terpaku. Informasi itu menghantamnya lebih keras daripada serangan fisik mana pun.

​"Jadi, Tara juga tahu soal ini?" tanya Annerta lirih.

​"Iya, tapi dia si bodoh yang memilih untuk mengabaikannya dan terus melindungimu. Tapi lihat sekarang, kau tetap mencampakkannya, kan?" Anin mencibir.

"Aku tidak tahu apa masalah kalian, tapi aku dengar sekarang dia sudah tenang sekamar dengan Ria."

​"Jika kau tahu segalanya, kenapa tidak memberitahukannya kepada Bu Wudya?" tuntut Annerta.

Lihat selengkapnya