Annerta dan Tara baru saja pulang dari Rumah Sakit Nusa Harapan. Saat mereka sedang berjalan di koridor sekolah, sosok pria dengan kepala botak yang sangat dikenali Annerta berdiri di sana. itu Dio, pria itu menoleh dan memberikan senyum manis.
"Hai, Tara. Hai, Annerta" sapa Dio.
"Hai, Dio. Aduh, lama banget nggak lihat kamu." Balas Tara dengan nada semangat dan manja.
"Kan kamu yang susah di temui, sekarang" sahut Dio, matanya kemudian beralih pada Annerta yang berdiri kaku di samping Tara.
"Annerta, boleh saya pinjam Tara sebentar?" Sambung Dio.
Annerta tidak langsung menjawab. Ia memberikan lirikan dingin ke arah Dio.
"Tara, jika urusanmu sudah selesai dengan pria botak ini, temui saya di perpustakaan." ujar Annerta dengan dingin.
Tanpa menunggu jawaban Tara, Annerta melangkah pergi, meninggalkan Tara dan Dio di tengah koridor itu.
***
Langkah Annerta terhenti saat sebuah bayangan menghadang jalannya di koridor menuju perpustakaan. Bu Sintia.
"Annerta, bisa bicara sebentar?" tanya Bu Sintia.
Annerta terdiam cukup lama. Matanya memindai sekeliling, memastikan wanita di hadapannya benar-benar sosok guru itu dan bukan jelmaan dari kaum Rupantara lagi. Setelah beberapa detik keheningan yang mencekam, Annerta mengangguk singkat. Ia mengikuti Bu Sintia menuju ruang musik.
Begitu pintu ruangan tertutup rapat dan dikunci, Annerta langsung memasang posisi siaga. Otot-ototnya menegang, siap untuk bereaksi terhadap serangan apa pun.
"Tenang, Annerta. Ibu hanya ingin memastikan tidak ada telinga selain kita di sini," ujar Bu Sintia sambil menarik sebuah kursi.
"Sebelumnya, aku mau menhilangkan batas antara guru dan murid disini, kamu bisa memanggilku dengan nama atau aku kamu" ujar Bu Sintia.
"Perkenalkan, aku Sintia Atmini. Kamu pernah mendengar nama itu?" Sambung Bu Sintia.
Annerta menyipitkan mata, otaknya bekerja cepat memutar memori masa lalu.
"Bu Tuti Atmini? Wali kelas saya di SMA 1 Kota. Anda putrinya?"
Bu Sintia tersenyum tipis, lalu duduk di depan Annerta.
"Benar. Aku putrinya."
"Apa tujuanmu di Santara?" todong Annerta tanpa basa-basi.
"Kau tahu, kan, Ibuku memiliki darah Vaya? Semuanya bermula saat aku baru pulang kuliah beberapa bulan lalu..."
~Flashback~
Sintia yang baru pulang dari kuliahnya, melangkah masuk ke rumah. Namun langkahnya terhenti saat melihat ibunya, Bu Tuti, tampak sangat gelisah di depan laptop. Lembaran-lembaran kertas tua berserakan di sekitar meja.
"Ibu sedang apa?" tanya Sintia heran, meletakkan tasnya.
"Sintia, tolong bantu Ibu," ujar Bu Tuti, suaranya terdengar mendesak.
"Cari tahu di mana Annerta Syafa sekarang. Bantu Ibu menemukan gadis ini. Dia tiba-tiba tidak kembali ke sekolah setelah semester baru ini."
Bu Tuti memutar laptopnya, menunjukkan sebuah foto satu kelas yang sudah dipotong. Fokusnya tertuju pada seorang gadis berkuncir satu dengan tatapan datar dan dingin ke arah kamera.
Sintia meletakkan minumannya, melangkah mendekat ke arah laptop sambil memperhatikan wajah gadis di foto itu.
"Kenapa dengan dia? Kenapa Ibu sampai segelisah ini?" tanya Sintia.
"Buku Vaya peninggalan ayahmu, Sintia..." Bu Tuti menyentuh sebuah buku tua bersampul usang di samping laptopnya.
"Ibu baru tahu, buku itu ditulis ayahmu bersama kaum Kaka peramal. Di dalamnya tertulis sebuah ramalan besar tentang hancurnya Parinasta."
Bu Tuti menatap Sintia dengan mata berbinar campur takut. "Semua tanda peninggalan ayahmu mengarah pada gadis ini. Annerta adalah Parinasta yang diramalkan. Dia yang akan menjadi penyelamat Parinasta, Sintia. Buku ini mengatakan... dialah satu-satunya yang dapat untuk membunuh Sanggeni."
Sintia mendengus pelan, menggelengkan kepala tak percaya.
"Ibu, sudahlah. Ayah meninggal karena terlalu sibuk dengan hal-hal ramalan konyol seperti ini kan?. Lamdaralah, Sanggenilah, apapun itu biarkan saja. Mereka itu cuma mitos!" bantah Sintia keras.
"Mereka nyata, Nak!" Bu Tuti mencengkeram lengan Sintia, meyakinkan.