Annerta : Part of Aquira

Ann Aizawa
Chapter #41

Baikan

Tara melangkah maju mendekati Annerta. Langkahnya tampak ragu, seolah ada dinding kaca transparan yang kini memisahkan mereka. Ia berhenti tepat di depan Annerta, menatap wajah yang biasanya selalu tampak tidak peduli itu.

​"Hai, Annerta. Tumben. Ada perlu apa?" tanya Tara pelan.

​"Saya... ingin menjenguk Duren" jawab Annerta. Suaranya sedikit kaku, seolah kata-kata itu sulit untuk dikeluarkan.

​Tara mengernyit, matanya membelalak heran. "Oh, ya? Yakin? Bukannya kamu alergi?"

​Annerta tidak menjawab. Tanpa menunggu izin lebih lanjut, ia langsung menerobos masuk ke kamar Ria, melangkah mantap menuju pojok ruangan tempat Duren sedang sibuk dengan mangkuk makannya. Annerta menunduk, ia menekuk lututnya dan mengulurkan tangan dengan gerakan yang sangat ragu.

Tara dan Ria saling pandang, lalu segera menghampiri Annerta. Saat kedua gadis itu berdiri di sampingnya, Annerta menoleh sekilas ke arah Tara. Seolah ingin membuktikan sesuatu, ia memberanikan diri mendaratkan jemarinya di atas bulu lebat Duren. Matanya terpejam rapat saat merasakan sensasi halus bulu kucing itu bersentuhan langsung dengan kulitnya.

​"Annerta? Are you okay?" tanya Tara cemas.

​"Iya" jawab Annerta singkat. Ia masih memejamkan mata, membiarkan tangannya tetap di sana meskipun ia mulai merasakan sensasi gatal yang menjalar.

​Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Tara dan Ria mulai menyadari ada yang salah. Kulit Annerta yang putih pucat perlahan berubah.

​"Annerta, kayaknya kamu nggak baik-baik saja" ujar Tara mulai panik.

​Annerta membuka matanya. Benar saja, ruam-ruam merah mulai muncul di sekitar rahang dan pipinya. Bintik kemerahan juga mulai memenuhi punggung tangannya yang baru saja menyentuh Duren.

​"Annerta, wajahmu!" seru Ria kaget.

​Menyadari reaksi tubuhnya mulai parah, Annerta segera menarik tangannya dan berdiri dengan cepat.

"Saya harus pergi" gumamnya, meski langkahnya kini sedikit goyah.

​***

​Pintu kamar terbuka. Suasana di dalam kamar 076P terasa dingin dan sepi, tapi hanya untuk sesaat. Tara mulai mengikuti Annerta dan bergerak gesit. Ia langsung menuju lemari di dekat kasurnya. Tempat di mana ia selalu menyimpan kotak P3K.

​"Lagian, sudah tahu alergi kucing, sok-sokan nyentuh." omel Tara.

Tangannya sibuk mengacak isi kotak P3K, mencari obat antihistamin dan salep pereda gatal.

​Annerta duduk di tepi tempat tidurnya, tampak sedikit kacau dengan wajah yang mulai membengkak ringan.

"Saya... hanya..."

​"Apa? Kangen aku?" potong Tara sambil membawa obat dan salep ke hadapan Annerta.

​"Tidak sama sekali," sahut Annerta cepat.

"Saya hanya ingin memastikan kamu sudah mantap dengan pilihanmu untuk tetap berada di kamar Ria."

​Tara tidak langsung menjawab. Ia menarik tangan Annerta yang dipenuhi ruam. Annerta sempat menarik tangannya kembali karena gengsi, namun Tara menyentaknya pelan dan menariknya lagi agar ia bisa mengoleskan salep.

​"Hmm, kayaknya nggak" ujar Tara tenang sambil meratakan salep di kulit Annerta.

​"Apa maksudmu?" tanya Annerta, matanya menatap lekat pada jemari Tara yang bergerak lembut di tangannya.

​"Ya aku... mau pindah ke kamar ini lagi" jawab Tara santai.

​Annerta tertegun. "Kenapa? Bukankah kamu sudah senang dengan Ria di sana?. Dia jauh lebih baik daripada saya."

​Tara berhenti mengoleskan salep. Ia mendongak, menatap mata Annerta dengan tatapan yang sangat tulus.

"Karena... kamu kelihatan cukup kacau tanpaku, Annerta."

​"Tidak juga" bantah Annerta.

​"Oh, ya? Sudahlah, Annerta. Akui saja, kamu datang menjenguk Duren itu sebenarnya cuma alasan untuk menjemputku, kan?" tanya Tara dengan senyum tipis yang mulai muncul.

"Aku juga dengar, kamu ngomong 'Hi, Roomie'" ledek Tara.

​Annerta terdiam. Ia tidak membantah, tapi raut wajahnya berubah menjadi lebih serius. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.

Lihat selengkapnya