Matahari mulai meninggalkan tempatnya, menyisakan kesunyian yang mencekik di dalam gedung tua itu. Udara terasa tipis, dipenuhi aroma karat dan debu yang menyesakkan.
"Kakiku kesemutan, Annerta. Aku juga lapar sekali" keluh Tara.
"Sudah ku bilang kan, aturnya kita makan mie ayam dulu" sambung Tara.
"Tara, berhentilah bertingkah seolah oksigen di sini hanya milikmu sendiri. Kita semua sedang membusuk di posisi yang sama" sahut Annerta dingin tanpa menoleh.
"Apakah benar-benar tidak ada celah? Kita akan mati sia-sia seperti tikus yang terperangkap jika hanya duduk diam" timpal Naka, nada pangerannya mulai retak oleh keputusasaan.
"Kau seorang pangeran, Naka. Seharusnya kau mampu memimpin kami keluar dari sini, bukannya melontarkan pertanyaan retoris yang tidak berguna." Balas Jovi.
"Jaga ucapanmu, Kaka. Kau hanya bisa meramal, bukan? Kekuatanmu adalah hal paling tidak berguna di ruangan ini" balas Naka sengit.
"Aku bisa saja memanah dan merobek mulutmu begitu kita keluar dari sini" ancam Jovi dengan mata menyipit tajam.
"Oh, ya?. Sebelum anak panahmu lepas dari busur, kupastikan kau tidak punya tangan lagi untuk menariknya!"
"Cukup!. Kalian berdua sama saja. Dua pria tidak berguna" potong Tara frustrasi.
Di tengah keributan itu, Annerta diam. Matanya yang tajam menatap kosong ke arah Anin. Otaknya bekerja melampaui kepanikan teman-temannya. Ia sedang menyusun kepingan teka-teki logika.
"Tara?," panggil Annerta pelan.
"Saat Anin menyelamatkanmu dari saya di Balai Kota Nusa, itu siang hari, bukan?"
"Iya, kenapa?"
"Dan saat dia menikam Salsa, itu malam hari di bawah bulan sabit?"
"Iya, Annerta. Mengapa kau malah membahas masa lalu Anin di saat seperti ini?" tanya Tara bingung.
"Dia seorang Serigala Alfa, Tara." gumam Annerta.
"Terus kenapa, Annerta?" balas Tara.
Tak lama kemudian, pintu berderit terbuka. Datruna melangkah masuk dengan keangkuhan yang memuakkan.
"Selamat malam, anak-anak. Sudah siap menghadapi kematian?"
"David?," panggil Annerta.
"Kau mau tahu satu fakta menarik?"
"Apa, Annerta?. Teori gila apalagi yang ingin kau muntahkan?" Datruna mendekat.
"Saya dan Salsa memiliki satu bakat hina yang sama" ucap Annerta.
"Jaga mulutmu! Jangan pernah samakan dirimu dengan putri cantikku." bentak Datruna, emosinya terpancing.
"Kau sepertinya melewatkan kata 'hina' yang baru saja saya sebut" balas Annerta tanpa ekspresi.
Datruna menggeram, melangkah maju dan menjambak rambut Annerta dengan kasar hingga kepala gadis itu terdongak. Namun, Annerta tidak merintih. Ia justru mengalihkan pandangannya pada Anin yang masih terikat di sudut ruangan.
"Sepertinya Salsa benar. Dia memang jauh lebih baik darimu dalam segala hal, Anin" ujar Annerta.
Anin yang mulutnya terkunci hanya bisa meronta, matanya menatap tajam ke arah Annerta.
"Kasihan sekali Pangeran Naka. Dia dijodohkan dengan putri dari Barat yang pasif, lemah dan tak lebih dari sekadar beban,"