Annerta : Part of Aquira

Ann Aizawa
Chapter #52

Pamit

"Tidak ada. Saya ingin kalian fokus hanya pada satu rencana ini saja," jawabnya datar. 

"Rencana B hanya akan membuat kita lemah. Keberadaannya memberi celah bagi pikiran untuk tidak mengerahkan seluruh kemampuan secara maksimal. Begitu kalian berpikir tentang 'pelarian', kalian sudah kalah sebelum bertarung. Fokus yang terbagi adalah awal dari kehancuran."

Suasana seketika menjadi hening dan berat.

"Lalu aku bagaimana? Aku belum dapat bagian" protes Tara sambil mengangkat tangan, mencoba memecah ketegangan.

Annerta menoleh pada sahabatnya itu. Tatapannya sedikit melunak, meski ia segera membuang muka untuk menutupi rasa pedulinya.

"Tugasmu hanya membantu evakuasi teman-teman dan para guru. Pastikan mereka menjauh dari area Hutan Talas. Jelaskan juga kepada Bu Wudya soal peristiwa ini dan jangan sampai membuat teman-teman lainnya panik " ujar Annerta tegas.

"Hanya itu? Aku bisa bantu lebih, Annerta!"

"Tidak perlu," potong Annerta cepat. 

"Saya tidak ingin di semester depan kamu tidak kembali lagi" gumam Annerta pelan.

Tara tersenyum tipis dan mengangguk. Setelah selesai menyusun rencana yang tampak matang itu, Annerta melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan lewat.

"Tampaknya diskusi kita harus berakhir. Jangan memberi tahu siapa pun dulu. Hal itu hanya akan menciptakan kepanikan massal" Perintah Annerta. 

Teman-temannya mengangguk paham, lalu satu per satu mulai keluar dari ruang musik. Jovi keluar paling belakang. Namun langkahnya sempat berhenti, melihat Annerta yang sedang menggulung kembali kertas peta itu. Ia berjalan mendekat.

"Kita pasti berhasil, kan?" tanya Jovi pelan.

"Saya pasti berhasil, Jovi" jawab Annerta sambil menatap tajam mata Jovi.

"Iya, semoga kamu berhasil" ujar Jovi dengan senyuman manis yang tampak tulus di wajahnya, lalu setelah itu dia keluar menyusul teman-temannya.

Tara, menghampiri Annerta sambil tersenyum meledek. 

"Ciee.. Apa kamu memiliki rencana khusus untuk pria pemanah itu?"

"Mungkin saja ada" sahut Annerta datar. 

Matanya masih terpaku pada bayangan Jovi yang baru saja lenyap. Tara tersenyum lebar, merasa bahwa sahabatnya yang kaku ini selalu memiliki langkah yang tak terduga.

***

Di sebuah rumah kecil di tepi danau, Datruna berdiri mematung di depan sebuah peti mati kayu. Dengan tangan gemetar, ia perlahan membuka tutup peti itu. Di dalamnya, tidak ada sosok gadis cantik, melainkan tengkorak putih bersih milik Salsa yang terbaring kaku yang masih mengenakan seragam Santara yang sudah mulai menguning.

Di sekeliling tengkorak itu, Datruna telah menumpuk tumpukan kemewahan yang gila. Puluhan tas dan kotak sepatu bermerek berserakan. Ia mengambil sepotong gaun indah, lalu menyampirkannya di atas tulang belulang itu seolah sedang memakaikannya pada tubuh yang bernyawa.

"Salsa, lihat... saat kamu bangun nanti, kamu punya banyak pilihan" bisik Datruna dengan suara serak. Matanya yang cekung menatap kosong ke arah lubang mata tengkorak itu.

"Ayah sudah belikan baju-baju dari brand yang kamu pengen banget dulu. Ada Gucci, LV, Chanel, Prada... ini, lihat sepatu Nike terbaru. Maaf, dulu Ayah tidak bisa membelikan semua ini untukmu," lanjutnya sambil menata botol-botol skincare mahal dan pernak-pernik berbentuk kupu-kupu di sisi kepala Salsa.

Datruna mengusap permukaan tengkorak itu dengan lembut. Air matanya menetes, membasahi gaun. 

"Nanti pas kamu bangun, kamu minta apa saja Ayah pasti kasih. Apa saja, sebutkan. Ayah janji, Ayah tidak akan pernah bilang 'tidak' lagi untukmu, sayang." Sambung Datruna.

Tiba-tiba, keheningan itu terpecah oleh getaran ponsel di saku celananya. Datruna menyeka air matanya dengan kasar, lalu melihat layar ponsel. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak tersimpan:

Annerta sudah menyusun rencananya. Mari bertemu besok saat di Balai Kota Nusa.

Datruna menggenggam ponselnya begitu erat. Tatapan matanya yang merah kini berubah menjadi sangat tajam, menyimpan luka dan dendam yang mendalam.

"Annerta, kamu dan teman-temannmu akan hancur sebentar lagi" gumamnya pelan, suaranya terdengar seperti janji kematian yang dingin.

***

Hari Minggu adalah momen yang paling ditunggu. Bus sekolah Santara berhenti di area Balai Kota Nusa, disambut oleh keramaian manusia dan udara pagi yang segar. Siswa-siswa berhamburan turun dengan tawa yang lepas, menikmati kebebasan sejenak dari aturan sekolah yang ketat.

Annerta menjadi orang terakhir yang masih berada di dalam bus. Langkahnya terhenti di tangga bus, matanya yang tajam menyapu kerumunan ratusan orang di sana, mencari anomali di tengah kebisingan. Namun, saat kakinya menyentuh anak tangga terakhir, keseimbangannya goyah.

Sebelum tubuhnya menyentuh tanah, sepasang lengan yang kuat menangkap bahunya dengan sigap. Annerta tersentak, napasnya tertahan sejenak saat ia mendongak dan menemukan wajah Jovi hanya berjarak beberapa inci darinya. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti. Mereka beradu tatap di tengah hiruk-pikuk kota. Mata dingin Annerta bertemu dengan tatapan teduh Jovi. Tidak butuh lama untuk tersadar dari adegan romantis itu, Annerta segera menarik dirinya dari pegangan Jovi dan berdiri tegak

"Kamu terlalu banyak pikiran, Annerta? Baru kali ini aku melihatmu tidak fokus, bahkan pada pijakan kakimu sendiri," ujar Jovi dengan nada menggoda.

"Tampaknya begitu" ucap Annerta pelan.

"Terima kasih." Sambung Annerta.

Jovi sedikit terkejut. Alisnya terangkat satu. "Terima kasih? Kata yang sangat jarang. Sepertinya tembok es Annerta sudah mulai runtuh, ya?" ledek Jovi sambil tersenyum lebar.

Annerta tidak membalas. Ia hanya diam, enggan memandang mata Jovi lebih lama lagi karena merasa ada sesuatu yang aneh dalam dadanya. Tanpa kata, ia langsung meninggalkan Jovi yang masih berdiri di depan tangga bus, menatap punggungnya dengan senyuman manis yang misterius.

Lihat selengkapnya