Di sebuah bangsal Rumah Sakit Nusa Harapan yang sunyi, kelopak mata Anin bergerak gelisah. Detak jantungnya yang terekam di mesin pemantau mendadak meningkat cepat. Dengan satu sentakan napas yang tajam, Anin terbangun. Keringat dingin membanjiri keningnya saat ia berusaha bangkit dengan sisa tenaga yang ada.
"Mana Annerta?" tanya Anin dengan nada panik, matanya liar mencari sosok itu.
Arun, ayahnya, yang sejak tadi setia menunggu di samping ranjang segera menahan bahu putrinya.
"Kamu sudah bangun, Anin? Tenanglah, kenapa hal pertama yang kamu cari justru orang lain?"
"Mereka dalam bahaya, Ayah! Aku mimpi bahwa Annerta dan teman-teman di Santara sedang mengahadapi hal berbahaya" seru Anin dengan nada yang terbata-bata.
"Tenang, Anin. Jangan pikirkan orang lain dulu. Kondisimu belum stabil" bujuk Arun mencoba menenangkan.
Anin menepis pelan tangan ayahnya, sorot matanya berubah tajam dan penuh harga diri.
"Ayah, aku adalah seorang Vras. Mereka semua telah mempertaruhkan nyawa untuk menolongku, menghadapi bahaya yang seharusnya menjadi bebanku. Sekarang, seorang Vras harus membalas budi, meskipun nyawa menjadi taruhannya."
"Iya, tapi kamu baru saja sadar," bantah Arun cemas.
"Mereka pasti aman di sekolah. Itu hanya mimpi buruk karena kamu terlalu lama tertidur."
Anin menggeleng lemah. Ia tahu itu bukan sekadar mimpi. Jauh di dalam nadinya, insting serigalanya merasakan getaran kegelapan yang sedang bangkit.
***
Sementara itu, di kedalaman Hutan Talas, Annerta berdiri dalam kesunyian yang mencekam. Di bawah cahaya bulan yang hampir setengah itu, ia tampak sedang sibuk dengan darah kuda yang ia beli saat berada di Balai Kota Nusa.
Dengan teliti, Annerta mengikat darah kuda yang sudah berada dalam pelastik, pada ranting-ranting pohon oak area Hutan Talas.
Annerta mengingat satu catatan kecil yang tersembunyi di sudut halaman buku Vaya pemberian Bu Sintia : Efek buah Vritcha akan lumpuh seketika jika bersentuhan dengan darah kuda. Ini adalah langkah pencegahan. Jika Datruna kembali menggunakan buah terkutuk itu untuk melumpuhkan kemampuan mereka, Annerta sudah menyiapkan penawarnya.
Suara langkah kaki yang menginjak dedaunan kering memecah konsentrasinya. Jovi, Naka, Darma, Vanda dan Dafa muncul dari balik pepohonan.
"Annerta? Kamu sudah di sini dari tadi?" tanya Jovi.
"Tidak, saya baru saja sampai" jawab Annerta datar.
"Kalian siap?" lanjut Annerta.
Mereka semua mengangguk serempak. Tidak ada kata-kata tambahan, hanya tatapan penuh tekad yang tertuju pada kegelapan hutan yang semakin pekat di depan sana.
***
Di perbatasan Sungai Talas, suasana jauh lebih mengerikan. Kama berdiri dengan jubah kebesaran Lamdara yang berkibar ditiup angin malam yang panas. Di sampingnya, Datruna berdiri dengan napas tertahan, menatap peti mati berisi tengkorak Salsa yang diletakkan di atas tanah yang tandus.
Datruna menyaksikan pemandangan yang belum pernah ia bayangkan seumur hidupnya. Saat Kama menarik pedang peraknya dari sarung dengan denting yang nyaring. Tanpa ragu, Kama menggores telapak tangannya sendiri. Darah Lamdara yang panas menetes, membasahi bilah pedang yang kini mulai berpijar kemerahan.
Dengan satu hentakan kuat, Kama menghujamkan pedang berdarah itu ke perut bumi.
BRAKKK!
Tanah di bawah mereka terbelah, menciptakan rekahan besar yang memancarkan cahaya oranye kemerahan. Api abadi yang sangat panas berkobar di dalam celah itu, seolah pintu neraka baru saja terbuka. Secara ajaib, peti mati Salsa bergetar hebat. Tutupnya terlempar dan tengkorak itu perlahan bangkit, berdiri tegak seolah ditarik oleh kekuatan gaib, sebelum akhirnya terjun masuk ke dalam celah api tersebut.
"SALSAAA!" teriak Datruna histeris. Ia berlari maju, hendak melompat ke dalam celah untuk meraih tengkorak Salsa.
Namun, tanah itu menutup kembali dengan dentuman keras, meninggalkan kepulan asap dan aroma belerang yang menyengat. Datruna jatuh terduduk, menatap tanah yang kembali rata dengan wajah pucat.
"Pangeran... apa yang kau lakukan pada Salsa?" ucap Datruna dengan suara gemetar, antara amarah dan ketakutan yang luar biasa.
Kama hanya berdiri tegak, menatap dingin ke arah hutan, seolah sedang menunggu 'tamu' yang ia tahu akan segera datang.
"Tenanglah, David. Bukankah kau menginginkan kehidupan untuk putrimu?" suara Kama terdengar rendah dan berwibawa.
Datruna masih terpaku, napasnya memburu. Namun, sebelum ia sempat membalas, sebuah suara lembut memecah kesunyian dari arah kegelapan di belakang mereka.