Kama, Datruna, dan Jovi tiba di pusat bentrokan tepat saat Sanggeni mulai tersudut. Entitas iblis itu tampak menyusut di bawah aura murni pedang es Aquira. Dalam kepanikan, Sanggeni kembali melesat masuk ke dalam raga Salsa untuk mencari perlindungan. Melihat Sanggeni terdesak, Kama tidak tinggal diam. Ia melesatkan pedang apinya ke arah Annerta.
Pedang es Annerta terayun menyambut pedang api milik Kama. Kama meliuk rendah, ujung pedang Annerta hanya berjarak beberapa milimeter dari wajahnya, lalu Kama mendorong pedang Aquira itu dengan kuat. Setelah itu Kama memutar tubuhnya, membalas dengan tebasan yang mengeluarkan api, namun Annerta berhasil menepisnya.
Di saat yang sama, Salsa bangkit dan menyabetkan pecut kalajengkingnya. Annerta terkepung. Api di depan dan racun di belakang. Dengan satu hentakan kuat, Annerta menendang dada Kama hingga sang pangeran terpental jauh menghantam pepohonan. Tanpa membuang detik, Annerta membalikkan badan, memusatkan seluruh energi Aquira pada ujung pedangnya untuk menusuk jantung Salsa yang kini menjadi inang Sanggeni.
"Selesai kau, Sanggeni!" gumam Annerta.
Datruna, yang berdiri tak jauh dari sana, sadar bahwa pedang Aquira dalam wujud sempurna akan melenyapkan jiwa siapa pun yang disentuhnya. Ia tidak bisa membiarkan hal itu, karena itu juga akan menghancurkan Salsa.
"TIDAK!" Datruna melompat, menjadikan tubuhnya tameng di depan Salsa.
JLEB!
Pedang es itu menembus dada Datruna. Darah segar merembes, membeku seketika di bilah es biru itu.
"DAVID...!" teriak Kama histeris melihat tangan kanan setianya tumbang.
Namun, kekejaman belum berakhir. Salsa, yang berdiri tepat di belakang Datruna, justru menyeringai. Ia menempelkan tangannya ke punggung Datruna, bukan untuk menolong, melainkan menyedot sisa-sisa jiwa pria itu. Perlahan, raga Datruna yang gagah menyusut, keriput muncul di sekujur kulitnya, memperlihatkan wujud asli Datruna versi tua yang selama ini ia sembunyikan.
"Kau membunuhnya. Itu membuktikan kau memang memiliki darah seorang Lamdara," bisik Salsa dengan suara serak. Ia membuang jasad Datruna yang sudah kosong seperti sampah.
"Kama, beri aku santapan dari orang-orang Parinasta ini!"
Tepat saat itu, Naka, Vanda, Dio, Darma dan Dafa muncul dari balik semak dengan napas tersengal.
"Tepat sekali mereka datang" ujar Kama sambil menyeka darah di sudut bibirnya. Ia bangkit, melempar pedang apinya ke angkasa sambil merapalkan mantra kuno.
Pedang itu berubah menjadi rantai api yang membara, Rantai Nagakasha. Kama menghentakkan ujungnya ke tanah, seketika rantai itu menjalar dan melilit kuat tubuh Salsa yang tengah bersila, melakukan semedi untuk menerima pasokan energi.
Dari tubuh Salsa, rantai-rantai api itu memelesat keluar bak tentakel haus darah, menyambar Naka dan kawan-kawannya. Rantai itu melilit tubuh mereka dengan kencang, mengangkat dan menarik mereka ke atas hingga mereka melayang di udara dalam posisi tak berdaya.
Annerta mencoba menebas rantai itu dengan pedangnya , namun energinya memantul hebat, membuat tangannya bergetar.
"Annerta, biar kuberitahu soal Rantai Nagakasha ini" ujar Kama sambil berjalan tenang menuju ke arah Salsa.
"Ini adalah senjata Ayah kita. Senjata yang sanggup menangkal serangan pedang Aquira. Namun pria bodoh itu memilih membiarkan ibumu menusuknya dengan pedang itu demi cinta." jelas Kama.
"Kau tidak bisa melakukan apa pun sekarang, Annerta!. Biarkan Sanggeni menyelesaikan makannya dan kau akan menjadi kunci terakhir untuk membuka pintu penjara Lamdara!. Hahaha!"
Raungan kencang tiba-tiba memecah hutan. Anin dalam wujud serigala alpha-nya melesat dan langsung menerjang Kama, hingga terjatuh.
Tara juga baru sampai di lokasi. Tara memandang teman-temannya yang mulai terhisap oleh Salsa pun mengaga. Kekuatan Salsa sudah semakin membesar. Bahkan bayangan Sanggeni di belakang tubuhnya mulai meninggi.
Anin yang melihat itu, mencoba menerjang Salsa berkali-kali, tapi setiap kali ia mendekat, aura hitam Sanggeni menghempaskannya ke tanah sampai tubuh serigalanya bersimbah darah.
"Sudah cukup, Anin!" teriak Annerta.
Hati Annerta hancur melihat teman-temannya mulai lemas. Nyawa mereka perlahan-lahan tersedot oleh rantai itu. Dengan tangan gemetar, Annerta menurunkan egonya. Dia berjalan pelan ke arah Salsa yang sedang bersemedi menyerap energi.
"Lepaskan mereka. Bukan mereka yang ada di rencanamu" ucap Annerta dengan suara yang terdengar sangat letih dan kalah.
Annerta berdiri tepat di depan Salsa, matanya berkaca-kaca menatap teman-temannya yang sekarat.
"Saya menyerahkan diri saya. Pindah ke tubuh saya, bukankah itu yang kau inginkan, Sanggeni?"
Salsa membuka matanya. Rantai Nagakasha yang melilit teman-teman Annerta seketika mengendur dan membuat mereka jatuh ke tanah. Naka, Vanda dan yang lainnya terjatuh lemas, tak berdaya.
"Hahaha! Akhirnya kau menyerah juga, Annerta" Sanggeni menyeringai penuh kemenangan melalui bibir Salsa.
"Buang pedang itu terlebih dahulu!" Perintah Sanggeni.
"JANGAN, ANNERTA!" teriak Tara dari kejauhan.
Annerta melemparkan Pedang Aquiranya, pedang itu berdenting di atas tanah. Setelah itu, Annerta merentangkan kedua tangannya, ia mulai pasrah dan memejamkan matanya.
Namun, di tengah keputusasaan itu, Anin kembali berubah wujud menjadi manusia. Dengan sisa tenaga yang ada, ia merayap dan membantu kawan-kawannya yang lemas karena jeratan rantai Nagakasha. Saat melihat Annerta dalam posisi terbuka, Anin teringat sesuatu.
~Flashback~
Setelah perdebatan sengit dengan ayahnya, Anin yang sudah mengenakan jaketnya pun, siap untuk melangkah menuju Santara. Namun, tepat di depan pintu keluar, Bu Sintia datang dengan wajah cemas.
"Anin, Oh Thank God, waktu tepat."
"Annerta berpesan, jika nanti kau bangun, bawa kalung kupu-kupu Salsa. Kalung itu adalah benda yang ia bawa terakhir saat dia hidup" ujar Bu Sintia dengan nada mendesak.
"Apa yang harus saya lakukan dengan kalung itu, Bu?" tanya Anin.
"Kau lemparkan kalung itu kepada Annerta dan setelah kalung itu ada ditangannya, Dio akan memecahkan kalung itu jika sudah sampai ke dada Salsa" jelas Bu Sintia cepat.
"Itu adalah rencana Annerta untuk membunuh Sanggeni. Annerta tahu Sanggeni membutuhkan perantara inang untuk keluar dari Lamdara dan dia menggunakan raga Salsa. Jika kalung itu hancur, Sanggeni tidak akan punya tempat untuk bernaung lagi."
"Tapi bagaimana saya tahu, kapan waktunya yang tepat untuk melemparnya?"
"Saat Annerta membentangkan kedua tangannya di depan Sanggeni. Itu adalah kode rahasianya. Ibu tahu kamu belum pulih, tapi teman-temanmu membutuhkanmu, Anin" ujar Bu Sintia.
Anin yang meletakan kalung kupu-kupu salsa itu di saku seragamnya yang tergeletak di sofa, langsung mengambilnya.
***.
"Annerta, tangkap!" teriak Anin sambil melemparkan kalung kupu-kupu milik Salsa.
Annerta merentangkan tangannya, bersiap menangkap benda penentu tersebut. Namun, Jovi yang sejak awal mengawasi pergerakan mereka dengan waspada, langsung menyadari ada yang tidak beres.
Sebelum kalung itu sempat menyentuh telapak tangan Annerta, Jovi dengan kecepatan kilat melesatkan sebilah bulu Kaka miliknya.