Jovi berdiri di samping Kama, menatap Annerta yang tergeletak lemas di tanah dengan tatapan dingin. Jovi melempar busurnya ke tanah dengan gerakan meremehkan.
"Aku bukan lagi Kaka yang cacat seperti yang kalian pikirkan" seru Jovi dengan tawa kemenangan.
"Bukankah Naka dan Dafa sudah memperingatkanmu soal rencana B, Annerta?. Tapi, kau dengan angkuh mengatakan tidak memerlukan rencana itu."
Annerta yang semula tampak lemas, perlahan berdiri tegak. Wajahnya yang semula pucat kini kembali tenang. cukup tenang untuk seseorang yang dikhianati.
"Kau pikir saya sebodoh itu sampai tidak tahu soal pengkhianatanmu?" gumam Annerta. Matanya menajam.
"DIO!" teriak Annerta.
Semua orang, termasuk Kama dan Datruna, menoleh ke arah kegelapan. Dari balik rimbunnya pepohonan, Dio muncul dengan busur yang sudah ditarik penuh. Anak panahnya melesat, bukan ke arah musuh, melainkan ke arah kantung darah kuda yang sudah Annerta siapkan di dahan tertinggi.
CRAAAK!
Cairan merah kental itu tumpah, mengguyur tengah mereka. Seketika, aroma magis dari buah Vritcha luntur. Energi yang tadinya tersedot kini mengalir kembali ke tubuh teman-teman Annerta. Mereka bernapas lega, kekuatan mereka pulih seutuhnya.
"Biar saya beritahu satu hal, Jovi" ucap Annerta, melangkah maju.
~Flashback~
Malam itu, di kamar 076P, saat Annerta meminta Tara menghubungi nama-nama yang sudah dia siapkan untuk menyambut rencana besar mereka.
"Eh, tunggu. Kok Dio nggak diajak?" Tara mendadak melotot, merasa ada yang kurang.
"Dia antagonis dan tampak tidak cerdas. Tidak perlu membawanya. Lagi pula sudah ada perwakilan dari Kaum Kaka" jawab Annerta dingin.
"Jovi? Tapi dia kan tidak bisa bertarung, cuma mengandalkan panah dan ramalan. Kalian mau bertarung pakai ramalan?" protes Tara tidak setuju.
"Jovi cukup cerdas. Kita butuh seorang pemikir di sini, bukan hanya mereka yang mengandalkan serangan fisik" ucap Annerta telak.
"Tapi, Annerta..."
"Apa lagi, Tara?" tanya Annerta.
"Dio pernah mengatakan kalau Jovi itu manipulatif. Bahkan Jovi selalu membuat seolah-olah dia adalah korban dari Dio. Jovi memanfaatkan belas kasihan siapa saja agar semua orang menganggap buruk Dio, demi menutupi kekurangannya yang hanya sebagai Kaka peramal," lapor Tara dengan serius.
"Kamu boleh percaya atau tidak soal hal ini, tapi Dio bersikap keras terhadap Jovi karena dia ingin Jovi berhenti bergantung pada belas kasihan orang lain dan mulai berdiri di atas kakinya sendiri,"
"Dio tahu dunia ini kejam dan dia tidak ingin adiknya mati hanya karena terlalu lemah dan terlalu sibuk bersandiwara."
"Sebaiknya kamu punya rencana tambahan untuk ini. Temui Dio dan biarkan dia menjelaskan hal mungkin saja berguna untuk misi ini" saran Tara.
Annerta terdiam dan mulai mengingat satu hal yang baru saja ia alami saat bertemu dengan dirinya versi Lamdara.
"Kau tahu? Caramu membangkitkan sisi Aquira di Sungai Talas, benar-benar menyiksaku. Energi Aquira itu terlalu kuat, ia seperti racun yang menolak segala bentuk kegelapan di sekitarnya."
"Sepertinya, Jovi adalah kaki tangan Lamdara selain Datruna." Ucap Annerta tiba-tiba.
"Saya ingat saat dia mengarahkan anak panahnya ke arah saya dan saya terjatuh di Sungai Talas. Di sana, kemampuan Aquira yang begitu dahsyat menghempas Jovi," Annerta mulai merenung.
"Aquira selalu menolak energi gelap yang ada di sekitarnya dan Jovi sudah memiliki energi negatif itu." sambungnya sambil menatap tato Aquira yang sudah terukir di nadinya.
"Tato kamu sudah muncul. Pasti sisi Lamdaramu sudah mati di sana" ujar Tara pelan.
Annerta hanya diam, membiarkan keheningan menjawabnya.
Adalagi saat Annerta menyusun rencana dengan teman-temannya. Ia memandang Jovi dengan tatapan penuh curiga dan muak. Malam itu, setelah mereka selesai dari ruang musik, Tara dan Annerta diam-diam menghampiri semua teman-temannya kecuali Jovi untuk memberitahukan Rencana B secara personal, dari orang ke orang. Demi menghindari kecurigaan Jovi, Darma diajak Tara untuk keluar sebentar dan diminta jangan bicara apa-apa kepada Jovi soal Plan B ini.
Puncaknya adalah saat di Balai Kota Nusa. Ketika Dio menghampiri Tara yang baru saja keluar dari salon nail art, Annerta berdiri di depan mereka dan membocorkan rencana soal Sanggeni kepada Dio dan Annerta juga meminta Dio menjelaskan tentang sifat Jovi.
Dio mulai menceritakan bagaimana adiknya itu. Annerta dan Tara menyimak cerita Dio hingga selesai.
"Saya harap kau cukup kompeten soal ini" ujar Annerta pada Dio.
"Iya, Annerta. Tapi, aku minta satu hal. Jangan membunuh Jovi" ucap Dio dengan nada tulus yang tersirat.