Annerta : Part of Aquira

Ann Aizawa
Chapter #44

Kesurupan

Heningnya Hutan Talas hanya dipecahkan oleh suara langkah sepatu yang menginjak dedaunan kering. Datruna terus melangkah menembus kabut tipis, menggendong tubuh Anin yang tak berdaya di pundaknya dengan posisi Anin yang terjuntai ke belakang. Saat mereka tiba di bibir Sungai Talas, Datruna berhenti sejenak.

Aliran air sungai yang deras itu menghalangi langkahnya. Dengan kemampuan Spiritual VII nya, Datruna menggunakan kemampuan Aquira dan dalam hitungan detik, suara kristalisasi yang tajam terdengar merambat. Air yang tadinya liar membeku seketika, menciptakan jembatan es yang kokoh dan dingin. Datruna melangkah di atasnya tanpa keraguan.

Di tengah hutan di seberang Sungai Talas, kesadaran Anin mulai kembali. Kepalanya terasa berat, namun pandangannya yang kabur mulai menangkap tanah yang bergerak di bawahnya. Detik berikutnya, rasa panas menjalar di lehernya, menyadarkannya bahwa ia sedang dalam cengkeraman seseorang.

Insting predator Vras-nya meledak. Tanpa peringatan, cakar-cakar tajam mencuat dari jemari Anin. Dengan sisa tenaga, ia menghujamkan cakarnya dalam-dalam ke punggung Datruna.

"Akhh!" Datruna mengerang kesakitan. 

Refleks, ia melempar tubuh Anin hingga gadis itu terpelanting ke tanah.

"Datruna?. Apa yang kau lakukan?!" teriak Anin. Ia berusaha bangkit meskipun kepalanya masih berdenyut hebat.

Datruna tidak menjawab. Ia menghentakkan kakinya ke tanah dengan keras. Seketika, bumi di bawah kaki Anin bergetar hebat. Tanah mulai terbelah dan mencuat ke atas, membentuk pilar-pilar batu yang melengkung dan mengunci tubuh Anin. Tanah itu mengeras secepat baja, menjepit lengan dan kakinya hingga ia tak bisa bergerak.

"Kau... bisa menggunakan kekuatan tanpa menyentuh kaum lain?" Anin terperangah. 

"Siapa sebenarnya dirimu?!"

"Kau mau mati saja, banyak bicara" sahut Datruna dingin.

Datruna mengangkat tangannya. Kali ini, percik api mulai menari-nari di telapak tangannya, perlahan membesar menjadi bola api yang membara. Anin yang terjepit di antara tembok-tembok tanah itu mulai meronta gila-gilaan.

Tepat saat Datruna hendak menyambarkannya, sebuah cahaya merah kehitaman melesat jatuh dari langit, membelah udara dan menghantam serangan api Datruna hingga padam seketika. Ledakan cahaya itu perlahan meredup, meninggalkan sosok yang berdiri tegak dengan aura yang mencekam.

"David, hentikan kebodohanmu" suara berat itu milik Kama.

Anin membelalakkan matanya saat melihat sosok di hadapannya. Rambut yang bergerak liar dan energi gelap yang meluap-luap dari tubuh pria itu hanya berarti satu hal.

"Lamdara? Bukankah kalian semua sudah disegel?" Anin berteriak, suaranya bergetar antara benci dan takut.

Kama membalikkan badannya perlahan. Tatapannya dingin, menusuk hingga ke tulang. Sepasang dua luka yang melintang di dekat matanya membuat wajahnya tampak sangat mengintimidasi.

"Tuan Putri Vras, sebaiknya di adegan ini... kau tidak perlu banyak bicara" ucap Kama tenang.

Anin terpaku. Ia menatap wajah Kama dengan saksama. Sorot mata itu terasa sangat familiar di ingatannya. Seperti ada kepingan memori yang mencoba menyatu.

"Kau siapa, berani memerintahku?!" tantang Anin, mencoba menutupi kegetarannya.

Kama melangkah maju. Dengan gerakan yang sangat cepat, ia menempelkan satu jarinya tepat di depan bibir Anin. Seketika, mulut Anin terkunci rapat. Gadis itu hanya bisa meronta tanpa suara di dalam cengkeraman pilar tanah yang semakin memadat.

"Maaf, Pangeran. Tapi biarkan ini menjadi urusan saya. Dia yang telah membunuh Salsa" ujar Datruna. Ia melangkah maju, lalu berlutut dengan penuh hormat di hadapan Kama.

Kama mengangkat alisnya, menatap Anin dengan senyum miring yang sinis. 

"Oh, jadi sang penerus takhta Vras Barat ini... seorang pembunuh?"

"Iya. Dia mengoyak tanpa ampun putriku" desis Datruna dengan tatapan penuh amarah yang ditujukan pada Anin.

Anin melebarkan matanya. Fakta itu menghantamnya sangat keras. Salsa adalah putri Datruna? Pria misterius disekolahnya selama ini adalah ayah dari gadis yang ia tikam di malam terkutuk itu?.

"Dia akan jadi milikmu, David. Tapi kau harus tahu bahwa teman-temannya, terutama Annerta pasti akan mencarinya," ucap Kama sambil menoleh kembali ke arah hutan. 

"Bawa dia ketempat istimewa itu. Aku ingin melihat sebuah pertunjukan kecil sebelum badai besar yang sesungguhnya menghantam mereka" lanjut Kama. 

Datruna mengangguk patuh. Ia menggerakkan tangannya, membuat pilar-pilar tanah yang menjepit Anin luruh kembali ke bumi. Sebelum Anin sempat melarikan diri, Datruna menyentuh akar pohon di dekat mereka. Akar-akar itu bergerak seperti ular, menjalar cepat dan mengikat tangan serta kaki Anin dengan sangat kuat. Datruna kembali menyampirkan tubuh Anin di pundaknya.

***

Di depan kelas, Pak Lium sedang asyik mencoret-coret papan tulis dengan spidolnya. Wajahnya tampak sangat bersemangat, sangat kontras dengan separuh siswa yang matanya sudah mulai sayu.

Lihat selengkapnya