Di kantor kepala sekolah, suasana terasa begitu kaku. Annerta duduk dengan punggung tegak di kursi di depan meja besar, sementara Bu Wudya berjalan mondar-mandir dengan tangan terlipat di dada. Sebuah gestur tubuh yang menunjukkan kegelisahan luar biasa.
"Katakan pada Ibu," Bu Wudya berhenti melangkah, menatap tajam Annerta.
"Sejak kapan kamu tahu ada ruangan di balik papan tulis itu?"
"Setelah hari kunjungan orang tua," jawab Annerta tenang, suaranya sedatar es.
"Saya bertengkar dengan ibu saya, lalu menyendiri di perpustakaan dan menemukan ruangan itu secara tidak sengaja."
"Siapa yang memberitahumu?" desak Bu Wudya lagi, suaranya meninggi.
"Saya tahu sendiri. Saat itu saya sedang mengejar kupu-kupu yang hinggap di atas papan tulis dan tidak sengaja menyentuh tuasnya." Annerta berbohong dengan sangat lancar, meski matanya bergerak sekilas mengamati reaksi Bu Wudya.
Bu Wudya menggebrak meja pelan. "Ibu minta kamu jujur, Annerta!"
Annerta menatap balik mata Bu Wudya dengan tatapan dinginnya yang tajam.
"Jika Ibu bertanya hanya untuk mendengar apa yang ingin Ibu dengar, untuk apa bertanya pada saya?" balas Annerta dengan dingin.
Bu Wudya terdiam sejenak, lalu mengalihkan pandangan dari Annerta.
"Apa yang kamu temukan di sana?" tanyanya lagi.
"Buku" jawab Annerta singkat.
"Selain itu?"
"Memangnya ada hal lain di dalam sana selain tumpukan buku tua, Bu Wudya?" tanya Annerta balik. Pertanyaan itu terdengar seperti sindiran tajam yang membuat Bu Wudya membeku.
Keheningan yang tegang itu akhirnya pecah oleh suara dering bel masuk yang menggema di seluruh koridor sekolah. Bu Wudya memalingkan wajahnya, menatap ke arah lapangan sekolah melalui jendela besar.
"Sudah waktunya belajar. Silakan kembali ke kelas" ujar Bu Wudya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Annerta.
Annerta berdiri tanpa suara. Ia merapikan seragamnya sejenak, lalu melangkah keluar dari ruangan itu. Saat pintu terbuka, ia tersentak kecil. Ada Tara berdiri di sana menunggu Annerta.
"Tara? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Annerta.
"Aku tidak mungkin meninggalkan kamu sendirian menghadapi 'singa' di dalam sana, Annerta."
"Lagi pula, nanti kamu nangis kalau aku tinggal" sambung Tara sambil tertawa meledek Annerta.
"Saya hancurkan senyummu itu, jika kamu masih membahasnya" ucap Annerta dengan tatapan dinginnya ke arah Tara.
Sementara itu, setelah Annerta dan Tara menghilang di balik pintu, Bu Wudya tidak langsung beranjak. Ia masih berdiri di tengah ruangannya, matanya terpaku pada lapangan sekolah yang sunyi. Ingatannya terseret kembali ke kejadian semalam.
~Flashback~
Malam itu, Bu Wudya sebenarnya baru saja hendak menutup jendela kamarnya. Namun ia menangkap pergerakan di koridor asrama. Dari lantai atas, ia memperhatikan dua siswanya, yaitu Annerta dan Tara tampak berlarian dengan langkah senyap namun terburu-buru dari arah perpustakaan.
Firasatnya langsung bergejolak. Tanpa membuang waktu, Bu Wudya menyambar jaketnya dan bergegas turun.
Setibanya di perpustakaan yang gelap, ia menyalakan lampu. Cahaya neon yang berkedip sejenak kemudian menerangi sebuah kursi yang masih berada tepat di depan papan tulis besar. Kursi itu adalah saksi dimana rahasia yang selama ini ia jaga rapat-rapat telah dibongkar. Gupta Kaksha telah dijamah.
Dengan perasaan yang gusar, Bu Wudya mengeluarkan ponsel dari saku jubahnya. Ia menekan sebuah nomor dengan gerakan cepat.
"Halo, Pak Danu. Bisa ke perpustakaan sekarang juga?"
Keheningan malam di perpustakaan itu pecah ketika Pak Danu, muncul dengan wajah bantalnya.
"Iya, Bu? Ada masalah apa malam-malam begini?" tanya Pak Danu bingung.
Bu Wudya menunjuk ke arah papan tulis.
"Saya mau dinding di balik papan tulis itu ditutup pakai bata. Buatkan dinding yang tebal malam ini juga. Bisa?"
Pak Danu tertegun, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Waduh, jam segini toko bangunan sudah tutup, Bu. Mana ada semen dan bata jam satu pagi begini?"
Bu Wudya tidak menerima penolakan.
"Ada sisa bata di dekat gedung tua, tidak jauh dari Santara ini. Bapak ambil dan bangun tembok itu sekarang!,"
"Pak Lium dan Pak Bambang akan segera datang untuk membantu Bapak. Saya akan membayar gaji Bapak sebulan penuh hanya untuk pekerjaan satu malam ini." Sambung Bu Wudya.
Mata Pak Danu membelalak. Tawaran itu terlalu besar untuk ditolak.
"Segera, Bu. Sebelum anak-anak masuk, saya pastikan tidak akan ada yang bisa menembus dinding itu lagi."Ujar Pak Danu.