Annerta : Part of Aquira

Ann Aizawa
Chapter #43

Luka Sang Ayah

Dari balik bayangan rak buku yang menjulang tinggi, sesosok pria muncul perlahan. Sosok itu adalah Datruna. Namun, tidak ada senyum jenaka atau aura misterius yang biasa ia tunjukkan. Matanya merah, sembab oleh air mata yang tampak baru saja tumpah dengan hebat.

"Datruna?" gumam Tara tak percaya.

"Jadi... benar Anin yang membunuh Salsa?" tanya Datruna dengan suara lirih yang bergetar hebat, menahan beban kenyataan yang baru saja ia dengar.

Tara terpaku sembari mengusap sisa air matanya. 

"Kau mengenal Salsa? Tunggu..." Tara tersentak. 

"Astaga, aku baru ingat nama lengkapnya. Salsa Erda Darmana... dia anakmu?"

Datruna tidak menjawab. Ia hanya mengusap air matanya dengan kasar, sementara sebuah isakan kecil yang pilu lolos dari bibirnya.

"Jadi, kau menyamar menjadi siswa hanya untuk mencari tahu kebenaran di balik kematian putrimu?" tebak Annerta pelan.

"Bajingan kalian semua" jawab Datruna getir.

Pria itu kembali menyapu air matanya, namun kini sorot matanya berubah menjadi bara yang menyala. Ia menatap Annerta dan Tara dengan tatapan seorang ayah yang hancur. 

"Ternyata orang-orang besar seperti kalian sangat ahli menutupi kasus,"

"Rakyat kecil seperti kami hanya dianggap debu yang bisa disapu ke bawah karpet," ujar Datruna, suaranya bergetar di antara kesedihan dan amarah yang meluap.

"Kekuasaan Raja Vras dan reputasi ayahmu telah membeli kebenaran ini, Tara." Datruna melangkah maju, menunjuk tepat ke arah Tara. 

"Kukira kau benar-benar teman yang baik untuk Salsa. Aku sering melihat dia mengunggah foto kalian di media sosialnya. Ternyata kau sama saja... kau pembunuh"

"Kalian membayar kesunyian semua orang agar nama baik kalian tetap suci di atas darah putriku!" teriak Datruna. Suaranya meninggi, menggema kasar di ruangan bawah tanah yang sempit itu. 

"Memang benar... keadilan di dunia ini tidak pernah berpihak pada orang kecil. Kami hanya figuran dalam permainan kekuasaan kalian."

Tara tertunduk dalam, kata-kata itu menghujam jantungnya telak. Ia tahu ayahnya terlibat dalam penyogokan besar-besaran untuk membungkam saksi dan media.

"Datruna, maksud saya, Om... saya minta maaf. Tapi Om dengar sendiri, kan? Salsa yang memancing Anin terlebih dahulu" ujar Tara gugup, mencoba memberikan pembelaan yang sia-sia.

"Apa pun alasannya, dia tidak pantas terbunuh." bentak Datruna.

Annerta melangkah maju, memposisikan dirinya di depan Tara. Suaranya tetap tenang meski penuh kewaspadaan. 

"Datruna, dengarkan saya. Anin tidak sepenuhnya salah, dia terpancing oleh lelucon Salsa. Kejadian itu adalah kecelakaan di luar kendali mereka berdua. Kau tidak punya alasan untuk menyakiti Anin sekarang."

"Itu urusanku!" bentak Datruna lagi, matanya berkilat liar. 

"Keadilan yang kalian sembunyikan, akan kujemput dengan tanganku sendiri!"

Dalam sekejap, Datruna menghilang dan menyatu dengan benda-benda sekitar. Ia menerjang tumpukan buku hingga berantakan dan berlari menaiki tangga. Annerta dan Tara tidak tinggal diam, mereka segera memacu langkah keluar dari kegelapan perpustakaan menuju koridor sekolah. Pikiran mereka kini hanya satu, Anin sedang dalam bahaya besar.

***

Sementara itu, di sisi lain sekolah, Anin baru saja keluar dari ruang UKS dengan langkah santai. Namun, langkahnya terhenti seketika saat melihat sosok Tara berdiri di hadapannya. Gadis itu tampak kaku, dengan wajah pucat dan napas yang memburu panik.

Lihat selengkapnya