Lampu-lampu koridor asrama Santara berpijar redup, menciptakan bayangan panjang yang mengikuti langkah lelah mereka. Suasana sekolah sudah sangat sepi, hanya menyisakan suara jangkrik dan embusan angin malam yang menusuk tulang. Monisya berjalan di samping Annerta dan Tara, mengawal mereka hingga tiba di depan pintu kamar 076P.
Begitu masuk, Tara langsung menjatuhkan dirinya ke tempat tidur dengan napas berat, sementara Annerta tetap berdiri tegak. Monisya tidak segera pergi. Ia menutup pintu rapat-rapat, lalu melangkah mendekati Annerta. Matanya yang biasanya teduh kini tampak sangat gelisah, memancarkan kecemasan yang tidak bisa ia tutupi lagi.
"Annerta, Di mana kamu simpan gelang yang pernah Ibu berikan?" tanya Monisya.
Annerta terdiam sejenak, menatap ibunya dengan tatapan dingin seperti biasanya.
"Ada. Saya menyimpannya di dalam lemari." ujar Annerta.
"Ambil gelang itu sekarang. Pakai dan jangan pernah dilepaskan setelah ini. Apapun yang terjadi." Perintah Monisya.
Annerta tidak langsung bergerak. Ia menyilangkan tangan di depan dada, menuntut penjelasan lebih.
"Beritahu saya dulu apa fungsinya, Bu. Setelah semua kejadian yang sudah saya alami,"
"Saya rasa saya berhak tahu alasan di balik setiap hal yang harus saya lakukan." sambungnya.
Monisya menghela napas panjang, tangannya gemetar sedikit saat ia memegang bahu Annerta.
"Kamu akan tahu nanti, Annerta. Untuk sekarang, percayalah pada Ibu. Itu bukan sekadar perhiasan, itu adalah satu-satunya harta yang Ibu bawa saat meninggalkan kerajaan."
Kata-kata 'kerajaan' membuat suasana kamar menjadi semakin berat. Belum sempat Annerta membalas, sebuah ketukan pelan namun tegas terdengar dari balik pintu kayu mereka.
Tara, yang sejak tadi menyimak dengan setengah mengantuk, segera bangkit untuk membukanya. Di sana berdiri Bu Wudya dengan jubah kebesarannya yang masih menyapu lantai. Wajah sang Kepala Sekolah tampak lelah, namun otoritasnya tetap terasa kuat.
"Bu Monisya," sapa Bu Wudya, matanya beralih sejenak ke arah Annerta sebelum kembali ke Monisya.
"Bisa kita bicara di ruangan saya sekarang? Biarkan anak-anak ini beristirahat. Mereka telah melewati hari yang sangat panjang dan melelahkan."
Monisya tampak ragu sejenak, namun ia mengangguk patuh. Sebelum berbalik mengikuti Bu Wudya, ia menatap tajam ke arah Annerta untuk terakhir kalinya malam itu.
"Ingat pesan Ibu, Annerta. Gelang itu jangan pernah dilepas" bisiknya sekali lagi, memastikan kata-katanya sampai ke Annerta.
Dengan langkah berat, Monisya keluar dari kamar, meninggalkan Annerta yang masih terpaku di tengah ruangan dalam kesunyian yang mencekam. Di koridor, Monisya berjalan dalam diam mengikuti punggung Bu Wudya, menuju ruangannya.
***
Di dalam ruangan Kepala Sekolah, Bu Wudya duduk tegak, matanya yang tajam menatap lurus ke arah Monisya yang duduk bersila di hadapannya.
"Bu Monisya, saya tidak akan berbelit-belit," suara Bu Wudya memecah kesunyian malam.
"Tolong jawab semua pertanyaan saya dengan jujur. Ini bukan sekadar rasa ingin tahu, tapi demi keselamatan anak-anak kita dan juga keselamatan Santara." Sambung Bu Wudya.
Bu Wudya menjeda sejenak, seolah mengumpulkan keberanian untuk menanyakan hal yang tabu.
"Apakah Anda adalah Sang Putri Aquira yang hilang?. Putri yang puluhan tahun lalu dikabarkan tewas di tangan kaum Lamdara?"
Keheningan jatuh di antara mereka. Monisya menunduk, tangannya meremas ujung bajunya. Rahasia yang ia kunci rapat di dasar, kini seolah mendobrak paksa untuk keluar.
"Iya, Bu," bisik Monisya akhirnya. Ia mengangkat wajahnya, menampakkan gurat kesedihan yang mendalam.
"Itu saya. Saya adalah Monika Laksyani."
Bu Wudya tersentak, napasnya tertahan sejenak.
"Jika benar begitu... saya minta maaf jika ini menyinggung ranah pribadi Anda. Namun, apakah Annerta benar-benar putri kandung Anda?. Dan siapa ayahnya? Apakah dia seorang Aquira? Manusia? Atau... seorang Lamdara?"
Mendengar kata terakhir itu, Monisya mendongak dengan tatapan terluka.
"Bu Monisya, semakin lama Anda menyimpan kebenaran ini, Annerta akan semakin terperosok ke dalam bahaya untuk mencarinya sendiri."
"Ayahnya seorang manusia biasa," jawab Monisya dengan nada yang kini terdengar lebih lancar.
"Itulah alasan mengapa Annerta sangat terlambat mendapatkan kekuatan Aquiranya. Itulah mengapa tato identitasnya tidak kunjung muncul."
"Rumor kematian saya puluhan tahun lalu... itu karena saya memang sempat bertemu dengan kaum Lamdara. Tapi ayah Annerta menyelamatkan saya."
"Saya sangat mencintainya, sehingga saya memilih untuk membiarkan rumor kematian saya tetap hidup. Saya berganti identitas, menghilang dan menjauh dari segala hiruk-pikuk dunia Parinasta hanya untuk hidup bersamanya."
"Dan dimana, suami anda berada sekarang?"