Annerta : Part of Aquira

Ann Aizawa
Chapter #50

Dinding Santara

Di malam itu, sebuah denting piano mulai mengalir dari ruang musik. Bu Sintia duduk dengan anggun, jari-jarinya menari di atas tuts hitam dan putih, memainkan komposisi melodi Kembang Perawan. Suaranya merambat halus, seperti nyanyian tidur yang menghanyutkan, namun menyimpan getir yang dalam.

Santara seolah bergerak dalam sebuah fragmen film yang sunyi:

Di ruangannya, Bu Wudya berdiri mematung, matanya terpaku pada api unggun kecil yang berkobar di perapian yang ada di ruangannya. Di asrama laki-laki, Jovi duduk di tepi ranjang, menatap sebuah foto kusam yang memperlihatkan dirinya, Dio dan mendiang ayahnya. Sebuah potret keluarga yang kini hancur.

Sementara itu, Dio berdiri di depan cermin tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh bagian atasnya. Ia menatap pantulan dirinya, meraba bekas-bekas luka yang melintang di punggung dan dadanya, jejak-jejak rasa sakit yang tak akan pernah hilang. 

Jauh di Rumah Sakit Nusa Harapan, Naka duduk di samping ranjang Anin yang masih tak bergeming. Ia menggenggam jemari gadis itu dengan erat dan menciumi tangan kekasihnya itu.

Dan di koridor sekolah, dua bayangan bergerak dengan senyap. Annerta dan Tara menyelinap di bawah irama piano Bu Sintia yang masih bergema indah, menenangkan namun waspada.

Begitu sampai di perpustakaan, Annerta bergerak dengan pelan. Ia menyeret sebuah kursi, dibantu cahaya dari ponsel Tara yang bergoyang-goyang. Dengan gerakan yang pasti, Annerta menarik tuas tersembunyi di balik papan tulis besar. Suara mekanisme kuno berderit pelan, membuka jalan menuju Gupta Kaksha.

Setelah itu mereka turun melalui tangga, saat masuk ke ruangan yang berdebu itu, atmosfer di sana terasa berat, seperti ada ribuan rahasia yang tertimbun.

"Cari buku yang ada logo Lamdaranya" bisik Annerta pelan.

Annerta dan Tara mulai menyisiri rak demi rak yang dipenuhi sarang laba-laba. Tara bergerak dengan mulut yang ditutupi menggunakan bajunya, sementara Annerta membedah deretan judul buku dengan mata yang tajam. Cukup lama mereka mencari dalam keheningan yang mencekam, hingga tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundak Annerta.

Annerta tersentak, tangannya secara insting nyaris melakukan gerakan bela diri sebelum ia menyadari itu adalah Tara.

"Ketemu" bisik Tara sambil menunjukkan sebuah buku usang.

"Jika sekali lagi kamu mengagetkan saya, saya potong tangan kamu" ujar Annerta dingin, tatapannya menusuk membuat Tara menelan ludah.

"Ayo, cepat!" Sambungnya.

Mereka bergegas naik menuju tangga. Namun, dalam ketergesaan itu, kaki Annerta terpelintir di anak tangga yang licin. Tubuhnya terhempas, bahunya menghantam dinding dengan keras hingga kepalanya terbentur. Seketika, kesadaran Annerta padam. 

***

Saat Annerta membuka matanya. Ia tidak lagi berada di ruang bawah tanah yang pengap, melainkan di tepi Hutan Talas yang diselimuti kabut. Di sana, seorang gadis berdiri memunggunginya. Jubah merahnya berkibar pelan, rambut hitamnya terurai panjang menutupi punggung.

Gadis itu berbalik. Wajah yang sama, fitur yang identik, namun tatapan matanya memancarkan kegelapan yang pekat. Versi Lamdara dari dirinya sendiri.

"Lama tidak berjumpa, Annerta" ujar sosok itu dengan senyuman yang lebar,

"Tidak ada yang ingin menjumpaimu" sahut Annerta datar.

"Kau sudah membangkitkan Aquiramu? Tapi kau melupakan Lamdaramu?" tanya Annerta Lamdara sambil melangkah mendekat.

"Saya tidak sudi membangunkan sisi menjijikkan itu" balas Annerta sinis.

"Tidak bisa, Annerta. Kau harus membangkitkannya. Atau kekuatan itu akan datang sendiri dengan cara yang sangat menyakitkan," sosok itu berhenti tepat di depan Annerta. 

"Kau tahu? Caramu membangkitkan sisi Aquira di Sungai Talas, benar-benar menyiksaku. Energi Aquira itu terlalu kuat, ia seperti racun yang menolak segala bentuk kegelapan di sekitarnya,"

"Saat energi itu meledak dalam tubuhmu, aku hampir hancur dan jiwa Lamdaraku dipaksa keluar secara kasar. Kau mencoba membunuh separuh dirimu sendiri, Annerta." ujar Annerta versi Lamdara itu.

Annerta menatap dirinya yang lain dengan sorot mata yang tak gentar.

"Baguslah. Lantas kenapa kau tidak meledak saja?"

"Jangan bodoh, jika aku meledak, kau akan mati, Annerta." Annerta Lamdara menyipitkan mata. 

"Cepat latih sisi Lamdaramu. Percaya padaku kali ini. Ini demi menjaga kestabilanmu. Kau diciptakan dari dua kaum, jangan menganak-tirikan salah satunya."

"Jika kau terus menolakku, tubuhmu akan hancur karena peperangan dua energi yang tidak seimbang."

"Saya memilih satu di antara keduanya dan sisi iblis tidak akan pernah menjadi pilihan saya" ucap Annerta tegas.

"Baiklah. Kau memilih jalan yang salah, Annerta. Kau akan segera mendapatkan 'hadiah' dari keputusanmu ini."

~~~~

"Annerta?! Kamu sudah bangun?!" ucap Tara.

Suara panik Tara mulai terdengar di telinga Annerta. Pandangannya perlahan fokus, melihat wajah Tara yang pucat karena khawatir. Annerta masih tergeletak di anak tangga Gupta Kaksha.

Lihat selengkapnya