Annerta : Part of Aquira

Ann Aizawa
Chapter #42

Salsa

Tanpa membuang waktu, Annerta menyelinap masuk, diikuti Tara yang tampak waswas. Annerta langsung menuju papan tulis di sudut ruangan. Dengan gerakan tangkas, ia menarik sebuah kursi kayu, menaikinya, lalu menyisir bagian atas belakang papan tulis dengan jemarinya. Ia meraba setiap inci kayu yang berdebu hingga ujung jarinya menemukan sebuah tuas logam kecil yang tersembunyi.

Klik.

Papan tulis itu bergetar, lalu terbelah menjadi dua, menyingkap sebuah lorong gelap yang lembap.

"Annerta? Jangan bilang kamu mau mengajakku mendekati kematian lagi," gumam Tara.

"Kita baru saja baikan, lho." lanjutnya.

"Ayo masuk, sebelum ada yang lihat" tarik Annerta tegas.

Mereka menuruni tangga yang remang, diterangi lampu kuning yang berkedip sekarat. Annerta langsung menuju peti kayu yang ia temukan kemarin. Dengan napas tertahan, ia mendorong tutupnya hingga terbuka. Namun, peti itu kosong.

"Kemana?" gumam Annerta.

Hanya ada aroma apek dan debu di sana. Jenazah berseragam Santara itu telah lenyap. Tara mendekat, wajahnya pucat.

"Kamu menemukan apa di sini, Annerta?"

"Salsa" ucap Annerta singkat.

Nama itu menghantam Tara seperti gada besi. Ia mundur selangkah, matanya membelalak.

"Kamu tahu dari mana soal Salsa?"

"Jovi yang memberitahu saya. Tentang Salsa, kamu, dan Anin," sahut Annerta dingin sambil menoleh.

"Kenapa kamu tidak pernah menceritakan hal ini sebelumnya, Tara?"

Tara tertunduk, meremas jemarinya sendiri.

"Karena... aku sudah susah payah move on dari hal itu, Annerta. Dan itu bukan hal yang penting"

"Satu pertanyaan terakhir. Seberapa dekat kamu dengan Salsa?" tuntut Annerta.

Tara menghela napas panjang, matanya menerawang menembus kegelapan ruangan, membawa ingatannya kembali ke masa itu.

~ Flashback ~

Hari pertama di Santara adalah mimpi buruk bagi Tara. Ia datang dengan kemewahan Rolls-Royce, namun disambut oleh dinding dingin tatapan merendahkan. Desas-desus berbisik tajam di belakang punggungnya, tentang bagaimana seorang manusia biasa tanpa kekuatan bisa menyusup ke sekolah elit kaum Parinasta. Hingga sebuah tangan terulur padanya.

"Halo, aku Salsa." ucap gadis di hadapannya itu.

Gadis itu tersenyum tulus, sebuah ekspresi yang mendadak menjadi satu-satunya cahaya bagi Tara yang semula berjalan menunduk. Salsa bukan hanya sekadar teman, ia memiliki energi yang seirama dengan Tara. Keduanya adalah percikan api yang ceria di tengah dinginnya tembok Santara. Jika Tara adalah keramaian yang modern, maka Salsa adalah tawa yang renyah dan hangat. 

Dari hari itu, mereka sering menghabiskan waktu bersama, membicarakan hal-hal konyol yang membuat seisi koridor menoleh karena kebisingan yang mereka ciptakan. Meski tidak sekamar, Salsa adalah jangkar bagi Tara di dunia yang asing ini. Kehadiran Salsa membuat Tara merasa tidak sendirian menjadi 'minoritas'. Tara sendiri ditempatkan sekamar dengan Anin yang pendiam dan kaku, namun perbedaan kasta dan sifat itu justru tidak menghalangi mereka bertiga untuk menjalin ikatan yang sedekat nadi. 

Mereka adalah segitiga yang saling melengkapi, keceriaan Tara, kehangatan Salsa, dan ketegasan Anin. Mereka berbagi rahasia, mimpi dan tawa di kamar 007P, menciptakan surga kecil di sekolah yang penuh aturan itu.

Tak ada yang menyangka bahwa harmoni itu akan hancur lebur hanya dalam satu malam. Hingga malam yang terkutuk itu tiba.

"Pizanya sudah datang nih" seru Tara riang sambil menatap layar ponselnya.

"Oh, sudah sampai? Ya sudah, aku turun ya," ujar Salsa.

"Enggak usah, aku saja. Kamu tungguin Anin di sini, dia lagi dipanggil Bu Wudya" balas Tara sambil berlalu pergi.

Salsa yang tertinggal sendirian mulai merasa bosan. Sebuah ide jahil melintas. Menggunakan kemampuan beralih wujudnya, Salsa berubah menjadi sosok Tara dengan sempurna. Ia duduk di atas kasur Tara, menunggu Anin masuk.

Saat Anin melangkah masuk dengan helaan napas lelah, ia sama sekali tidak menyadari bahwa sosok yang duduk di sana bukanlah sahabat manusianya.

Lihat selengkapnya