Annerta : Part of Aquira

Ann Aizawa
Chapter #45

Sang Aquira

Langkah kaki mereka berderap cepat di koridor sekolah. Naka memimpin di depan dengan insting tajamnya. Namun, tepat saat pagar belakang Santara sudah dalam jangkauan mata, Naka mendadak merentangkan tangan, memberi isyarat berhenti.

"Menepi, Cepat!" bisik Naka tajam.

Ia menuntun Annerta dan Tara bersembunyi di balik pilar pojok bangunan yang gelap. Dari kejauhan, siluet Bu Sintia terlihat muncul dari arah Hutan Talas. Wajah guru itu tampak datar, namun langkahnya terburu-buru, sambil melihat kondisi sekitar. Setelah merasa aman Bu Sintia masuk menuju ruang musik.

"Dari mana Bu Sintia itu?" gumam Annerta pelan, matanya menyipit penuh selidik.

Setelah memastikan siluet Bu Sintia menghilang di balik pintu ruang musik, Naka kembali bergerak. Namun, baru saja tangannya menyentuh besi pagar yang dingin, sebuah suara berat menghentikan mereka dari belakang.

"Kalian mau ke mana?"

Mereka serentak menoleh kearah sumber suara itu. Ternyata itu Jovi.

"Astaga, Jovi!. Ngagetin aja!" ucap Tara.

Naka tidak santai seperti Tara. Ia justru memasang posisi siaga, menatap Jovi dengan tatapan penuh selidik. 

"Apa yang kau lakukan di sini, Jovi?"

"Kalian bertiga terlihat sangat mencurigakan tadi di kelas. Apalagi melibatkan Annerta,"

"Pasti, bukan hak yang spele. Makanya aku ngikuti kalian." ujar Jovi.

"Kembalilah ke kelas. Nambah satu orang cuma bakal bikin urusan ini makin ribet." balas Naka sinis.

Jovi hanya mengangkat sebelah alisnya, tidak merasa terintimidasi oleh gertakan Naka. Sebelum perdebatan itu memanas, Annerta melangkah maju, memecah ketegangan di antara kedua pria itu.

"Biarkan dia ikut," ucap Annerta datar.

"Kadang dia selalu berguna di sela-sela hal yang tidak terduga."

Annerta kemudian berbalik, tidak menunggu persetujuan Naka lagi. 

"Apa yang kalian tunggu, ayo" lanjut Annerta.

Naka hanya bisa mendengus kesal, namun ia tahu Annerta benar soal waktu. Mereka berempat pun segera melompati pagar, menghilang ke dalam rimbunnya hutan yang mulai menjemput mereka.

***

Tidak butuh lama, akhirnya mereka sampai. Naka mulai menggunakan kemampuan penciumannya, hidungnya mengendus udara yang lembap mencari jejak aroma Anin di antara bau tanah. Langkah mereka terhenti tepat di bibir Sungai Talas yang berarus deras.

"Baunya berhenti di sini," ujar Naka.

"Mereka pasti pergi ke seberang sana" sambung Naka, sambil menunjuk hutan yang lebih gelap di balik sungai.

"Ayo Annerta, gunakan kekuatanmu. Bekukan sungai ini seperti yang kamu lakukan waktu di Sungai Nusa" ucap Jovi.

Annerta melangkah maju. Ia menarik napas dalam, memejamkan mata dan mencoba memusatkan seluruh energi Aquira ke telapak tangannya. Namun, saat kegelapan menutup pandangannya, bukannya fokus yang ia dapatkan, melainkan bisikan-bisikan gaib yang mendesis menyakitkan di telinganya.

Bencana besar di depanmu...

Jangan pergi...

Kau darah yang terkutuk...

Kau akan menghancurkan teman-temanmu...

Annerta mengerang pelan, kepalanya berdenyut. Ia berusaha mengusir suara-suara itu, namun kesadarannya perlahan menjauh.

"Annerta?" Suara Tara terdengar samar.

Lihat selengkapnya