Annerta : Part of Aquira

Ann Aizawa
Chapter #46

Buah Vritcha

Tara yang berada di depannya tertegun. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. Mendengar Annerta menyebutnya sebagai "sahabat" di tengah pertarungan hidup dan mati memberikan rasa hangat yang luar biasa di dadanya.

Datruna berusaha bangkit, terbatuk sambil memegangi punggungnya. Pertarungan ini belum berakhir, tubuhnya tiba-tiba memudar.

"Dia menghilang! Waspada!" teriak Naka sambil memasang posisi siaga.

Suasana menjadi sunyi mencekam. Mereka berdiri saling membelakangi, mencoba memindai setiap sudut gelap di tepi danau tersebut. Namun, Datruna jauh lebih cerdik. Ia memanfaatkan titik buta mereka dengan sempurna.

Bugh!

Tanpa peringatan, sebuah tinju tak terlihat menghantam rahang Jovi dengan telak. Jovi terhempas ke belakang, menabrak batang pohon besar hingga napasnya tersengal. Belum sempat mereka bereaksi, tanah di bawah kaki Naka mendadak bergerak seperti ombak. Sepasang tangan kokoh muncul dari dalam bumi, mencengkeram pergelangan kaki Naka dan dengan kekuatan luar biasa, melemparkannya ke arah rumah kayu tua tersebut.

Pranggg! Brak!

Tubuh Naka menghantam dinding kayu usang itu, membuat beberapa keping seng dari atap yang berkarat jatuh berserakan.

Kini, target berikutnya adalah Tara. Annerta menyadari arah pergerakan angin yang ganjil menuju ke arah sahabatnya itu. Mengandalkan insting Aquiranya, Annerta tidak menyerang ke arah yang kosong, melainkan menyiramkan massa air yang besar tepat ke area di sekeliling Tara.

Taktik Annerta berhasil. Air yang disiramkannya menyelimuti sesuatu yang transparan di udara, menyingkap siluet tubuh Datruna yang hanya berjarak beberapa inci dari leher Tara.

"Tara, merunduk" teriak Annerta.

Tara merespons secepat kilat. Ia menjatuhkan dirinya ke tanah, berguling, lalu berlari sekuat tenaga menuju Annerta. Datruna yang posisinya sudah terbongkar mencoba menghilang kembali, namun Annerta tidak memberinya kesempatan kedua.

Annerta menunduk, lalu mengambil tanah dan melemparkannya ke arah siluet tersebut. Tanah-tanah itu menempel di sekujur tubuh Datruna, memberikan wujud fisik yang nyata pada sang Rupantara tersebut. Kini, Datruna tidak lagi menjadi bayangan, ia berdiri di depan mereka dengan tubuh yang berlumuran lumpur.

"Terjebak kau" desis Annerta dingin.

Datruna berdiri kaku, napasnya memburu di balik lapisan lumpur yang menyelimuti tubuhnya. Ia terkepung. Naka sudah bangkit dari reruntuhan kayu, Jovi juga telah membidikkan busurnya dan Annerta berdiri dengan tatapan sedingin es.

"Mau lari ke mana lagi, David?" ujar Annerta.

Melihat posisi yang tidak menguntungkan, Datruna tertawa rendah yang terdengar teredam. Dengan gerakan kilat, ia merohoh saku Hoodenya dan mengeluarkan sebuah masker oksigen besar yang menutupi seluruh wajahnya.

"Kalian terlalu fokus padaku" gumam Datruna dari balik masker

"Sampai lupa, kalian berada dimana." Sambungnya.

Tiba-tiba, tanah di sekeliling mereka bergetar hebat. Gemuruh suara kayu yang bergesekan memenuhi udara. Langit yang gelap seolah merendah, menciptakan ilusi seakan mereka terlempar ke dimensi lain yang penuh dengan akar-akar raksasa yang melilit.

"Annerta, ada yang tidak beres." teriak Tara panik. Ia merasa udara di sekitarnya mendadak berubah.

Dari dahan-dahan pohon di atas mereka, Ada buah Vritcha yang besar dan berduri pecah serentak. Bubuk halus berwarna ungu pekat menyembur keluar seperti ledakan gas, menyelimuti area itudalam sekejap.

"Tutup hidung kalian. Jangan dihirup!" perintah Jovi, namun terlambat.

Bubuk itu bukan racun biasa. Begitu terhirup, energi Parinasta mereka dipadamkan secara paksa. Namun, Annerta tetap mencoba menggerakkan air, namun tangannya terasa berat, Kekuatan Aquiranya lumpuh seketika. Naka yang baru saja hendak menerjang, mendadak jatuh bertumpu pada lututnya, taring dan cakarnya menyusut kembali saat insting serigalanya mati rasa. Begitu pula dengan Tara dan Jovi, mereka pun mulai pingsan.

Datruna berusaha bangkit, terbatuk sambil memegangi punggungnya yang terluka. Ia menatap keempat musuhnya yang kini tergeletak tak berdaya di atas tanah yang lembap. Pandangan Annerta menjadi yang terakhir meredup. Ia melihat bayangan Datruna menghilang dan merasakan tubuhnya ambruk ke tanah. Du nia menjadi hitam.

***

Kepala Annerta terasa berat, seolah ribuan jarum tak kasatmata sedang menusuk saraf pusatnya. Namun, kesadarannya yang tajam memaksa matanya untuk terbuka. Hal pertama yang ia tangkap adalah aroma debu yang menyesakkan dan dinginnya lantai semen yang lembap.

Ia mencoba menggerakkan lengannya, namun suara gemerincing logam yang berat langsung menyambut. Tangannya terikat ke belakang oleh rantai yang dingin. Rantai itu terhubung ke sebuah pengait besi di lantai dengan sisa ruang hanya sekitar 5cm, membatasi ruang geraknya secara paksa. Tidak hanya dia, di sekelilingnya, Tara, Jovi dan Naka berada dalam posisi yang sama. Di tengah-tengah lingkaran mereka, sebuah buah Vritcha diletakkan. Buah yang memancarkan energi penghisap yang membuat kekuatan Parinasta mereka terasa lumpuh.

Annerta menoleh ke samping. Tara masih memejamkan mata dengan napas yang tidak teratur. Annerta menggerakkan kakinya, menyenggol betis Tara dengan desakan yang tegas.

Lihat selengkapnya